Minggu, 20 September 2026

DATANGNYA SI MERAH YANG TAK SELALU SAMA


Hari-hari merah tak pernah

Sama bagi setiap perempuan,

Ada yang menjalani seperti

Hari biasanya.


Ada yang harus menahan nyeri

Di perut langsingnya, sakit kepala,

Tubuhnya yang lelah,

Punggung yang terasa pegal.


Adapun hatinya yang mudah

Sensitif karena perubahan kadar,

Hormon estrogen dan progesteron

Yang perlahan menurun drastis.


Ada pula yang hanya merasa 

Sedikit tidak nyaman,

Tetapi memilih tetap diam

Tanpa berkoar-koar sana sini.


Setiap tubuh memiliki cara

Sendiri-sendiri untuk bercerita,

Karena rasa sakit tak pernah 

Pantas untuk dibanding-bandingkan.



Waktu hari-hari itu datang,

Semoga selalu ada waktu untuk 

Bisa beristirahat dan pengertian

Tanpa perlu banyak penjelasan.


Ada kata mutiara sederhana yang

Mampu bisa untuk menguatkan,

Semoga hari ini yang sedang

Dijani terasa lebih ringan.


Sebab haid bukan hanya sekedar

Tentang keluarnya darah tetapi,

Tentang tubuh yang harus terus bekerja

Dan perempuan yang tetap melangkah.


Meski sedang membawa perjuangannya

Tidak semua perempuan di dunia ini

Bisa seperti dirinya yang harus

Beraktivitas seperti hari-hari biasanya.



Oleh : Siti Atikotul Farikah

Mahasiswa penerima KIP-K angkatan 2025

Sabtu, 05 September 2026

ES KRIM, MIE AYAM, DAN HARI JUMAT

 



Suatu hari, Liora merenung sendirian di kamar tidurnya. Ia merasa kesepian dan tidak memiliki teman untuk diajak mengobrol. Dalam keheningan itu, pikirannya melayang ke masa kecil. Ia tersenyum kecil ketika menyadari bahwa dirinya ternyata masih sama seperti dulu, masih menyukai es krim dan mie ayam.

Kenangan itu membawanya pada hari yang selalu ia tunggu setiap minggu, yaitu hari Jumat. Saat masih kecil, Jumat adalah hari yang paling istimewa baginya karena pada hari itulah ia bisa bertemu dengan ayahnya.

Dalam lamunannya, Liora membayangkan kembali percakapan yang sering terjadi antara dirinya dan sang ayah.

"Ayah, nanti ke sini nggak?" tanya Liora kecil melalui telepon.

"Iya, nanti Ayah ke sana. Kamu mau Ayah bawakan jajan apa?" jawab Ayah.

"Hmm, apa ya, Yah? Bingung."

"Mau es krim? Sate? Atau yang lain?"

"Benar banget! Liora mau es krim, Yah!"

"Sudah Ayah duga. Kamu pasti maunya es krim. Mau yang apa? Paddle Pop atau yang lain?"

"Enggak mau Paddle Pop, ah. Liora kurang suka. Mau Magnum yang ada kacangnya, ya, Yah."

"Baiklah. Mau beli apa lagi? Es krim saja?"

"Iya, es krim saja."

Tak lama kemudian, Ayah tiba di rumah kakek dan nenek Liora dengan motor Supra kesayangannya.

"Yeay! Es krim-nya datang! Ayah, mana es krim-nya? Liora mau es krim!" seru Liora dengan wajah penuh kegembiraan.

"Tunggu dulu, Li. Ayah baru sampai. Bukannya tanya kabar Ayah, malah tanya es krim," ujar Ayah sambil tertawa.

"Nah, itu kan sudah Liora tanyakan, Yah. Tanyanya es krim-nya mana," jawab Liora sambil terkekeh.

"Ada-ada saja kamu. Es krim terus yang dipikirkan."

"Biarin, Yah. Soalnya enak. Daripada Paddle Pop, Liora nggak suka."

"Kamu tahu saja mana yang enak. Mau beli mie ayam juga nggak?"

"Mau banget!"

"Kalau begitu, habiskan dulu es krim-nya. Nanti kita jalan-jalan naik motor lalu beli mie ayam."

"Siap, Yah!"

Beberapa saat kemudian, es krim itu pun habis.

"Ayah! Ayo beli mie ayam! Es krim-nya sudah habis!" teriak Liora penuh semangat.

"Ayo!" jawab Ayah sambil menyalakan motor.

Liora segera naik ke motor.

"Gasss, Ayah!"

"Li, mau beli mie ayam dulu atau jalan-jalan dulu?"

"Beli mie ayam dulu, dong!"

"Baiklah, ayo."

Di sepanjang perjalanan menuju warung mie ayam, Liora tidak berhenti berbicara. Ia menceritakan apa saja yang dilihatnya di jalan, mulai dari kendaraan yang lewat, pohon-pohon di pinggir jalan, hingga hal-hal yang terkadang sulit dimengerti. Ayah hanya bisa tersenyum dan sesekali menggelengkan kepala.

Bagi Ayah, jika Liora tiba-tiba diam, itu berarti ia tertidur. Namun, karena jarak menuju warung mie ayam tidak terlalu jauh, hampir mustahil Liora tertidur di perjalanan.

Sesampainya di warung mie ayam, Ayah bertanya, "Mau makan di sini atau dibungkus, Li?"

"Seperti biasa, dibungkus saja, Yah."

"Baik."

Penjual mie ayam menghampiri mereka.

"Mau pesan berapa, Pak?"

"Dua porsi, Pak. Seperti biasa, yang satu tanpa ayam."

Penjual langsung tertawa.

"Pasti yang tanpa ayam buat Liora, ya? Masih belum suka ayam, Li?"

"Belum, Pak," jawab Liora sambil tersenyum malu.

"Aneh memang kamu. Mie ayam kok tanpa ayam," canda penjual.

Liora hanya tertawa kecil.

Beberapa menit kemudian, pesanan mereka selesai.

"Ini, Pak. Dua porsi mie ayam. Yang satu tanpa ayam," kata penjual sambil tersenyum ke arah Liora.

"Terima kasih, Pak. Berapa semuanya?" tanya Ayah.

"Dua puluh ribu rupiah, Pak."

"Ini pas, Pak."

"Baik, terima kasih."

Setelah itu, Liora dan Ayah segera pulang untuk menikmati mie ayam bersama di rumah.

Liora memang anak yang unik sejak kecil. Ia tidak suka ayam meskipun sangat menyukai mie ayam. Ia juga tidak suka makan di tempat dan selalu meminta makanannya dibungkus untuk dibawa pulang. Masih banyak kebiasaan lain yang menurut orang-orang terdengar aneh, tetapi itulah Liora.

Lamunan itu perlahan berakhir. Liora kembali tersadar bahwa semua kenangan tadi hanyalah potongan masa kecil yang tersimpan rapi di dalam ingatannya. Namun, satu hal yang tidak pernah berubah adalah rasa bahagia yang selalu muncul setiap kali ia mengingat hari-hari Jumat bersama sang Ayah.

