Minggu, 04 Oktober 2026

DI ANTARA DIAM DAN SEMOGA



Cinta tidak selalu berupa pernyataan yang heboh atau pelukan yang menuntut kepemilikan. Sering kali, ia justru hadir dalam diam dan menjadi dialog panjang yang terus tersimpan di kepala tanpa pernah terucap. Cinta tidak butuh pengakuan dari dunia luar. Ia justru hidup dan menghidupi dirinya sendiri, merawat debar jantungnya dalam diam. Sendirian, tanpa pernah meminta balasan.


Bagi Kinara, diam bukan berarti ketiadaan suara, melainkan sebuah bahasa baru yang ia pelajari secara otodidak selama beberapa waktu terakhir yang ia sendiri tidak tahu kapan pastinya. Entah baru beberapa hari terakhir, atau justru hatinya telah lebih dulu melakukannya jauh sebelum ia sempat menyadari?


Seperti biasa, suasana kelas begitu hening. Para santri sibuk memahami isi sebuah kitab sebelum menghadapi ujian beberapa menit lagi. Namun, satu kejadian kecil mampu mengacaukan fokus Kinara. Tanpa sengaja, matanya bertemu dengan sepasang mata milik lelaki yang tengah berdiri di depan kelas dan mengawasi para santri. Seorang santri senior yang dipercaya oleh para ustaz untuk membantu mengajar, menggantikan salah seorang ustaz ketika sedang berhalangan.


Kinara buru-buru menunduk, kembali melihat kitabnya. Ia membaca satu baris yang sama hingga beberapa kali, namun tidak ada satu kata pun yang dapat ia pahami, membuatnya menghela napas gusar.


"Allah... kenapa jantungku berisik banget, ya? Ya Allah, rasanya kayak lagi dikejar-kejar anjing. Padahal tadi cuma nggak sengaja saling natap, kan? Hal yang biasa," batin Kinara bergemuruh.


Satu tangannya terkepal lemah, Kinara memukul pelan kepalanya. Fokusnya masih terbelah. Bayangan temu tatap yang tidak disengaja tadi masih menguasai seluruh isi pikirannya. Untuk sesaat, Kinara hanya diam sambil memandangi sebuah kitab yang terbuka di hadapannya. Kini, ia memilih untuk menenangkan pikirannya lebih dulu.


Setelah dirasa lebih tenang, Kinara mengambil napas dalam. "Ayo fokus belajar dulu, Kinara. Bentar lagi ujiannya dimulai. Bismillah..." Kinara kembali menata pikirannya.


Ujian kali ini terasa sedikit lebih berat bagi Kinara. Bukan karena tidak memahami isi kitab yang diujikan, tetapi karena fokusnya terbagi, membuatnya beberapa kali keliru saat menjawab soal, meskipun pada akhirnya ia bisa kembali menemukan jawaban yang benar ketika membaca ulang soal.


Kinara keluar dari ruang kelas dengan pikiran yang masih berkecamuk. Langkahnya membawanya sampai pada teras masjid. Ia duduk termenung, pandangannya lurus menatap beberapa santri yang berlalu-lalang di halaman pesantren. Namun, pikirannya kembali mengingat hal kecil yang sempat mengacaukan konsentrasinya di dalam kelas.


"Ah, nggak usah mikirin hal yang nggak jelas, Kinara. Tadi cuma nggak sengaja saling tatap, kok. Nggak ada yang aneh. Itu wajar. Dia kan mengawasi semua santri di dalam kelas tadi. Pokoknya kamu harus fokus di ujian kali ini, biar besok bisa kuliah di kampus impian kamu!" Kinara tersenyum simpul, mengalihkan pikirannya.


Pembelaan diri yang dibangun oleh Kinara sore itu sempat bertahan cukup kokoh. Setidaknya sampai keesokan harinya, ketika semesta kembali mengujinya lewat sebuah kebetulan yang sangat tidak tahu diri.


Siang itu, koridor menuju perpustakaan santri putra yang batasnya hanya dipisahkan oleh sekat taman yang cukup sepi. Kinara berjalan setengah berlari sambil memeluk tiga kitab tebal yang harus segera ia kembalikan.


Konsentrasi Kinara sepenuhnya tertuju pada jalanan berbatu di bawahnya, sampai sebuah bayangan tinggi melangkah berlawanan arah dengannya di seberang pembatas taman.


Itu... Hasbi, pemilik sepasang mata yang mampu mengalihkan seluruh fokusnya di dalam kelas kemarin sore.


Langkah Kinara mendadak melambat tanpa disadari. Jantungnya, yang kemarin sore sudah ia tenangkan dengan susah payah, kini kembali berdegup kencang.


Ketika jarak mereka hanya tersisa beberapa langkah, Hasbi menoleh sedikit. Berbeda dengan tatapan tegas saat mengawasi ujian kemarin, kali ini raut wajah santri senior itu tampak lebih santai, lebih teduh. Hasbi mengangguk kecil sebagai isyarat sopan yang biasa dilakukan sesama santri saat berpapasan.


"Mari, Mbak Kinara," sapa Hasbi singkat. 


Kinara tertegun sedetik sebelum buru-buru menundukkan pandangannya ke arah sandal jepit yang ia pakai. "Ngg-gih, Mas," jawabnya lirih, suaranya sedikit gemetar.


Interaksi itu tidak sampai tiga detik. Hasbi terus melangkah lurus tanpa menoleh lagi. Namun bagi Kinara, tiga detik itu sudah cukup untuk membuat tembok penyangkalan yang ia bangun semalaman perlahan mulai retak.


Langkah Kinara terhenti sejenak setelah Hasbi menjauh beberapa meter. Ia mengeratkan pelukannya pada kitab-kitab di dadanya, mencoba menyembunyikan debar yang perlahan muncul.


Kinara diam sejenak, menarik napas tanpa sadar. "Wangi kasturi..." gumamnya lirih, namun buru-buru menggeleng. "Eh! Astaghfirullah... sadar, Kinara!" gerutunya, memukul kepalanya pelan. Ia kembali berjalan tergopoh-gopoh menuju perpustakaan.


