Jumat, 18 Juli 2025

Arunika


Pixabay. com 


Arunika,

pelita cahaya pertama,

menjelma rindu yng lama tertahan,

menyimpan gelap dalam dekap malam,

menggenggam harap dalam sunyi yang diam.

 

Kau hadir,

lebut tanpa suara,

cukup menggugah jiwa yang lama hampa.

Langit jingga menyulam pagi,

dengan nada hangat penuh harmoni.

 

Arunika,

engkau adalah janji

bahwa setelah gelap,

terbitlah terang dengan berani.

Bahwa luka semalam

tak akan tinggal selamanya.

 

Andai aku malam yang beku,

engkau adalah fajar yang setia menunggu.

Dalam kedatanganmu yang sederhana,

kutemukan alasan untuk tetap percaya.

 

Penulis : Muhammad Alif Syarifudin


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cahaya Sang Empu

  Dalam kegelapan, sang empu merintih Dibalut rasa takut, kepingan luka menetes dari matanya Pandangan telah terbuka Namun rasanya tak kunju...