Kini, Liora sudah tumbuh dewasa. Banyak hal dalam dirinya yang berubah seiring waktu. Jika dulu ia selalu memesan mie ayam tanpa ayam karena tidak menyukainya, sekarang ia sudah menikmati mie ayam lengkap dengan potongan ayamnya. Meski begitu, ada satu hal yang tidak pernah berubah, kecintaannya pada es krim. Setiap kali menikmati es krim atau semangkuk mie ayam, kenangan tentang Ayah selalu hadir di benaknya.

Baginya, hari Jumat bukan sekadar tentang es krim atau mie ayam. Hari Jumat adalah tentang waktu, perhatian, dan kasih sayang seorang ayah yang selalu berusaha membuat putrinya bahagia. Kenangan itu mungkin telah berlalu, tetapi akan selalu hidup di dalam hatinya.

Karena itulah, hingga hari ini, setiap kali hari Jumat datang, Liora selalu tersenyum. Sebab di balik hari itu tersimpan kenangan sederhana yang begitu berharga, perjalanan dengan motor Supra, es krim favorit, semangkuk mie ayam, dan kebersamaan dengan Ayah yang akan selalu ia rindukan. 

 

Penulis : Lutfia Marisatul Ula 

Mahasiswa KIP-K angkatan 2024

Sabtu, 08 Agustus 2026

TAKDIR YANG TERPILIH

    


        "Belajar yang sungguh-sungguh, ya! Kalau Luna dapat peringkat pertama di kelas, nanti Ayah belikan boneka beruang yang besar sekali! Seperti yang Luna inginkan,”
begitu kata sang ayah kepada Luna kecil, si bungsu. Tiap kali menjelang hari kenaikan kelas, ayahnya selalu menawarkan berbagai macam barang maupun makanan yang tengah diinginkan oleh Luna. Tanpa sadar, sepenggal kalimat itulah yang membuat gadis bernama lengkap Kaluna Pramudya Maheswari terinspirasi untuk menjadi juara kelas di setiap tahunnya.

    Bumi terus berotasi di orbitnya tanpa henti, Luna kecil mulai tumbuh dengan baik. Bukan hanya tubuhnya yang berkembang, pola pikirnya pun perlahan mulai terbentuk. Dari Luna kecil yang selalu berusaha menjadi juara kelas hanya untuk mendapatkan 'hadiah' dari orang tuanya, berubah menjadi Luna dewasa yang mulai mempertanyakan tujuannya sendiri.

    Benarkah Luna berjuang sedemikian rupa untuk menjadi juara kelas hanya karena menginginkan hadiah semata dari ayah dan ibunya? Atau justru... keinginan untuk menjadi juara kelas itu perlahan muncul dalam hatinya untuk membalas semua peluh yang telah dikorbankan orang tuanya untuknya? Akankah itu sebuah keinginan yang suci? Atau memang hanya mengharapkan hadiah dari orang tua?

    Memasuki masa aliyah, Luna mulai menyadari tujuan hidupnya sendiri. Belajar dengan tekun bukan semata-mata untuk mendapatkan peringkat di kelasnya, namun juga untuk membanggakan kedua orang tuanya. Bujuk rayu hadiah dari sang ayah kini tak lagi dinanti. Yang teramat dinanti hanyalah senyum kedua orang tuanya yang berhasil ia ciptakan ketika menjadi juara kelas. Dan hal tersebut selalu berhasil diusahakannya. Hingga puncaknya, ketika ia menjadi lulusan terbaik di sekolahnya, yang mampu membuat ayahnya menangis haru saat menghadiri acara tersebut.

    Namun di balik itu semua, ada perjuangan yang tak pernah padam. Perjuangannya, orang tuanya, dan keluarganya. Air mata tak henti-hentinya mengalir di tiap sujud, memohon segala kemudahan di saat dahsyatnya badai yang berulang kali datang menghantam.

    Saat memasuki era akhir kelas 12, Luna mulai berperang dengan keinginannya sendiri. Sepertinya, semua anak kelas 12 yang ingin melanjutkan pendidikannya mengalami hal serupa ketika jalur pendaftaran ke perguruan tinggi mulai dibuka. Bimbang. Luna dihadapkan dengan keputusannya yang tidak pernah benar-benar yakin. Ada satu nama perguruan tinggi yang begitu didambakannya. Namun... ada sisi pesimis yang perlahan menggerogoti keyakinannya.

    "Ibu... Luna ingin melanjutkan kuliah di sini," katanya, sambil menunjukkan gambar sebuah perguruan tinggi di ponselnya. "Tapi ini salah satu TOP PTKIN, Ibu. Luna nggak yakin... banyak banget saingannya. Mereka juga pasti pintar semua. Gimana kalau Luna nggak lolos?" imbuhnya, terdengar sangat putus asa.

    Sedangkan sang ibu? Diam sejenak. Tidak menghakimi keresahan yang tengah dirasakan oleh anak gadisnya. "Kenapa tidak mencoba dulu, Nak? Bukankah kita tidak akan pernah tahu bagaimana hasil dari sebuah harapan jika kita tidak berusaha untuk menggapainya?" tutur ibunya, teramat halus dan menenangkan. Namun... tidak cukup untuk mengusir keraguan dalam hati sang anak, Luna.

    Perlahan Luna menunduk, penuh pertimbangan. "Ibu, biaya kuliah di sana tidak murah. Sangat banyak. Luna selalu bergantung pada ayah dan ibu. Tapi untuk kali ini... Luna tidak yakin, Ibu. Cukup Luna selalu melihat ayah dan ibu bekerja banting tulang hanya untuk pendidikan Luna. Ayah dan ibu selalu berangkat ke ladang sebelum matahari terbit, pulang saat sudah gelap..." ujarnya pelan. "Luna sudah mencoba untuk mendaftar beasiswa, tapi belum ada yang berhasil," imbuhnya, putus asa.

    Obrolan singkat bersama sang ibu sore hari itu sama sekali tidak menemukan titik terang yang mampu menenangkan hatinya. Hari-harinya dilalui dengan penuh pertimbangan. Semua guru di kelas silih berganti memberikan rekomendasi perguruan tinggi dan program pendidikan yang sekiranya harus dicoba olehnya.

    Banyak guru dan teman yang bertanya tentang program pendidikan apa yang ingin diambilnya. "Aku ingin di PAI," jawabnya setiap kali ada yang bertanya. Reaksi dari guru dan temannya juga beragam. Namun, tidak sedikit yang merekomendasikan program pendidikan lainnya. Ya, banyak yang tidak setuju dengan keputusan Luna.

            "Kenapa kamu nggak ambil prodi hukum? Kamu kan biasa debat sama guru PKN."

            "Kamu nggak mau coba di pendidikan Bahasa Arab, Lun? Kamu kan pinter itu."

            "Kenapa nggak di fakultas dakwah? Komunikasi kamu kan bagus."

    Setidaknya, itu merupakan sebagian kecil dari beberapa respon teman dan gurunya terhadap jawaban yang selalu Luna berikan, tidak pernah ada yang mendukung selain kedua orang tuanya. Bahkan, para paman dan bibinya tidak ada yang benar-benar mendukung. Semua justru berucap, “Jadi guru itu nggak enak. Naik jadi PNS di zaman sekarang juga susah. Ujung-ujungnya cuma jadi guru honorer? Cari jurusan yang lapangan kerjanya memadai dan gajinya enak. Jangan cuma mikir keinginan kamu aja. Kamu itu hidup di desa, bukan di kota.”