Dan begitulah Kinara menghabiskan hari-hari berikutnya yang terjebak dalam siklus melelahkan antara menyangkal sebuah rasa dan merutuki dirinya sendiri. Namun, penyangkalan itu perlahan terus terkikis ketika kebetulan-kebetulan yang lain selalu datang tanpa diduga.


Kebetulan berikutnya datang seminggu setelahnya, di bawah atap aula pesantren yang riuh oleh persiapan acara khataman. Kinara tengah sibuk menyusun teks pembawa acara ketika ia mendengar suara bariton yang sayangnya kini mulai familier di telinganya. Hasbi tengah berdiri beberapa meter dari tiang aula, memberikan instruksi kepada santri-santri junior dengan pembawaannya yang tenang.


Kali ini, tidak ada temu tatap. Kinara hanya diam di tempatnya dan membiarkan matanya mencuri pandang, terlindung oleh beberapa santri yang sibuk menata kursi. Ia mulai memperhatikan bagaimana cara Hasbi tersenyum tipis saat menghargai kerja keras adik kelasnya. Hatinya tanpa sadar menghangat.


Namun, rasa hangat itu perlahan surut, digantikan oleh kegelisahan yang tiba-tiba menguasainya.


Kinara terdiam cukup lama. "Gimana kalau dia udah punya someone special di hidupnya...?"


Pikiran itu datang tanpa permisi. Jemarinya tanpa sadar meremas pulpen yang dipegangnya. Hasbi adalah santri senior yang cerdas, berwibawa, dan dihormati. Kinara tahu, ada banyak sekali santriwati yang mengagumi bahkan menyukai  Hasbi. Rasanya tidak mungkin jika belum ada seseorang yang mengisi hatinya. Atau bahkan mungkin... sebuah nama yang sudah disiapkan oleh kyai untuk bersanding dengannya di masa depan.


Kenyataan itu menampar Kinara cukup keras. Mendadak dadanya terasa sesak oleh sebuah rasa kehilangan yang aneh. Padahal ia tahu, ia bahkan belum pernah memiliki apa pun.


“Kenapa rasanya jadi kayak ketindihan batu segede gaban begini, sih? Sesak banget,” monolognya dalam hati.


Di tengah riuhnya aula, Kinara tenggelam dalam dunianya sendiri. Ia akhirnya menyadari sesuatu. Ketika ia telah memilih untuk diam, maka ia harus siap dengan kemungkinan bahwa Hasbi mungkin telah lebih dulu menyukai orang lain.


Rasa takut itu akhirnya menemukan titik damai pada malam Senin, saat gerimis membasahi tanah sekitar pesantren. Kinara yang baru saja selesai menyetorkan hafalan surah Al-Mulk, berjalan di koridor terbuka yang langsung menghadap ke halaman masjid.


Di seberang sana, di bawah temaramnya lampu teras, ia melihat Hasbi berjalan menembus gerimis, melindungi sebuah kitab suci dalam pelukannya agar tidak basah terkena air.


Sejenak, Kinara menghentikan langkahnya. Memandangi punggung Hasbi yang perlahan menghilang di balik pintu utama aula. Rasa takut yang menyiksanya selama beberapa hari terakhir ini perlahan mulai berganti menjadi sebuah rasa ikhlas.


Udara malam terasa dingin. Namun, Kinara justru kembali merasakan ketenangan yang sempat menghilang dari hatinya selama beberapa hari terakhir. Ia akhirnya berhenti melawan dirinya sendiri.


"Nggak apa-apa, Kinara," bisiknya dalam hati. "Sedih itu wajar. Tapi kamu tetap nggak punya kuasa tentang dia. Dia punya hak untuk nentuin pilihannya sendiri. Dan... harusnya nggak masalah kalau sampai kapan pun posisi kita cuma seperti ini—sebatas santri senior yang mengawasi, dan santri biasa yang diawasi. Rasa ini tumbuh di hatiku. Jadi, biar aku saja yang bertanggung jawab untuk menjaganya tetap suci."


Kinara menengadah, menatap langit malam yang masih menurunkan rintiknya. "Dari awal, aku menyangkal terus. Tapi setiap aku menyangkal... aku malah makin kepikiran," gumamnya, hampir tersenyum. "Mungkin... seperti ini rasanya menyukai seseorang?" Ia terkekeh sesaat sebelum kembali menatap ke depan.


Kinara mengambil napas perlahan, "Allah... jaga aku dan perasaan ini supaya tetap suci. Jangan sampai aku kelepasan. Tuntun aku untuk merawat perasaan ini tanpa menyalahi aturan-Mu. Dan... ingatkan aku selalu supaya aku nggak mencintai seseorang melebihi cintaku pada-Mu."


Kinara menunduk, memandangi jemarinya yang saling bertaut di balik mukena. Perlahan ia membiarkan senyum yang paling tulus terbit di bibirnya. Ia sadar, membiarkan nama Hasbi untuk menetap di hatinya adalah keputusan yang hening. Namun, ia tidak peduli bagaimana akhir kisahnya nanti. Baginya, rasa yang terlanjur ada ini tidak perlu dihapus. Cukup disimpan rapat dalam hati, menjadi satu rahasia kecil yang tidak perlu diketahui oleh siapa pun.


Tanpa pernah Kinara ketahui, di seberang tembok pembatas asrama, ada hati lain yang juga menjaga rahasia dengan cara yang sama. Keesokan paginya, saat aroma khas tanah basah sisa hujan semalam masih tertinggal, Hasbi berdiri di koridor kantor asaatidz setelah mengembalikan sebuah kitab yang sempat ia pinjam pada seorang ustaz.


Pembawaannya tetap seperti biasa yang selalu diam dan tenang. Matanya menatap lurus ke arah halaman, menyaksikan para santri yang berjalan beriringan menuju aula. Namun, di antara kerumunan itu, pandangannya tanpa sadar terhenti pada Kinara yang berjalan paling belakang sambil menunduk.


Untuk beberapa saat, Hasbi sempat mengamati dalam diam. "Mataku selalu menemukannya tanpa perlu mencari."


Hasbi sudah menyadari perubahan itu sejak awal. Ia bukan sekadar mengagumi ketekunan seorang santriwati. Hasbi sadar, belakangan ini ada satu nama yang hampir setiap saat muncul di pikirannya. Kinara.


