Bagian 1
Namanya
Arka.
Nama
yang sederhana, tidak banyak orang mengenalnya.
Seperti hidup yang ia jalani tidak
pernah benar-benar menonjol, tetapi selalu ada, diam-diam bertahan di antara
hal-hal yang terlalu rumit untuk ia ceritakan.
Arka
tumbuh di sebuah rumah yang tidak selalu berisik, tetapi juga tidak pernah
benar-benar tenang. Keheningan di dalam rumahnya bukan
yang menenangkan, melainkan keheningan yang menyimpan banyak hal yang tidak
pernah diungkapkan.
Di beberapa hari ini,
rumah itu terasa hangat.
Ibunya
bangun lebih pagi, ia memasak sarapan
dengan tenang lalu memanggil Arka dengan
suara lembut yang selalu ia
rindukan.
“Arka…
makan dulu.”
Kalimat
itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat Arka duduk lebih lama di dekatnya. Ia
memperhatikan setiap gerakan kecil dan ekspresi ibunya
yang terasa utuh, seolah-olah dengan mengingatnya lebih lama, semuanya tidak
akan berubah.
Namun, hidup
tidak pernah memberi kepastian untuk
harapan-harapan kecil seperti itu. Karena ada hari lain. Hari yang datang tanpa
aba-aba.
Di
hari itu, ibunya tetap menjadi sosok yang ia
sayangi, tetapi pikirannya berjalan terlalu jauh.
Ucapannya terbata-bata, emosinya berubah tak beraturan, dan tatapannya sering kali terasa asing.
Ibunya
sakit.
Bukan
sakit yang bisa sembuh dengan pengobatan sekejap atau
istirahat semalam. Sakit yang membuatnya kadang lupa dirinya sendiri, kadang
menangis tanpa alasan, kadang marah tanpa arah.
“Arka…
kamu jangan pergi ya…”
Genggaman
itu begitu erat. Arka hanya diam, ia bukan
tidak ingin menjawab, tetapi karena ia tidak tahu harus berkata apa kepada
seseorang yang bahkan tidak sepenuhnya berada dalam kesadarannya sendiri.
Di
sisi lain, ayahnya bukan orang
yang banyak bicara, tetapi kehadirannya selalu
terasa. Ia bekerja hampir setiap hari, berangkat lebih pagi dan pulang dalam
keadaan lelah, seolah tubuhnya sudah terbiasa menanggung beban yang tidak
pernah benar-benar ringan.
Ia
bukan tipe ayah yang pandai menunjukkan kasih sayang dengan kata-kata. Namun
Arka tahu, dari cara ayahnya memastikan kebutuhan mereka tetap terpenuhi, dari
perhatian-perhatian kecil yang jarang
diucapkan, bahwa ia sangat menyayangi keluarganya. Terutama Arka.
Kadang
ayahnya hanya bertanya singkat, “kamu
butuh apa buat sekolah?” atau memastikan ia sudah makan. Kalimat sederhana itu
tidak pernah terdengar istimewa bagi orang lain, tetapi bagi Arka, itu cukup
untuk membuatnya merasa diperhatikan.
Namun
menjadi kuat setiap hari bukanlah hal yang mudah. Lelah yang terus dipendam,
kekhawatiran yang tidak pernah benar-benar selesai, dan keadaan yang tidak
selalu bisa dikendalikan, perlahan mengikis kesabaran itu. Hingga pada titik
tertentu, semua yang ia tahan selama ini
akhirnya keluar bukan karena ia
tidak sayang, tetapi karena ia terlalu lama berusaha bertahan
sendirian.
Dan
di tengah semua itu, Arka selalu berada di tempat yang sama di antara dua orang yang sama-sama ia
sayangi, di antara dua keadaan yang tidak pernah bisa ia perbaiki.
Sebagai
anak pertama, Arka tidak pernah benar-benar diajari bagaimana cara menjadi
kuat. Ia hanya terbiasa untuk mengerti, bahkan
sebelum ia tahu apa yang sebenarnya harus ia pahami.