    Goyah? Sempat. Hati Luna semakin bimbang. Sibuk berpikir, sedangkan pendaftaran sudah berjalan beberapa hari, membuat pikirannya semakin berkecamuk. Ditambah ia juga harus mempersiapkan diri untuk ujian akhir kelulusan.

    Banyak sekali air mata yang mengalir di masa itu. Bahkan, Luna mengeluh setiap harinya. Namun, dukungan dari ayah dan ibunya mampu membuatnya untuk tetap bertahan dan terus mencoba. Hingga keputusan akhirnya, merelakan TOP PTKIN yang menjadi tujuannya sejak awal, beralih pada PTKIN lain. Namun, PTKIN itu juga masih impiannya, hanya saja tidak sampai pada TOP PTKIN.

    Sebelum mendapat dukungan penuh... ibunya pun sempat menolaknya. Tidak mengizinkannya karena perguruan tinggi impiannya itu teramat jauh dari rumah. Berkali-kali meyakinkan sang ibu, Luna berhasil. Ibunya mengizinkannya, meski diawali dengan pertentangan yang membuatnya sampai menangis.

    Jam dinding terus berdetak tanpa melambat, hari-hari pun berlalu. Tiba di hari pengumuman pendaftaran PTKIN, Luna tak henti-henti memohon pada Sang Kuasa. Hampir putus asa, mengingat banyaknya orang yang juga mendaftar di perguruan tinggi tersebut, terlebih di program pendidikan pilihannya.

    Pukul 15.00 WIB. Waktu yang senantiasa dinanti oleh para pejuang perguruan tinggi, begitu pun dengan Luna pada saat itu. Gemetar. Tangannya tidak mampu menahan ponsel. Rasanya teramat gugup. Tidak berani untuk melihat hasilnya. Takut mengecewakan orang tuanya.

    Menarik napas dalam-dalam. Mencoba tenang. Perlahan, telunjuknya bergerak. Menyentuh layar ponselnya yang senantiasa menyala sejak 30 menit yang lalu. Telunjuknya berhasil menyentuh layar. Warna hijau memenuhi penglihatannya. Senyumnya merekah. Sampai menangis. Namun, tertahan sejenak. Bukan pilihan pertama. Melainkan pilihan kedua. Ada rasa kecewa yang diam-diam merayap. Namun, Luna kembali berkali-kali meyakinkan bahwa itu merupakan pilihan terbaik menurut Sang Kuasa.

    "Ayah! Ibu! Luna diterima!" teriaknya, berlari menghampiri ayah dan ibunya di kebun belakang rumah. Air matanya tertahan di pelupuk. Masih ada rasa bahagia, meski rasa kecewa sedikit terbesit. "Tapi di prodi pilihan kedua..." lanjutnya, lirih.

      Respon ayah dan ibunya? Sama. Menangis. Bahagia. Berkali-kali kening Luna dikecup penuh kasih. "Nggak masalah. Pilihan pertama ataupun kedua, kalau Luna yakin, ayah dan ibu nggak masalah. Yang terpenting, Luna yakin kalau Luna bisa menjalaninya. Ayah dan ibu di sini selalu mendukung dan mengusahakan yang terbaik untuk Luna," tutur ayahnya, menyemangati hati yang sempat goyah sebelumnya.

     Ketenangan kembali menyelimuti hatinya setelah mendengar beberapa nasehat dari ayah dan ibunya. Senyum tulusnya kembali merekah. "Ayah, Ibu, terima kasih, ya. Nggak masalah semua orang menentang keinginan Luna. Yang terpenting, ayah dan ibu selalu mendukung Luna."

     Ketika tiba waktunya untuk merantau ke luar kota demi cita-cita yang teramat didambakannya, di situlah hal terberat dalam hidup Luna. Selalu bersama kedua orang tua sejak kecil, diberikan kasih sayang, bahkan dimanja, membuat Luna merasa tak kuasa untuk berpisah selama berbulan-bulan lamanya.

      Riuhnya stasiun sama sekali tidak mampu mengalihkan perasaan Luna. Dipeluknya ayah dan ibunya dengan sangat erat. Air matanya tak berhenti mengalir, meski keretanya sudah tiba. Dengan sangat berat hati, pelukan itu terlepas saat ayahnya menarik diri dengan perlahan.

    "Luna di kota orang itu niatnya belajar. Jadi, belajar yang serius. Selalu minta sama Allah, supaya Luna selalu dijaga dan dibimbing sama Allah. Luna di sana nggak sendirian. Allah selalu ada sama Luna. Ayah dan ibu di sini juga selalu berdoa yang terbaik untuk Luna. Jaga diri Luna baik-baik, ya. Jangan sampai telat makan!" ucap ayahnya, membuat Luna semakin tidak bisa berhenti menangis.

     Langkahnya terasa amat berat, meninggalkan kedua orang tuanya di belakang, berjalan menuju kereta yang sudah menanti untuk membawanya menjauh dari rumah, ke kota orang yang amat asing untuknya.

    Di dalam gerbong kereta yang dipenuhi oleh orang asing, Luna tenggelam dalam lamunannya sendiri. Pikirannya masih tertuju pada orang tuanya. Asing dan tidak nyaman. Itulah yang ia rasakan. Hatinya meraung-raung, teringin kembali pada pelukan kedua orang tuanya di rumah. Namun, ada mimpi yang harus ia kejar.

    "Halo, Dik!" sapaan dari seseorang membuyarkan lamunannya. Luna menoleh. Melihat seorang perempuan yang terlihat tiga tahun lebih tua darinya, duduk di sebelahnya. "Halo, Kak," balasnya, menyapa.

      Berawal dari sapaan singkat itu, berujung pada obrolan panjang yang mengisi tiap detik Luna di dalam kereta. Yang sebelumnya terasa asing, kini perlahan berubah menjadi rasa nyaman. Ia merasa tidak sendirian, ditemani seorang perempuan yang senantiasa mengajaknya bercerita, seolah tahu jika ini pertama kalinya ia pergi jauh dari rumah. Luna merasa hangat. Hingga perpisahan itu harus terjadi di stasiun terakhir, berbeda arah tujuan.

      Kini, Luna kembali sendiri. Jemarinya bergerak cepat di atas ponsel. Memesan ojek online. Satu menit hingga lima menit. Tak kunjung mendapatkan. Hatinya mulai resah. Takut. Di kota besar ini, Luna sendiri. Tidak akan ada yang membantunya. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing, pikirnya.     

        Hatinya kian resah. Luna hampir menangis. Namun, seorang pria paruh baya dengan jaket hijaunya lebih dulu menghampiri. "Mbak, belum dapat ojek, ya? Boleh saya bantu?" tawar bapak yang berusia kisaran 50 tahun. Santun dan lembut tutur katanya.