Hasbi tahu rasa itu ada. Ia tidak menyangkal. Tapi, sebagai seorang santri, Hasbi paham betul ada batas yang harus dijaga. Ia tidak ingin perasaannya membuatnya kehilangan kendali dan bersikap yang tidak semestinya kepada Kinara.


Hasbi mengalihkan pandangannya dari halaman, lalu berjalan menuju masjid untuk menunaikan salat duha.


"Jika memang takdirnya untukku, jagalah dia. Jika bukan, matikan rasa ini sebelum menjadi fitnah," bisik Hasbi dalam hati, singkat dan tenang. "Biar sisanya menjadi urusan-Mu."


Helaan napas pendeknya menyertai langkah itu, sarat akan kepasrahan. Hasbi kembali menyerahkan segala debar dan ketidakpastian itu kepada Pemilik Hati. Ia tidak butuh jawaban dari Kinara, tidak juga butuh ruang untuk mengungkapkan. Baginya, membiarkan perasaan itu layu atau tumbuh adalah urusan Allah. Tugasnya hanya memastikan bahwa diamnya ini tidak menodai kehormatan gadis itu sedikit pun.





Oleh: Imaniatul Faizah

Mahasiswa penerima KIP-K angkatan 2025


Minggu, 20 September 2026

DATANGNYA SI MERAH YANG TAK SELALU SAMA


Hari-hari merah tak pernah

Sama bagi setiap perempuan,

Ada yang menjalani seperti

Hari biasanya.


Ada yang harus menahan nyeri

Di perut langsingnya, sakit kepala,

Tubuhnya yang lelah,

Punggung yang terasa pegal.


Adapun hatinya yang mudah

Sensitif karena perubahan kadar,

Hormon estrogen dan progesteron

Yang perlahan menurun drastis.


Ada pula yang hanya merasa 

Sedikit tidak nyaman,

Tetapi memilih tetap diam

Tanpa berkoar-koar sana sini.


Setiap tubuh memiliki cara

Sendiri-sendiri untuk bercerita,

Karena rasa sakit tak pernah 

Pantas untuk dibanding-bandingkan.



Waktu hari-hari itu datang,

Semoga selalu ada waktu untuk 

Bisa beristirahat dan pengertian

Tanpa perlu banyak penjelasan.


Ada kata mutiara sederhana yang

Mampu bisa untuk menguatkan,

Semoga hari ini yang sedang

Dijani terasa lebih ringan.


Sebab haid bukan hanya sekedar

Tentang keluarnya darah tetapi,

Tentang tubuh yang harus terus bekerja

Dan perempuan yang tetap melangkah.


Meski sedang membawa perjuangannya

Tidak semua perempuan di dunia ini

Bisa seperti dirinya yang harus

Beraktivitas seperti hari-hari biasanya.



Oleh : Siti Atikotul Farikah

Mahasiswa penerima KIP-K angkatan 2025

Sabtu, 05 September 2026

ES KRIM, MIE AYAM, DAN HARI JUMAT

 



Suatu hari, Liora merenung sendirian di kamar tidurnya. Ia merasa kesepian dan tidak memiliki teman untuk diajak mengobrol. Dalam keheningan itu, pikirannya melayang ke masa kecil. Ia tersenyum kecil ketika menyadari bahwa dirinya ternyata masih sama seperti dulu, masih menyukai es krim dan mie ayam.

Kenangan itu membawanya pada hari yang selalu ia tunggu setiap minggu, yaitu hari Jumat. Saat masih kecil, Jumat adalah hari yang paling istimewa baginya karena pada hari itulah ia bisa bertemu dengan ayahnya.

Dalam lamunannya, Liora membayangkan kembali percakapan yang sering terjadi antara dirinya dan sang ayah.

"Ayah, nanti ke sini nggak?" tanya Liora kecil melalui telepon.

"Iya, nanti Ayah ke sana. Kamu mau Ayah bawakan jajan apa?" jawab Ayah.

"Hmm, apa ya, Yah? Bingung."

"Mau es krim? Sate? Atau yang lain?"

"Benar banget! Liora mau es krim, Yah!"

"Sudah Ayah duga. Kamu pasti maunya es krim. Mau yang apa? Paddle Pop atau yang lain?"

"Enggak mau Paddle Pop, ah. Liora kurang suka. Mau Magnum yang ada kacangnya, ya, Yah."

"Baiklah. Mau beli apa lagi? Es krim saja?"

"Iya, es krim saja."

Tak lama kemudian, Ayah tiba di rumah kakek dan nenek Liora dengan motor Supra kesayangannya.

"Yeay! Es krim-nya datang! Ayah, mana es krim-nya? Liora mau es krim!" seru Liora dengan wajah penuh kegembiraan.

"Tunggu dulu, Li. Ayah baru sampai. Bukannya tanya kabar Ayah, malah tanya es krim," ujar Ayah sambil tertawa.

"Nah, itu kan sudah Liora tanyakan, Yah. Tanyanya es krim-nya mana," jawab Liora sambil terkekeh.

"Ada-ada saja kamu. Es krim terus yang dipikirkan."

"Biarin, Yah. Soalnya enak. Daripada Paddle Pop, Liora nggak suka."

"Kamu tahu saja mana yang enak. Mau beli mie ayam juga nggak?"

"Mau banget!"

"Kalau begitu, habiskan dulu es krim-nya. Nanti kita jalan-jalan naik motor lalu beli mie ayam."

"Siap, Yah!"

Beberapa saat kemudian, es krim itu pun habis.

"Ayah! Ayo beli mie ayam! Es krim-nya sudah habis!" teriak Liora penuh semangat.

"Ayo!" jawab Ayah sambil menyalakan motor.

Liora segera naik ke motor.

"Gasss, Ayah!"

"Li, mau beli mie ayam dulu atau jalan-jalan dulu?"

"Beli mie ayam dulu, dong!"

"Baiklah, ayo."

Di sepanjang perjalanan menuju warung mie ayam, Liora tidak berhenti berbicara. Ia menceritakan apa saja yang dilihatnya di jalan, mulai dari kendaraan yang lewat, pohon-pohon di pinggir jalan, hingga hal-hal yang terkadang sulit dimengerti. Ayah hanya bisa tersenyum dan sesekali menggelengkan kepala.