        Diam. Luna tidak langsung menjawab. Ada rasa takut yang semakin melanda. Takut jika itu hanya penipuan. Takut jika bapak itu berniat buruk padanya. Karena di kota orang ini, Luna sendiri. Tidak ada keluarga yang bisa membantunya. Belum selesai dengan pikiran negatifnya, bapak itu kembali berucap.

      "Insyaallah tidak ada apa-apa, Mbak. Malam-malam begini memang sulit mendapatkan ojek di stasiun. Saya antarkan saja, ya? Bayar seikhlasnya saja nggak masalah. Saya bantu bawa barang-barangnya, ya." Bapak itu mengambil satu per satu tas yang Luna bawa. Sedangkan Luna? Mengikuti. Meski masih ada sedikit rasa ragu, kini Luna mulai berusaha untuk percaya.

        Sepanjang perjalanan menuju kos, tidak ada keheningan. Bapak baik hati itu terus mengajaknya berbicara, bercerita, hingga Luna melupakan segala kekhawatirannya. Luna mulai percaya. Kebaikan hati bapak itu teramat membantunya di saat ia baru pertama kali menginjakkan kakinya di kota orang.

      "Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih..." berulang kali Luna ucapkan rasa terima kasihnya ketika sampai di depan kos. Ia amat bersyukur karena selalu dipertemukan dengan orang-orang baik. Mulai dari seorang perempuan yang mengajaknya berbincang di dalam kereta, hingga pria paruh baya yang membantu mengantarnya dari stasiun sampai di kos.

      Langkah pertama memasuki kamar kos... air matanya kembali luruh, teringat rumah. Hunian itu terasa sangat asing untuknya. Tidak ada ayah dan ibunya di dalamnya. Hanya Luna. Sendirian. Berjam-jam Luna menghabiskan waktu untuk menangis. Ditambah, rasa kecewanya masih tersisa. Luna teramat ingin masuk di jurusan pertama yang ia pilih. Namun takdir berkata lain. Pilihan kedua.

        Menarik napas dalam-dalam, Luna mencoba untuk ikhlas sepenuhnya. "Allah... aku yakin, ini yang terbaik menurutmu. Maka, bantulah aku untuk menerima semua takdir dari-Mu dengan hati yang luas, Allah..." gumamnya, teramat lirih, dengan bibir yang bergetar karena tangisan.

        Teringat segala motivasi yang diberikan oleh ayah dan ibunya, perlahan Luna mencoba untuk tetap bangkit, tetap kuat di atas pilihannya sendiri. Tak ingin berlarut-larut dalam perasaan kecewa. Ia selalu mengusahakan untuk ikhlas.

          Hari-hari pertama memasuki dunia kampus... Luna kembali merasa sendiri. Tidak ada teman yang benar-benar dekat. Semua terasa asing. Namun, Luna kembali mencoba, tak ingin tenggelam dalam rasa sepi dan sendiri. Mencoba bersosialisasi, keluar dari zona nyamannya sebagai seorang yang introvert. Berkenalan dengan temannya. Beberapa kali berinteraksi, Luna mulai nyaman. Begitu-pun yang lain, merasa nyaman dengan interaksinya.

        Di malam yang senyap, Luna terdiam di kamarnya, menatap langit-langit kamar. Pikirannya kembali berkembang. Rasa ikhlas itu perlahan muncul di sela padatnya jadwal kuliah yang dijalani.

        "Mungkin kalau aku nggak di sini, jalan takdirku nggak akan seperti ini. Bisa saja di tempat lain tidak jauh lebih baik daripada di kota ini," gumamnya dengan senyum, ketika ikhlas itu mulai mengisi hati yang sebelumnya dipenuhi kecewa akan takdir.

        Kota, perguruan tinggi, fakultas, dan jurusan yang dijalaninya memang bukan sepenuhnya yang Luna impikan. Namun, di takdir inilah Luna dipertemukan dengan berbagai hal baik yang mampu mengubah sudut pandangnya terhadap takdir Tuhan. Karena bisa jadi, ia tidak menemukan ketenangan seperti ini di tempat lain.

           Sejatinya, Tuhan tidak akan menempatkan hamba-Nya dalam keadaan yang terlampau sulit untuk dijalani. Semua tergantung pada cara pandang masing-masing saat menghadapi berbagai jalan takdir yang diberikan oleh Tuhan. Rasa kecewa membuat semuanya terasa amat berat. Namun saat ikhlas itu sudah datang, semuanya akan terbuka perlahan, tentang apa yang sudah Tuhan siapkan di balik takdir itu.

 

“Ikhlas dalam menjalani takdir yang tidak sepenuhnya kita inginkan memang sulit. Namun ketika ikhlas itu mulai tumbuh, perlahan semuanya akan terasa lebih bermakna.”


Penulis : Imaniatul Faizah

Mahasiswa KIP-K angkatan 2025

Senin, 20 Juli 2026

Usaha Seorang Ibu

 

      

      Perkenalkan dia perempuan yang bernama Aisyah Khumairah, saat ini dia masih duduk dibangku kelas 11 SMA. Umur-nya saat ini menginjak 17 tahun, dia lahir di kota Tulip. Aisyah sekolah di SMA Negeri 1 Kamboja. Sekolah ini merupakan salah satu SMA di kota itu yang lumayan dekat dengan rumah Aisyah. Dan dia juga kebetulan tinggal dipondok pesantren yang bernama pondok pesantren Al-Muk’min, Salah satu pondok Al-Qur’an yang dekat dengan SMA nya. 

      Angin malam yang cukup cerah dan tidak mendung, tadi sekitar pukul 19.47 Ais sedang makan di kamar bersama teman-teman nya. Tiba-tiba Ais mendengar suara diluar samar-samar kaya suara, ibu-nya yang sedang memanggil namanya.

“Mba.....mba.....mba Ais.....”

      Ais kira itu hanya suara halusinasi yang ia rasa, soalnya Ais sudah 1 bulan belum bertemu dengan ibu maupun keluarganya, eh ternyata suara itu bener adanya. Suara yang memanggil Ais tadi itu suara ibu-nya, Ais pun langsung bergegas buru-buru memakai hijabnya dan jalan keluar menuju tangga untuk turun. Ais langsung turun tangga untuk menemui ibunya dan langsung mencium tangan-nya, lalu ia bertanya pada ibunya. 

“Ibu kesini sama siapa?.Bapak ikut tidak?. Nyetir motor sendiri atau diboncengin?.”

Pertanyaan bertubi-tubi dari Ais sambil ngajak ibunya naik, sampai ibunya bingung mau jawab yang mana dulu.

“Ais kebiasaan kalau tanya tu ya satu-satu, ibu bingung jawab yang mana dulu.” Jawab ibu-nya

“Hehehe... ma’af ibu.” Jawab Ais sambil menyengir.

“Ibu kesini sendiri. Bapak tidak ikut karena ada keperluan. Dan ibu kesini bawa sepeda listrik!.”

“Sepeda listriknya siapa Bu, perasaan Dirumah kendaraan nya cuma motor doang?. Apa Bapak yang beli Bu?.”

“Ibu ke sini pakai sepeda listriknya kakek, kakek baru beli kemarin.”