Bagi Ayah, jika Liora tiba-tiba diam, itu berarti ia tertidur. Namun, karena jarak menuju warung mie ayam tidak terlalu jauh, hampir mustahil Liora tertidur di perjalanan.

Sesampainya di warung mie ayam, Ayah bertanya, "Mau makan di sini atau dibungkus, Li?"

"Seperti biasa, dibungkus saja, Yah."

"Baik."

Penjual mie ayam menghampiri mereka.

"Mau pesan berapa, Pak?"

"Dua porsi, Pak. Seperti biasa, yang satu tanpa ayam."

Penjual langsung tertawa.

"Pasti yang tanpa ayam buat Liora, ya? Masih belum suka ayam, Li?"

"Belum, Pak," jawab Liora sambil tersenyum malu.

"Aneh memang kamu. Mie ayam kok tanpa ayam," canda penjual.

Liora hanya tertawa kecil.

Beberapa menit kemudian, pesanan mereka selesai.

"Ini, Pak. Dua porsi mie ayam. Yang satu tanpa ayam," kata penjual sambil tersenyum ke arah Liora.

"Terima kasih, Pak. Berapa semuanya?" tanya Ayah.

"Dua puluh ribu rupiah, Pak."

"Ini pas, Pak."

"Baik, terima kasih."

Setelah itu, Liora dan Ayah segera pulang untuk menikmati mie ayam bersama di rumah.

Liora memang anak yang unik sejak kecil. Ia tidak suka ayam meskipun sangat menyukai mie ayam. Ia juga tidak suka makan di tempat dan selalu meminta makanannya dibungkus untuk dibawa pulang. Masih banyak kebiasaan lain yang menurut orang-orang terdengar aneh, tetapi itulah Liora.

Lamunan itu perlahan berakhir. Liora kembali tersadar bahwa semua kenangan tadi hanyalah potongan masa kecil yang tersimpan rapi di dalam ingatannya. Namun, satu hal yang tidak pernah berubah adalah rasa bahagia yang selalu muncul setiap kali ia mengingat hari-hari Jumat bersama sang Ayah.

Kini, Liora sudah tumbuh dewasa. Banyak hal dalam dirinya yang berubah seiring waktu. Jika dulu ia selalu memesan mie ayam tanpa ayam karena tidak menyukainya, sekarang ia sudah menikmati mie ayam lengkap dengan potongan ayamnya. Meski begitu, ada satu hal yang tidak pernah berubah, kecintaannya pada es krim. Setiap kali menikmati es krim atau semangkuk mie ayam, kenangan tentang Ayah selalu hadir di benaknya.

Baginya, hari Jumat bukan sekadar tentang es krim atau mie ayam. Hari Jumat adalah tentang waktu, perhatian, dan kasih sayang seorang ayah yang selalu berusaha membuat putrinya bahagia. Kenangan itu mungkin telah berlalu, tetapi akan selalu hidup di dalam hatinya.

Karena itulah, hingga hari ini, setiap kali hari Jumat datang, Liora selalu tersenyum. Sebab di balik hari itu tersimpan kenangan sederhana yang begitu berharga, perjalanan dengan motor Supra, es krim favorit, semangkuk mie ayam, dan kebersamaan dengan Ayah yang akan selalu ia rindukan. 

 

Penulis : Lutfia Marisatul Ula 

Mahasiswa KIP-K angkatan 2024

Sabtu, 08 Agustus 2026

TAKDIR YANG TERPILIH

    


        "Belajar yang sungguh-sungguh, ya! Kalau Luna dapat peringkat pertama di kelas, nanti Ayah belikan boneka beruang yang besar sekali! Seperti yang Luna inginkan,”
begitu kata sang ayah kepada Luna kecil, si bungsu. Tiap kali menjelang hari kenaikan kelas, ayahnya selalu menawarkan berbagai macam barang maupun makanan yang tengah diinginkan oleh Luna. Tanpa sadar, sepenggal kalimat itulah yang membuat gadis bernama lengkap Kaluna Pramudya Maheswari terinspirasi untuk menjadi juara kelas di setiap tahunnya.

    Bumi terus berotasi di orbitnya tanpa henti, Luna kecil mulai tumbuh dengan baik. Bukan hanya tubuhnya yang berkembang, pola pikirnya pun perlahan mulai terbentuk. Dari Luna kecil yang selalu berusaha menjadi juara kelas hanya untuk mendapatkan 'hadiah' dari orang tuanya, berubah menjadi Luna dewasa yang mulai mempertanyakan tujuannya sendiri.

    Benarkah Luna berjuang sedemikian rupa untuk menjadi juara kelas hanya karena menginginkan hadiah semata dari ayah dan ibunya? Atau justru... keinginan untuk menjadi juara kelas itu perlahan muncul dalam hatinya untuk membalas semua peluh yang telah dikorbankan orang tuanya untuknya? Akankah itu sebuah keinginan yang suci? Atau memang hanya mengharapkan hadiah dari orang tua?

    Memasuki masa aliyah, Luna mulai menyadari tujuan hidupnya sendiri. Belajar dengan tekun bukan semata-mata untuk mendapatkan peringkat di kelasnya, namun juga untuk membanggakan kedua orang tuanya. Bujuk rayu hadiah dari sang ayah kini tak lagi dinanti. Yang teramat dinanti hanyalah senyum kedua orang tuanya yang berhasil ia ciptakan ketika menjadi juara kelas. Dan hal tersebut selalu berhasil diusahakannya. Hingga puncaknya, ketika ia menjadi lulusan terbaik di sekolahnya, yang mampu membuat ayahnya menangis haru saat menghadiri acara tersebut.

    Namun di balik itu semua, ada perjuangan yang tak pernah padam. Perjuangannya, orang tuanya, dan keluarganya. Air mata tak henti-hentinya mengalir di tiap sujud, memohon segala kemudahan di saat dahsyatnya badai yang berulang kali datang menghantam.

    Saat memasuki era akhir kelas 12, Luna mulai berperang dengan keinginannya sendiri. Sepertinya, semua anak kelas 12 yang ingin melanjutkan pendidikannya mengalami hal serupa ketika jalur pendaftaran ke perguruan tinggi mulai dibuka. Bimbang. Luna dihadapkan dengan keputusannya yang tidak pernah benar-benar yakin. Ada satu nama perguruan tinggi yang begitu didambakannya. Namun... ada sisi pesimis yang perlahan menggerogoti keyakinannya.

    "Ibu... Luna ingin melanjutkan kuliah di sini," katanya, sambil menunjukkan gambar sebuah perguruan tinggi di ponselnya. "Tapi ini salah satu TOP PTKIN, Ibu. Luna nggak yakin... banyak banget saingannya. Mereka juga pasti pintar semua. Gimana kalau Luna nggak lolos?" imbuhnya, terdengar sangat putus asa.

    Sedangkan sang ibu? Diam sejenak. Tidak menghakimi keresahan yang tengah dirasakan oleh anak gadisnya. "Kenapa tidak mencoba dulu, Nak? Bukankah kita tidak akan pernah tahu bagaimana hasil dari sebuah harapan jika kita tidak berusaha untuk menggapainya?" tutur ibunya, teramat halus dan menenangkan. Namun... tidak cukup untuk mengusir keraguan dalam hati sang anak, Luna.

    Perlahan Luna menunduk, penuh pertimbangan. "Ibu, biaya kuliah di sana tidak murah. Sangat banyak. Luna selalu bergantung pada ayah dan ibu. Tapi untuk kali ini... Luna tidak yakin, Ibu. Cukup Luna selalu melihat ayah dan ibu bekerja banting tulang hanya untuk pendidikan Luna. Ayah dan ibu selalu berangkat ke ladang sebelum matahari terbit, pulang saat sudah gelap..." ujarnya pelan. "Luna sudah mencoba untuk mendaftar beasiswa, tapi belum ada yang berhasil," imbuhnya, putus asa.

    Obrolan singkat bersama sang ibu sore hari itu sama sekali tidak menemukan titik terang yang mampu menenangkan hatinya. Hari-harinya dilalui dengan penuh pertimbangan. Semua guru di kelas silih berganti memberikan rekomendasi perguruan tinggi dan program pendidikan yang sekiranya harus dicoba olehnya.

    Banyak guru dan teman yang bertanya tentang program pendidikan apa yang ingin diambilnya. "Aku ingin di PAI," jawabnya setiap kali ada yang bertanya. Reaksi dari guru dan temannya juga beragam. Namun, tidak sedikit yang merekomendasikan program pendidikan lainnya. Ya, banyak yang tidak setuju dengan keputusan Luna.

            "Kenapa kamu nggak ambil prodi hukum? Kamu kan biasa debat sama guru PKN."

            "Kamu nggak mau coba di pendidikan Bahasa Arab, Lun? Kamu kan pinter itu."

            "Kenapa nggak di fakultas dakwah? Komunikasi kamu kan bagus."

    Setidaknya, itu merupakan sebagian kecil dari beberapa respon teman dan gurunya terhadap jawaban yang selalu Luna berikan, tidak pernah ada yang mendukung selain kedua orang tuanya. Bahkan, para paman dan bibinya tidak ada yang benar-benar mendukung. Semua justru berucap, “Jadi guru itu nggak enak. Naik jadi PNS di zaman sekarang juga susah. Ujung-ujungnya cuma jadi guru honorer? Cari jurusan yang lapangan kerjanya memadai dan gajinya enak. Jangan cuma mikir keinginan kamu aja. Kamu itu hidup di desa, bukan di kota.”

    Goyah? Sempat. Hati Luna semakin bimbang. Sibuk berpikir, sedangkan pendaftaran sudah berjalan beberapa hari, membuat pikirannya semakin berkecamuk. Ditambah ia juga harus mempersiapkan diri untuk ujian akhir kelulusan.

    Banyak sekali air mata yang mengalir di masa itu. Bahkan, Luna mengeluh setiap harinya. Namun, dukungan dari ayah dan ibunya mampu membuatnya untuk tetap bertahan dan terus mencoba. Hingga keputusan akhirnya, merelakan TOP PTKIN yang menjadi tujuannya sejak awal, beralih pada PTKIN lain. Namun, PTKIN itu juga masih impiannya, hanya saja tidak sampai pada TOP PTKIN.

    Sebelum mendapat dukungan penuh... ibunya pun sempat menolaknya. Tidak mengizinkannya karena perguruan tinggi impiannya itu teramat jauh dari rumah. Berkali-kali meyakinkan sang ibu, Luna berhasil. Ibunya mengizinkannya, meski diawali dengan pertentangan yang membuatnya sampai menangis.

    Jam dinding terus berdetak tanpa melambat, hari-hari pun berlalu. Tiba di hari pengumuman pendaftaran PTKIN, Luna tak henti-henti memohon pada Sang Kuasa. Hampir putus asa, mengingat banyaknya orang yang juga mendaftar di perguruan tinggi tersebut, terlebih di program pendidikan pilihannya.

    Pukul 15.00 WIB. Waktu yang senantiasa dinanti oleh para pejuang perguruan tinggi, begitu pun dengan Luna pada saat itu. Gemetar. Tangannya tidak mampu menahan ponsel. Rasanya teramat gugup. Tidak berani untuk melihat hasilnya. Takut mengecewakan orang tuanya.

    Menarik napas dalam-dalam. Mencoba tenang. Perlahan, telunjuknya bergerak. Menyentuh layar ponselnya yang senantiasa menyala sejak 30 menit yang lalu. Telunjuknya berhasil menyentuh layar. Warna hijau memenuhi penglihatannya. Senyumnya merekah. Sampai menangis. Namun, tertahan sejenak. Bukan pilihan pertama. Melainkan pilihan kedua. Ada rasa kecewa yang diam-diam merayap. Namun, Luna kembali berkali-kali meyakinkan bahwa itu merupakan pilihan terbaik menurut Sang Kuasa.

    "Ayah! Ibu! Luna diterima!" teriaknya, berlari menghampiri ayah dan ibunya di kebun belakang rumah. Air matanya tertahan di pelupuk. Masih ada rasa bahagia, meski rasa kecewa sedikit terbesit. "Tapi di prodi pilihan kedua..." lanjutnya, lirih.