      Tiba-tiba Ais langsung bengong sambil bertanya-tanya di benaknya, Ais bengong karena pikirannya yang mengkhawatirkan ibunya yang kesini sendirian apalagi malam-malam tanpa ngajak bapak-nya, mana kendaraan-nya pake sepeda listrik, dimalam hari yang minim pencahayaan. Masalahnya desa Aisyah ke pondok nya tidak deket-deket banget loh, itu membutuhkan waktu sekitar 15 - 20 menit itu pun kalau naik motor. 

Di tengah-tengah bengongnya Ais, tiba-tiba ibu nya bersuara lagi, 

“Mba ini tadi barang yang ibu bawa toh jatuh terus, ibu dikit-dikit berhenti gara-gara barang bawaan-nya pada jatuh.”

      Ais hanya bisa tersenyum agar bisa buat ibunya tidak curiga kalau di situ air mata Ais hampir keluar, untung ia bisa tahan agar air mata itu tidak keluar. Ais mencoba bertanya kepada ibunya, “Kenapa ibu gak bawa motor sendiri aja, kan dirumah ada motor ibu juga kan bisa naik motor?.”

      Ibunya Ais lalu tersenyum dan berkata, “Motornya sedang ada dibengkel mba, ban-nya lagi bocor.”

      Setelah lama berbincang lama sama Ais, akhirnya ibunya Ais pun pamitan, “Yaudah ibu mau pulang dulu ya mba, nanti adek nyariin ibu soalnya tadi ibu pas mau kesini adek gak ada karena dia udah berangkat ngaji.”

“Iya ibu gak papa, hati-hati di jalan ya bu.” Ais pun langsung mengantar ibunya turun tangga sampai dekat pintu gerbang kompleks putri.


TAMAT!!!!!


Penulis : Siti Atikotul Farikah


Mahasiswi KIP-K angkatan 2025 



Selasa, 14 Juli 2026

Bawa Perubahan Positif, Tim DHARMAKIP UIN Walisongo Sukses Tuntaskan Pengabdian 4 Hari di Kendal



KENDAL, 12 Juli 2026 - Komitmen untuk mengabdi dan membawa dampak nyata bagi masyarakat sukses diwujudkan oleh tim mahasiswa DHARMAKIP (Dharma Aksi FORMAKIP) UIN Walisongo Semarang. Selama empat hari berturut-turut, sejak tanggal 9 hingga 12 Juli 2026, mereka menggelar aksi pengabdian masyarakat yang komprehensif di Dusun Duren, Desa Jatirejo, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Rangkaian kegiatan DHARMAKIP tahun ini dirancang secara terstruktur untuk menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari pendidikan, sosial, hingga keagamaan. Berikut adalah kilas balik perjalanan pengabdian selama empat hari di Kendal:

Hari Pertama (Kamis, 9 Juli 2026). Rangkaian diawali dengan pembukaan resmi bersama perangkat desa dan tokoh masyarakat. Pada hari pertama ini, tim berfokus pada kegiatan Sapa Warga dengan tujuan membangun kepercayaan (trust) antara mahasiswa dengan warga desa sejak awal. Melalui acara ini, mahasiswa tidak hanya datang sebagai tamu yang numpang bikin program, tapi memosisikan diri sebagai bagian dari keluarga mereka.

Hari Kedua (Jumat, 10 Juli 2026). Mengusung semangat edukasi, tim menggelar proker Cek Kesehatan Gratis, Sosialisasi di MI NU 46 Winong, serta belajar bersama di Posko. Melalui program Cek Kesehatan, tim DHARMAKIP berkomitmen meningkatkan kualitas hidup warga melalui deteksi dini penyakit. Sementara itu, lewat Sosialisasi di MI juga Belajar Bersama, tim hadir untuk menyalakan api semangat belajar dan memberikan edukasi dasar bagi generasi penerus di Desa Jatirejo. Antusiasme warga mulai terlihat dari banyaknya peserta yang hadir dan aktif berpartisipasi.

Hari Ketiga (Sabtu, 11 Juli 2026). Menjadi puncak kegiatan sosial, di mana tim melaksanakan Aksi Bersih Masjid dan Posko. Selain fokus pada kebersihan lingkungan melalui Aksi Bersih Masjid dan Posko, tim DHARMAKIP juga memberdayakan masyarakat melalui Sosialisasi Limbah Jagung untuk menjaga ekologi desa, yang kemudian dilanjutkan dengan Pelatihan Kerajinan Tangan. Melalui Pelatihan Kerajinan Tangan, anak-anak diajak untuk mengasah keterampilan motorik halus dan membebaskan imajinasi mereka ke dalam karya seni yang kreatif, sekaligus melatih fokus dan kesabaran sejak dini. Sebagai penutup rangkaian kegiatan, Pengajian Umum digelar untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus menjadi sarana siraman rohani yang membawa keberkahan dan rasa syukur bagi seluruh warga desa serta tim DHARMAKIP.

Hari Keempat (Minggu, 12 Juli 2026). Kemeriahan memuncak saat warga diajak menjaga kebugaran lewat Senam Pagi, yang kemudian dilanjutkan dengan Lomba Warga dan Doorprize penuh keseruan untuk memupuk solidaritas. Seluruh rangkaian kegiatan ini akhirnya ditutup secara resmi melalui Acara Penutupan sebagai momen pamitan sekaligus ungkapan terima kasih tulus dari tim DHARMAKIP kepada seluruh masyarakat desa. Sebagai wujud apresiasi yang mendalam, momen penutupan juga diwarnai dengan penyerahan kenang-kenangan kepada pihak perangkat desa. Seluruh rangkaian agenda pengabdian ini kemudian disempurnakan dengan evaluasi keseluruhan kerja tim guna mengukur keberhasilan program sekaligus menjadi catatan pembelajaran berharga bagi performa tim ke depan.

Ketua Pelaksana DHARMAKIP, Yumela Sukmawati menyatakan bahwa durasi empat hari ini memberikan pelajaran berharga tentang arti ketulusan yang sesungguhnya. “Kami datang sebagai mahasiswa, namun pulang sebagai bagian dari keluarga warga Kendal. Penerimaan yang begitu hangat dari para sesepuh, ibu-ibu, hingga anak-anak di sini adalah hadiah terbesar bagi kerja keras tim kami,” ujarnya.

Kepala Dusun Duren, Romli Mubbarak juga menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi para mahasiswa. Kehadiran tim DHARMAKIP dinilai memberikan warna baru dan motivasi positif bagi kemajuan serta kerukunan warga setempat.

Melalui rilis ini, seluruh tim DHARMAKIP mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh pihak yang telah membantu kelancaran acara dari hari pertama hingga akhir. Harapannya, sinergi dan manfaat yang telah tertanam selama empat hari ini dapat terus berlanjut bagi kesejahteraan warga Kendal.




Penulis
Farisa Alifatun Nasywa

Sabtu, 04 Juli 2026

TERLAMBAT KARENA KETULUSAN

 


 

Kisah ini bermula saat seorang perempuan yang bernama Farihana Aqila Nafida, perempuan itu biasa dipanggil Hana ia lahir sudah 19 tahun yang lalu, ia memiliki hobby menulis diary dan membaca novel fiksi. Hana semasa remaja nya mempunyai teman sebut saja namanya Lida. Dulu Hana sangat baik terhadap Lida, bahkan sudah menganggap Lida itu seperti saudara sendiri. Karena sudah berteman dari kecil sampai jenjang Menengah Pertama, entah kebetulan atau takdir sejak TK.  Sampai saat itu, mereka berdua selalu sekolah ditempat yang sama dan anehnya mereka berdua juga selalu satu kelas. Tapi oh tapi, sikap Lida malahan membuat Hana sangat-sangat kecewa. Pada waktu itu Hana hanya bisa ditakdirkan sekolah saja, sedangkan Lida ditakdirkan sekolah sama tinggal di pondok pesantren. Di pesantren Lida, santri-santrinya tidak diperboleh membawa handphone dan kendaraan. Pada waktu itu sekolah mengadakan Class Meeting, dan memperbolehkan para siswanya membawa handphone ke sekolah. Pada saat itu, kebetulan Hana sudah mempunyai handphone, hadiah dari kedua orang tuanya, karena berkat Hana yang selalu belajar dengan sungguh-sungguh tanpa malas-malasan, akhirnya ia bisa masuk peringkat 5 besar di kelasnya. 

Dan pada waktu itu Lida tidak membawa handphone, karena di pesantrennya tidak memperbolehkan para santri untuk membawa handphone. Pada saat Class Meeting Lida tidak membawa handphone sendiri, akhirnya Hana mempunyai inisiatif untuk meminjami handphone nya ke Lida, karena Hana merasa kasihan kepada Lida. Sebab teman-teman kelasnya banyak yang main handphone, ada yang mabar, tiktok-kan, fotbar, dll. Mungkin bagi mereka ini kesempatan yang tidak akan datang untuk yang kedua kalinya, bisa membawa handphone ke sekolah. Setiap berangkat atau pulang sekolah Hana hampir sering diantar jemput Lida, ia tanpa meminta imbal balik, itu berlangsung saat Lida tinggal di pesantren.

Suatu hari Hana dan Lida berangkat ke sekolah bareng, dan pada saat itu, kebetulan Lida sedang pulang ke rumah karena ada acara keluarga. Namun, Lida meminta di anterin dulu ke pesantrennya karena mau ambil kaos olah raga-nya yang ketinggalan. Setelah itu, Lida langsung jalan keluar menuju pintu gerbang samping pundok putri untuk menemui Hana lagi, dan langsung berangkat ke sekolah. Sebelum-nya Hana sudah menyalakan motornya, dan langsung tancap gas untuk berangkat menuju ke sekolah. 

Sesampainya di parkiran Hana lupa kalau dia belum beli kaos kaki, karena kaos kakinya sudah longgar makanya dia mau ganti kaos kaki. Saat Hana sedang jalan menuju ke sekolah di samping jalan kebetulan ada foto copy yang sudah buka, jadi Hana nyuruh Lida tungguin sebentar ditepi karena ia mau beli kaos kaki. Saat itu Lida juga mau nitip beliin bolpoin, katanya isinya sebentar lagi mau habis, akhirnya dia nitip Hana yang sekalian mau mampir ke foto copy. Hana langsung buru-buru masuk ke toko foto copy-nya, dan ia langsung membeli apa yang diinginkan, setelah dapet Hana langsung antri buat bayar ke kasir, setelah itu ia langsung keluar dari toko.

Tapi apesnya waktu itu, bel sudah menunjukkan pukul 06.54, dan gerbang sebentar lagi akan segera ditutup, Saat itu pada saat mau menyebrang Hana tidak mendenger suara bel sama sekali karena mungkin jarak ia masih jauh. Tapi Lida, dia mungkin mendengar bel tersebut sehingga Lida langsung lari menuju ke sekolah agar dia bisa masuk sebelum gerbang itu akan ditutup. Pas Hana sudah nyebrang ia baru ngeh kalau Lida tidak ada ditempat, Hana menoleh sana-sini  mencari keberadaan Lida kemana, di tengah Hana mencari keberadaan nya Lida. Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang lewat di sampingnya Hana sambil bertanya, “Mba nya sedang cari siapa ya?”. Tanya ibu tersebut. “Ibu lihat-lihat dari tadi mba nya kaya sedang mencari seseorang”. Tambanya lagi. Hana pun menjawab, “Hehehe iya bu, aku sedang mencari teman, kalau boleh tahu aku mau tanya, tadi ibu lihat perempuan yang memakai seragam kaya gini gak bu?”. Lalu ibu itu pun menjawab “Ohhh yayaya”, kalau ga salah anak itu sudah masuk ke dalam sekolah sambil lari-lari, mungkin dia takut gerbang sekolahnya keburu di tutup”. Setelah tahu Hana langsung cepet-cepet lari menuju ke sekolah, takut nanti keburu pintu gerbangnya di tutup. Hana tak lupa juga mengucapkan terima kasih kepada ibu-ibu tersebut.

    Akhirnya Hana tiba juga di depan pintu gerbang sekolah nya, pada saat ia tiba di depan pintu gerbang tersebut, sudah dalam keadaan di tutup rapat oleh pak satpam, mau gka mau Hana harus nunggu di luar sampai pintu gerbang tersebut akan dibuka oleh pak satpam. 


Penulis : Siti Atikotul Farikah

Mahasiswi KIP-K angkatan 2025


Minggu, 21 Juni 2026

Cahaya Sang Empu

 


Dalam kegelapan, sang empu merintih

Dibalut rasa takut, kepingan luka menetes dari matanya Pandangan telah terbuka

Namun rasanya tak kunjung berbeda


Hari luruh satu persatu

Hingga cahayamu menyusup kecelah yang paling rapuh 

Menggenggam penuh harapan

Merakit dengan kehati-hatian


Kau hadir tanpa gemuruh,

Tetapi hangatmu perlahan merakit kembali apa yang telah lama runtuh


Dan kini,

Sang empu belajar tersenyum lagi

Lengkungan bibir manisnya pun kembali berarti



Syaifia Rahma Maulina

Mahasiswi KIP-K angkatan 2025


Selasa, 09 Juni 2026

Formakip Walisongo Undang Sherly Annavita untuk Peringati Harlah ke-13


Sherly Annavita sedang memaparkan materi dalam Talkshow Interaktif Formakip Walisongo di Auditorium Kampus 1 UIN Walisongo,Rabu(3/6/2026).

Forum Mahasiswa KIP-K (Formakip) Walisongo sukses menggelar talkshow interaktif dalam rangka hari lahir (harlah) ke-13 dengan tema _"Krisis Arah Hidup Anak Muda di Era Pilihan Tanpa Batas: Saat Semua Terlihat Mungkin, tapi Arah Justru Menghilang"_ di Auditorium I Kampus 1 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Rabu (3/6/2026).

‎Acara tersebut dihadiri lebih dari 130 peserta yang turut mengundang _content creator_, aktivis, dan motivator asal Aceh Sherly Annavita Rahmi.

‎Sherly mengajak untuk keluar dari zona nyaman yang selama ini sering kali menghambat proses.