      Respon ayah dan ibunya? Sama. Menangis. Bahagia. Berkali-kali kening Luna dikecup penuh kasih. "Nggak masalah. Pilihan pertama ataupun kedua, kalau Luna yakin, ayah dan ibu nggak masalah. Yang terpenting, Luna yakin kalau Luna bisa menjalaninya. Ayah dan ibu di sini selalu mendukung dan mengusahakan yang terbaik untuk Luna," tutur ayahnya, menyemangati hati yang sempat goyah sebelumnya.

     Ketenangan kembali menyelimuti hatinya setelah mendengar beberapa nasehat dari ayah dan ibunya. Senyum tulusnya kembali merekah. "Ayah, Ibu, terima kasih, ya. Nggak masalah semua orang menentang keinginan Luna. Yang terpenting, ayah dan ibu selalu mendukung Luna."

     Ketika tiba waktunya untuk merantau ke luar kota demi cita-cita yang teramat didambakannya, di situlah hal terberat dalam hidup Luna. Selalu bersama kedua orang tua sejak kecil, diberikan kasih sayang, bahkan dimanja, membuat Luna merasa tak kuasa untuk berpisah selama berbulan-bulan lamanya.

      Riuhnya stasiun sama sekali tidak mampu mengalihkan perasaan Luna. Dipeluknya ayah dan ibunya dengan sangat erat. Air matanya tak berhenti mengalir, meski keretanya sudah tiba. Dengan sangat berat hati, pelukan itu terlepas saat ayahnya menarik diri dengan perlahan.

    "Luna di kota orang itu niatnya belajar. Jadi, belajar yang serius. Selalu minta sama Allah, supaya Luna selalu dijaga dan dibimbing sama Allah. Luna di sana nggak sendirian. Allah selalu ada sama Luna. Ayah dan ibu di sini juga selalu berdoa yang terbaik untuk Luna. Jaga diri Luna baik-baik, ya. Jangan sampai telat makan!" ucap ayahnya, membuat Luna semakin tidak bisa berhenti menangis.

     Langkahnya terasa amat berat, meninggalkan kedua orang tuanya di belakang, berjalan menuju kereta yang sudah menanti untuk membawanya menjauh dari rumah, ke kota orang yang amat asing untuknya.

    Di dalam gerbong kereta yang dipenuhi oleh orang asing, Luna tenggelam dalam lamunannya sendiri. Pikirannya masih tertuju pada orang tuanya. Asing dan tidak nyaman. Itulah yang ia rasakan. Hatinya meraung-raung, teringin kembali pada pelukan kedua orang tuanya di rumah. Namun, ada mimpi yang harus ia kejar.

    "Halo, Dik!" sapaan dari seseorang membuyarkan lamunannya. Luna menoleh. Melihat seorang perempuan yang terlihat tiga tahun lebih tua darinya, duduk di sebelahnya. "Halo, Kak," balasnya, menyapa.

      Berawal dari sapaan singkat itu, berujung pada obrolan panjang yang mengisi tiap detik Luna di dalam kereta. Yang sebelumnya terasa asing, kini perlahan berubah menjadi rasa nyaman. Ia merasa tidak sendirian, ditemani seorang perempuan yang senantiasa mengajaknya bercerita, seolah tahu jika ini pertama kalinya ia pergi jauh dari rumah. Luna merasa hangat. Hingga perpisahan itu harus terjadi di stasiun terakhir, berbeda arah tujuan.

      Kini, Luna kembali sendiri. Jemarinya bergerak cepat di atas ponsel. Memesan ojek online. Satu menit hingga lima menit. Tak kunjung mendapatkan. Hatinya mulai resah. Takut. Di kota besar ini, Luna sendiri. Tidak akan ada yang membantunya. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing, pikirnya.     

        Hatinya kian resah. Luna hampir menangis. Namun, seorang pria paruh baya dengan jaket hijaunya lebih dulu menghampiri. "Mbak, belum dapat ojek, ya? Boleh saya bantu?" tawar bapak yang berusia kisaran 50 tahun. Santun dan lembut tutur katanya.

        Diam. Luna tidak langsung menjawab. Ada rasa takut yang semakin melanda. Takut jika itu hanya penipuan. Takut jika bapak itu berniat buruk padanya. Karena di kota orang ini, Luna sendiri. Tidak ada keluarga yang bisa membantunya. Belum selesai dengan pikiran negatifnya, bapak itu kembali berucap.

      "Insyaallah tidak ada apa-apa, Mbak. Malam-malam begini memang sulit mendapatkan ojek di stasiun. Saya antarkan saja, ya? Bayar seikhlasnya saja nggak masalah. Saya bantu bawa barang-barangnya, ya." Bapak itu mengambil satu per satu tas yang Luna bawa. Sedangkan Luna? Mengikuti. Meski masih ada sedikit rasa ragu, kini Luna mulai berusaha untuk percaya.

        Sepanjang perjalanan menuju kos, tidak ada keheningan. Bapak baik hati itu terus mengajaknya berbicara, bercerita, hingga Luna melupakan segala kekhawatirannya. Luna mulai percaya. Kebaikan hati bapak itu teramat membantunya di saat ia baru pertama kali menginjakkan kakinya di kota orang.

      "Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih..." berulang kali Luna ucapkan rasa terima kasihnya ketika sampai di depan kos. Ia amat bersyukur karena selalu dipertemukan dengan orang-orang baik. Mulai dari seorang perempuan yang mengajaknya berbincang di dalam kereta, hingga pria paruh baya yang membantu mengantarnya dari stasiun sampai di kos.

      Langkah pertama memasuki kamar kos... air matanya kembali luruh, teringat rumah. Hunian itu terasa sangat asing untuknya. Tidak ada ayah dan ibunya di dalamnya. Hanya Luna. Sendirian. Berjam-jam Luna menghabiskan waktu untuk menangis. Ditambah, rasa kecewanya masih tersisa. Luna teramat ingin masuk di jurusan pertama yang ia pilih. Namun takdir berkata lain. Pilihan kedua.

        Menarik napas dalam-dalam, Luna mencoba untuk ikhlas sepenuhnya. "Allah... aku yakin, ini yang terbaik menurutmu. Maka, bantulah aku untuk menerima semua takdir dari-Mu dengan hati yang luas, Allah..." gumamnya, teramat lirih, dengan bibir yang bergetar karena tangisan.

        Teringat segala motivasi yang diberikan oleh ayah dan ibunya, perlahan Luna mencoba untuk tetap bangkit, tetap kuat di atas pilihannya sendiri. Tak ingin berlarut-larut dalam perasaan kecewa. Ia selalu mengusahakan untuk ikhlas.

          Hari-hari pertama memasuki dunia kampus... Luna kembali merasa sendiri. Tidak ada teman yang benar-benar dekat. Semua terasa asing. Namun, Luna kembali mencoba, tak ingin tenggelam dalam rasa sepi dan sendiri. Mencoba bersosialisasi, keluar dari zona nyamannya sebagai seorang yang introvert. Berkenalan dengan temannya. Beberapa kali berinteraksi, Luna mulai nyaman. Begitu-pun yang lain, merasa nyaman dengan interaksinya.

        Di malam yang senyap, Luna terdiam di kamarnya, menatap langit-langit kamar. Pikirannya kembali berkembang. Rasa ikhlas itu perlahan muncul di sela padatnya jadwal kuliah yang dijalani.

        "Mungkin kalau aku nggak di sini, jalan takdirku nggak akan seperti ini. Bisa saja di tempat lain tidak jauh lebih baik daripada di kota ini," gumamnya dengan senyum, ketika ikhlas itu mulai mengisi hati yang sebelumnya dipenuhi kecewa akan takdir.

        Kota, perguruan tinggi, fakultas, dan jurusan yang dijalaninya memang bukan sepenuhnya yang Luna impikan. Namun, di takdir inilah Luna dipertemukan dengan berbagai hal baik yang mampu mengubah sudut pandangnya terhadap takdir Tuhan. Karena bisa jadi, ia tidak menemukan ketenangan seperti ini di tempat lain.

           Sejatinya, Tuhan tidak akan menempatkan hamba-Nya dalam keadaan yang terlampau sulit untuk dijalani. Semua tergantung pada cara pandang masing-masing saat menghadapi berbagai jalan takdir yang diberikan oleh Tuhan. Rasa kecewa membuat semuanya terasa amat berat. Namun saat ikhlas itu sudah datang, semuanya akan terbuka perlahan, tentang apa yang sudah Tuhan siapkan di balik takdir itu.

 

“Ikhlas dalam menjalani takdir yang tidak sepenuhnya kita inginkan memang sulit. Namun ketika ikhlas itu mulai tumbuh, perlahan semuanya akan terasa lebih bermakna.”


Penulis : Imaniatul Faizah

Mahasiswa KIP-K angkatan 2025

Senin, 20 Juli 2026

Usaha Seorang Ibu

 

      

      Perkenalkan dia perempuan yang bernama Aisyah Khumairah, saat ini dia masih duduk dibangku kelas 11 SMA. Umur-nya saat ini menginjak 17 tahun, dia lahir di kota Tulip. Aisyah sekolah di SMA Negeri 1 Kamboja. Sekolah ini merupakan salah satu SMA di kota itu yang lumayan dekat dengan rumah Aisyah. Dan dia juga kebetulan tinggal dipondok pesantren yang bernama pondok pesantren Al-Muk’min, Salah satu pondok Al-Qur’an yang dekat dengan SMA nya. 

      Angin malam yang cukup cerah dan tidak mendung, tadi sekitar pukul 19.47 Ais sedang makan di kamar bersama teman-teman nya. Tiba-tiba Ais mendengar suara diluar samar-samar kaya suara, ibu-nya yang sedang memanggil namanya.

“Mba.....mba.....mba Ais.....”

      Ais kira itu hanya suara halusinasi yang ia rasa, soalnya Ais sudah 1 bulan belum bertemu dengan ibu maupun keluarganya, eh ternyata suara itu bener adanya. Suara yang memanggil Ais tadi itu suara ibu-nya, Ais pun langsung bergegas buru-buru memakai hijabnya dan jalan keluar menuju tangga untuk turun. Ais langsung turun tangga untuk menemui ibunya dan langsung mencium tangan-nya, lalu ia bertanya pada ibunya. 

“Ibu kesini sama siapa?.Bapak ikut tidak?. Nyetir motor sendiri atau diboncengin?.”

Pertanyaan bertubi-tubi dari Ais sambil ngajak ibunya naik, sampai ibunya bingung mau jawab yang mana dulu.

“Ais kebiasaan kalau tanya tu ya satu-satu, ibu bingung jawab yang mana dulu.” Jawab ibu-nya

“Hehehe... ma’af ibu.” Jawab Ais sambil menyengir.

“Ibu kesini sendiri. Bapak tidak ikut karena ada keperluan. Dan ibu kesini bawa sepeda listrik!.”

“Sepeda listriknya siapa Bu, perasaan Dirumah kendaraan nya cuma motor doang?. Apa Bapak yang beli Bu?.”

“Ibu ke sini pakai sepeda listriknya kakek, kakek baru beli kemarin.”

      Tiba-tiba Ais langsung bengong sambil bertanya-tanya di benaknya, Ais bengong karena pikirannya yang mengkhawatirkan ibunya yang kesini sendirian apalagi malam-malam tanpa ngajak bapak-nya, mana kendaraan-nya pake sepeda listrik, dimalam hari yang minim pencahayaan. Masalahnya desa Aisyah ke pondok nya tidak deket-deket banget loh, itu membutuhkan waktu sekitar 15 - 20 menit itu pun kalau naik motor. 

Di tengah-tengah bengongnya Ais, tiba-tiba ibu nya bersuara lagi, 

“Mba ini tadi barang yang ibu bawa toh jatuh terus, ibu dikit-dikit berhenti gara-gara barang bawaan-nya pada jatuh.”