‎"Untuk keluar dari 'akuarium' dan berani menjadi 'ikan besar' yang menyelami lautan, artinya kita tidak boleh membatasi diri pada zona nyaman, tetapi harus berani mencoba hal-hal baru dan memperluas pengalaman,"ucapnya 

‎Selain itu, ia juga mengingatkan kita bahwa menjadi anak muda adalah sebuah _privilege_ karena kita masih memiliki banyak kesempatan untuk belajar, gagal, bangkit, dan menemukan arah hidup. Pesan ini sangat relevan bagi generasi muda yang sering merasa bingung menentukan tujuan hidup di tengah begitu banyak pilihan yang tersedia.

‎Terdapat beberapa rangkaian acara yang diadakan untuk memeriahkan harlah Formakip Walisongo seperti lomba badminton, futsal, KIP-K award, talkshow interaktif dan malam puncaknya diisi gema sholawat yang dihadiri oleh Gus Ambyar dan Gus Harir.

‎Ketua panitia harlah, Muhammad berharap agar Formakip Walisongo bisa terus maju dan berkembang sehingga bisa terus menjadi wadah bagi penerima beasiswa KIP-K.

‎"Semoga jangkauan kuantiti Formakip Walisongo bisa lebih luas dan kesadaran para anggota bisa lebih tinggi, mengingat kita adalah orang terpilih yang hendaknya bisa memberikan _feedback_ yang kontributif bagi kampus"katanya.

‎Penulis : Dwi Endang Setyorini 

Minggu, 31 Mei 2026

Simfoni Di bawah Rembulan




Gemerlap debu malam yang rawan menghilang

Melebur dalam indahnya rembulan

Gegap gempita kunang kunang yang telah lama menjauh

Kehausan manusia yang tak kunjung reda


Nuansa kata romansa penuh lirik

Di tepian bibirmu yang manis

Bersendu kala engkau redup

Bergembira kala engkau tersenyum


Ijinkan raga yang tak ragu ini

Bercengkerama dengan lembut tawamu

Dibawah rembulan nan syahdu

Bergema kisah kita abadi


Bahtera asmara ini telah siap

Berkibar dengan riang suka duka

Berlalu untuk menuju cita

Bersama walau tak tahu pasti



Penulis: Aqib Setiawan

Mahasiswa KIP-K angkatan 2025

Minggu, 24 Mei 2026

Liora Halimera


Liora Halimera adalah Perempuan yang lahir dan besar di desa kecil, jauh dari keramaian kota. Hidupnya sederhana, tenang, tapi penuh tuntutan untuk menjadi kuat. Sejak kecil, Liora tinggal bareng kakek dan neneknya. Ibunya meninggal saat dia masih bayi, dan dari merekalah Liora belajar disiplin, mandiri, dan punya mimpi yang tinggi.

Suatu hari, Liora memutuskan untuk pergi merantau ke kota demi melanjutkan pendidikannya. Kampus yang dia masuki bukan kampus impian, jurusannya pun bukan yang dia inginkan sejak awal. Tapi Liora selalu percaya, Tuhan tidak mungkin salah memberikan jalan hidup seseorang.

Di semester satu, Liora menjadi anak yang pendiem, tidak banyak berbicara, lebih sering memperhatikan sekitar. Selain itu, dia juga harus memaksakan diri untuk menerima jurusan yang sebenernya tidak dia pilih. Padahal sebenarnya, Liora tipe orang yang tidak bisa diem. Tetapi setiap di lingkungan dan teman baru, dia butuh adaptasi awalnya saja dia diam tapi nanti setelah sudah merasa nyaman dia akan membaur, dia sebenarnya anaknya asik asal harus ada teman aja.

Untungnya, dia bertemu Diandra. Orang pertama yang mengajak berbicara, karena hal itu Liora tidak merasa sendirian. Diandra itu anaknya baik, kalem, dan sama-sama pendiem. Tapi justru dari situ, Liora mulai merasa aman dan nyaman sama Diana.

Pelan-pelan, Liora mulai ikut beberapa organisasi. Di sanalah dia bertemu orang-orang baru, ketawa tanpa beban, dan merasa hidupnya tidak sesepi itu.

Tapi semester satu tetep jadi fase paling berat buat Liora. Di masa itu, neneknya meninggal. Orang yang paling dia sayang. Hari-hari menjadi terasa lebih lama, capek, dan sunyi. Dia merasa jalan sendirian, tanpa ada yang mengarahkan. Yang dia tau cuma satu dia harus jadi orang sukses dan bisa buat keluarganya bangga.

Walaupun hidupnya tidak sesuai sama yang dia impiin, Liora selalu berusaha untuk bersyukur.

Sampai akhirnya dia ketemu Humaira. Temen yang paling dia sayang. Hidup mereka mirip sekali. Bedanya, Liora kehilangan ibu sejak bayi, sedangkan Humaira kehilangan ayahnya sejak SD. Karena nasib yang hampir sama, mereka menjadi dekat tanpa perlu banyak usaha.

Buat Liora, Humaira bukan sekadar temen. Dia sudah anggap seperti kakak sendiri. Tempat cerita tanpa takut dihakimi. Mereka sering mengobrol apa aja mulai dari keluarga, luka masa lalu, sampe soal percintaan yang anehnya selalu mirip.

Umur mereka beda dua tahun, tapi setiap ngobrol sesalu nyambung.

Suatu hari, mereka lagi ngobrol santai.

“Kak Ra, kakak ngerasa nggak sih?” kata Liora. “Kayaknya kita temenan tuh bukan kebetulan.”

“Iya ihh,” jawab Humaira sambil ketawa. “Mirip banget. Pantes nyambung terus. Sama-sama bulol daddy issue pula,” katanya ngakak.

“Gilaa emang lo,” balas Liora.

“Udah ah,” lanjut Liora. “Nggak usah bahas yang sedih-sedih. Bahas yang happy aja.”

Humaira melamun sebentar.

“Gue tuh bingung, Li. Gue kerja tiap hari isinya cewek semua, umur gue udah 20-an. Jodoh gue ketemu di mana, ya?”

“Di lampu merah kali,” jawab Liora cepet. “Tiba-tiba nyapa, ‘Mbak, namanya siapa?’” Liora ketawa.

“Gilaaa, yakali,” kata Humaira. “Gamau ah. Maunya sama mas Halim aja.”

“Halah, orang nggak pernah ketemu juga,” Liora nyeletuk. “Gimana mau deket? Mau gue ceramahin juga lo nggak mau.”

“Lah lo juga sama,” Humaira ngebales. “Disuruh move on kagak move on. Udah tau sekarang orangnya udah punya pacar.”

“ih apaan dah,” Liora ngedumel. “Setidaknya gue pernah diajak jalan sama makan bareng sebelum kita nggak ketemu lagi. Perasaan gue wajar lah. Gue juga udah usaha move on, kali.”

“Boong,” Humaira ngakak. “Kadang aja lo masih nanya, ‘Gimana ya kalo tiba-tiba gue ketemu dia di jalan?’ atau ‘Ih kok mirip dia?’ gila emang lo.”

“STOP. CUKUP,” potong Liora. “Gue emang gila. Udah ah, gue mau move on. Nggak mau ngarep lagi.”

“Halah,” kata Humaira. “Sekarang ngomong gitu, besok juga ‘gimana ya, gimana ya.’ Dasar lo.”