      Ais hanya bisa tersenyum agar bisa buat ibunya tidak curiga kalau di situ air mata Ais hampir keluar, untung ia bisa tahan agar air mata itu tidak keluar. Ais mencoba bertanya kepada ibunya, “Kenapa ibu gak bawa motor sendiri aja, kan dirumah ada motor ibu juga kan bisa naik motor?.”

      Ibunya Ais lalu tersenyum dan berkata, “Motornya sedang ada dibengkel mba, ban-nya lagi bocor.”

      Setelah lama berbincang lama sama Ais, akhirnya ibunya Ais pun pamitan, “Yaudah ibu mau pulang dulu ya mba, nanti adek nyariin ibu soalnya tadi ibu pas mau kesini adek gak ada karena dia udah berangkat ngaji.”

“Iya ibu gak papa, hati-hati di jalan ya bu.” Ais pun langsung mengantar ibunya turun tangga sampai dekat pintu gerbang kompleks putri.


TAMAT!!!!!


Penulis : Siti Atikotul Farikah


Mahasiswi KIP-K angkatan 2025 



Selasa, 14 Juli 2026

Bawa Perubahan Positif, Tim DHARMAKIP UIN Walisongo Sukses Tuntaskan Pengabdian 4 Hari di Kendal



KENDAL, 12 Juli 2026 - Komitmen untuk mengabdi dan membawa dampak nyata bagi masyarakat sukses diwujudkan oleh tim mahasiswa DHARMAKIP (Dharma Aksi FORMAKIP) UIN Walisongo Semarang. Selama empat hari berturut-turut, sejak tanggal 9 hingga 12 Juli 2026, mereka menggelar aksi pengabdian masyarakat yang komprehensif di Dusun Duren, Desa Jatirejo, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Rangkaian kegiatan DHARMAKIP tahun ini dirancang secara terstruktur untuk menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari pendidikan, sosial, hingga keagamaan. Berikut adalah kilas balik perjalanan pengabdian selama empat hari di Kendal:

Hari Pertama (Kamis, 9 Juli 2026). Rangkaian diawali dengan pembukaan resmi bersama perangkat desa dan tokoh masyarakat. Pada hari pertama ini, tim berfokus pada kegiatan Sapa Warga dengan tujuan membangun kepercayaan (trust) antara mahasiswa dengan warga desa sejak awal. Melalui acara ini, mahasiswa tidak hanya datang sebagai tamu yang numpang bikin program, tapi memosisikan diri sebagai bagian dari keluarga mereka.

Hari Kedua (Jumat, 10 Juli 2026). Mengusung semangat edukasi, tim menggelar proker Cek Kesehatan Gratis, Sosialisasi di MI NU 46 Winong, serta belajar bersama di Posko. Melalui program Cek Kesehatan, tim DHARMAKIP berkomitmen meningkatkan kualitas hidup warga melalui deteksi dini penyakit. Sementara itu, lewat Sosialisasi di MI juga Belajar Bersama, tim hadir untuk menyalakan api semangat belajar dan memberikan edukasi dasar bagi generasi penerus di Desa Jatirejo. Antusiasme warga mulai terlihat dari banyaknya peserta yang hadir dan aktif berpartisipasi.

Hari Ketiga (Sabtu, 11 Juli 2026). Menjadi puncak kegiatan sosial, di mana tim melaksanakan Aksi Bersih Masjid dan Posko. Selain fokus pada kebersihan lingkungan melalui Aksi Bersih Masjid dan Posko, tim DHARMAKIP juga memberdayakan masyarakat melalui Sosialisasi Limbah Jagung untuk menjaga ekologi desa, yang kemudian dilanjutkan dengan Pelatihan Kerajinan Tangan. Melalui Pelatihan Kerajinan Tangan, anak-anak diajak untuk mengasah keterampilan motorik halus dan membebaskan imajinasi mereka ke dalam karya seni yang kreatif, sekaligus melatih fokus dan kesabaran sejak dini. Sebagai penutup rangkaian kegiatan, Pengajian Umum digelar untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus menjadi sarana siraman rohani yang membawa keberkahan dan rasa syukur bagi seluruh warga desa serta tim DHARMAKIP.

Hari Keempat (Minggu, 12 Juli 2026). Kemeriahan memuncak saat warga diajak menjaga kebugaran lewat Senam Pagi, yang kemudian dilanjutkan dengan Lomba Warga dan Doorprize penuh keseruan untuk memupuk solidaritas. Seluruh rangkaian kegiatan ini akhirnya ditutup secara resmi melalui Acara Penutupan sebagai momen pamitan sekaligus ungkapan terima kasih tulus dari tim DHARMAKIP kepada seluruh masyarakat desa. Sebagai wujud apresiasi yang mendalam, momen penutupan juga diwarnai dengan penyerahan kenang-kenangan kepada pihak perangkat desa. Seluruh rangkaian agenda pengabdian ini kemudian disempurnakan dengan evaluasi keseluruhan kerja tim guna mengukur keberhasilan program sekaligus menjadi catatan pembelajaran berharga bagi performa tim ke depan.

Ketua Pelaksana DHARMAKIP, Yumela Sukmawati menyatakan bahwa durasi empat hari ini memberikan pelajaran berharga tentang arti ketulusan yang sesungguhnya. “Kami datang sebagai mahasiswa, namun pulang sebagai bagian dari keluarga warga Kendal. Penerimaan yang begitu hangat dari para sesepuh, ibu-ibu, hingga anak-anak di sini adalah hadiah terbesar bagi kerja keras tim kami,” ujarnya.

Kepala Dusun Duren, Romli Mubbarak juga menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi para mahasiswa. Kehadiran tim DHARMAKIP dinilai memberikan warna baru dan motivasi positif bagi kemajuan serta kerukunan warga setempat.

Melalui rilis ini, seluruh tim DHARMAKIP mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh pihak yang telah membantu kelancaran acara dari hari pertama hingga akhir. Harapannya, sinergi dan manfaat yang telah tertanam selama empat hari ini dapat terus berlanjut bagi kesejahteraan warga Kendal.




Penulis
Farisa Alifatun Nasywa

DI ANTARA DIAM DAN SEMOGA

Cinta tidak selalu berupa pernyataan yang heboh atau pelukan yang menuntut kepemilikan. Sering kali, ia justru hadir dalam diam dan menjadi ...