“Awas aja,” kata Liora setengah kesel. “Kalo gue udah move on nanti, gue beneran nggak mau ngarepin dia lagi.”

Humaira cuma ketawa.

Sementara Liora diem, mikir entah soal masa lalu, atau soal dirinya yang pelan-pelan belajar buat melepaskan saja.

Suatu hari, Liora dan Humaira pergi ke pantai. Angin laut berhembus pelan, ombak datang dan pergi dengan tenang. Di tengah suasana itu, Liora tiba-tiba nyeletuk.

“Kak Hum… kira-kira jodohku nanti kayak gimana ya?” gumam Liora sambil menatap laut.

“Yahh gue juga nggak tau kali, Li. Gue aja udah umur segini belum nemu-nemu,” jawab Humaira dengan nada sedikit kesal.

“Lo mah masih bisa ketemu cowok di kampus atau di mana gitu. Lah gue? Keluar rumah aja jarang. Kalo nggak sama lu, gue nggak ke mana-mana. Mending di rumah,” lanjutnya.

“Yaa iya sih… gue emang masih bisa nemu yang cocok nantinya,” kata Liora pelan.

“Cuma takut aja, Kak. Takut kalo udah nemu, tapi dia nggak bisa nerima kurang-lebihnya gue. Gue ngerasa masih banyak kurangnya, belum cukup baik buat seseorang,” ucapnya dengan nada sedih.

Humaira langsung menoleh.

“Halah, udah nggak usah mikir gitu, Li. Lo tau nggak? Kita tuh bakal keliatan sempurna di mata orang yang tepat,” katanya meyakinkan.

“Tuhan tau mana yang baik buat kita dan mana yang enggak. Yang kadang kita pengen banget tapi nggak dapet, bukan berarti kita nggak cukup baik—tapi karena Tuhan lagi nyiapin yang jauh lebih baik dari yang kita pikirin.”

“Yaa… gimana ya, Kak. Gue overthinking aja,” jawab Liora.

“Takut banget kalo milih pasangan terus salah pilih. Gilaa, seumur hidup itu lama banget. Semoga aja gue ketemu orang yang baik, yang sayang sama gue, nerima kekurangan dan kelebihan gue. Lo juga ya, Kak. Yang baik segalanya,” tambahnya.

Humaira tersenyum kecil.

“Lo udah move on beneran kan, Li, dari Farhan?”

“Udah ah, nggak mau bahas dia lagi, Kak,” jawab Liora cepat.

“Mau move on beneran. Gue nggak mau mikirin dia lagi. Lagian dia udah punya pacar, ngapain juga gue ngarep. Gila kali,” katanya sambil mengibaskan tangan.

Humaira terkekeh.

“Tumben pinter lu. Biasanya agak tolol,” godanya.

“Biasanya jawab lo tuh: ‘ya gas aja sebelum janur kuning melengkung, gue nggak ganggu dia, masih bisa ditikung jalur langit.’ Tapi gue seneng, Li. Lu udah bisa move on.”

“Ya gimana ya… kayaknya emang udah nggak ada perasaan sih, Kak,” kata Liora santai.

“Biasa aja sekarang. Biarin aja dia sama pacarnya. IG Gue di-unfollow sama dia..kayaknya di-unfollow pacarnya deh. Padahal gue nggak ganggu mereka sama sekali. Apa pacarnya cemburu ya karena gue pernah deket?”

“Kayaknya iya kali,” jawab Humaira sambil ketawa.

“Udahlah, keren berarti. Lu bisa bikin pacarnya aja sampe cemburu.”

Liora ikut tertawa.

“Udahlah, Kak. Gue udah move on juga kok. Tapi emang dulu gue segila itu ya? Nggak ada hubungan apa-apa aja move on-nya sampe tiga tahun. gilee emang,” katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Sekarang gue lega banget, Kak. Rasanya plong. Nggak ada beban hidup.”

Mereka lanjut mengobrol sampai tidak tau sekarang jam berapa, karena terlalu asik. Setelah bertemu dengan Humaira, Liora menjalani hidupnya seperti biasa dan menjali kuliah dengan lapang dada walaupun masih ada sedikit rasa belum ihklas tapi dia tetap menjalaninya.



Penulis: Lutfia Marisatul Ula 

Mahasiswa KIP-K angkatan 2025

Minggu, 17 Mei 2026

Pentingnya Peran Orang tua Terhadap Anak



Dukungan orang tua kepada anak yang masih remaja itu sangat penting. Saat saya mempunyai masalah dengan teman. Saya memilih untuk diam dan menyimpannya sendiri dan memutuskan tidak bercerita ke siapa-siapa termasuk orang tua saya. Kemudian apa dampak dari itu saya sering merasa cemas dan gelisah. Pada saat orang tua saya punya waktu luang, akhirnya saya mengungkapkan masalah yang sedang saya hadapi,setelah bercerita saya merasakan ketentraman dan lebih lega. Semenjak itu saya percaya bahwa dukungan orang tua itu sangat berpengaruh pada mental anak.  

Saat kita cerita ke orang tua kita tidak mungkin akan di salahkan justru mereka akan membantu menenangkan kita terlebih dahulu, setelah tenang baru kita akan diberi nasehat dan jalan keluar dari masalah tersebut. Mereka juga pernah menjadi anak remaja maka dari itu mereka tahu keputusan mana yang lebih baik dipilih dan mana yang patut dihindari.  

Namun, bagaimana dengan anak yang sudah kehilangan orang tua-nya dan mereka yang tidak pernah merasakan peran orang tua mereka. Lalu kepada siapakah mereka bercerita? Mungkin ada teman, saudara. Tapi walaupun itu saudara sendiri dan sedekat apapun akan terasa beda karena ikatannya tidak sedekat sama orang tua sendiri. Mungkin psikolog bisa bantu akan tetapi sebagian dari mereka tidak rela mengeluarkan uang hanya untuk sekedar bercerita. 

Menurut pandangan saya, jika ada orang terdekatmu ingin bercerita maka luangkanlah waktumu dengarkan cerita mereka. Mereka hanya butuh tempat untuk bercerita akan beratnya masalah yang mereka alami, mereka butuh tempat untuk berkeluh kesah. Walaupun ikatannya tidak sekuat orang tua akan tetapi lingkungan bisa menjadi pengganti support system. Terutama teruntuk mereka yang tidak punya keluarga yang utuh.  

Jadi, sudah sangat jelas bahwa dukungan orang tua itu sangat penting terhadap kesehatan mental anak, dan sebagai orang tua seharusnya bisa meluangkan waktu untuk anak-anaknya, menanyakan kabar setiap hari. Saya berharap masyarakat juga lebih peduli ke orang lain apalagi ketika ada seseorang terdekat yang kehilangan sosok orang tua.  


Penulis: Zalva Zakiya Syaputri

Mahasiswa KIP-K angkatan 2025

DATANGNYA SI MERAH YANG TAK SELALU SAMA

Hari-hari merah tak pernah Sama bagi setiap perempuan, Ada yang menjalani seperti Hari biasanya. Ada yang harus menahan nyeri Di perut langs...