Ia
ingin membantu, Ia ingin menenangkan, Ia
ingin membuat semuanya kembali baik-baik saja. Namun setiap kali mencoba,
kata-kata itu selalu berhenti di tenggorokannya. Ia bukan anak yang pandai
berbicara, apalagi untuk mencairkan suasana.
Yang
ia tahu hanyalah bertahan. Namun sebelum ia belajar bertahan, ia pernah
kehilangan kendali.
“kenapa
sih harus begini terus, Bu?!”
“Aku
malu jika ibu seperti ini!”
Suaranya
terdengar keras, bahkan membuat dirinya sendiri terkejut. Ia bahkan membanting
kursi sangat keras dan menutup pintu rumahnya dengan kasar. Ia ingin pergi tapi
ia tak tahu harus pergi ke mana. Arka marah,
marah sekali pada
keadaan seperti ini, pada keluarganya bahkan… pada
Tuhan.
“
kenapa harus aku? ”
“
kenapa hidupku seperti ini? ”
Ia
merasa semuanya dibebankan pada diriny, mulai dari
perekonomian keluarga, rumah yang kacau dan dirinya yang tidak percaya diri karena perasaan
malu yang diam-diam ia bawa ke mana-mana. Ia merasa paling tersakiti.
Ibunya
terdiam, dan untuk beberapa detik, suasana di rumah terasa berhenti sepenuhnya.
Sejak
hari itu, ada sesuatu yang berubah di dalam diri Arka.
Ia
melihat ibunya duduk di sudut ruangan dengan tatapan kosong, seperti seseorang
yang kehilangan arah bahkan untuk dirinya sendiri. Dan saat itulah ia menyadari
bahwa kemarahannya tidak mengubah apa pun, tidak
memperbaiki keadaan, tidak menyembuhkan
siapa pun. Yang ada malah
menambahkan luka baru. Sejak saat itu, Arka berhenti membentak dan berkata keras.
Bukan
karena semuanya menjadi mudah, tetapi karena ia akhirnya memahami bahwa ibunya
tidak pernah memilih untuk menjadi seperti itu.
Yang
tersisa di dalam dirinya bukan lagi sekadar marah, melainkan perasaan
yang jauh lebih rumit dari kasih sayang, rasa
iba, dan kelelahan yang tidak pernah benar-benar tahu harus disimpan di mana.
Dalam diamnya, Arka menyimpan satu
keinginan sederhana yang tidak pernah ia ucapkan,
ia ingin memiliki ibu normal seperti teman-temannya. Ia ingin ibunya bisa
diajak bercerita tentang kehidupan di sekolah dan teman-temannya,
tentang hal-hal yang ia sukai, ibu yang selalu
memberinya semangat dan support.
Namun
karena keinginan itu tidak selalu bisa ia miliki, ia memilih menyimpannya.
Seperti banyak hal lain dalam hidupnya.
Hingga
akhirnya, ia pergi untuk melanjutkan sekolah di kota lain. Hari pertama jauh
dari rumah terasa asing. Tidak ada suara yang tiba-tiba meninggi, tidak ada
ketegangan yang membuatnya harus selalu waspada. Segalanya terasa lebih tenang,
tetapi justru ketenangan itu membuatnya bingung ia
tidak tahu harus merasa lega atau justru kehilangan.
Seiring
waktu, Arka mulai terbiasa.
Ia
bertemu orang-orang yang bisa menerima
kehadiran-nya dan tidak menuntutnya menjadi siapa-siapa, meski
ia lebih sering diam. Dari mereka, ia belajar hal-hal kecil seperti cara
berbicara, cara merawat diri, dan cara memahami perasaannya sendiri.
Tanpa
ia sadari, hatinya mulai berubah.
Ia
tidak lagi sekeras dulu, tidak lagi semarah dulu. Ia mulai kembali berbicara
dengan Tuhan, bukan dengan amarah, tetapi dengan kelelahan yang jujur. Dan
untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa tidak benar-benar
sendirian.
Dan
tanpa terasa, ia sampai di ujung masa sekolahnya. Teman-temannya mulai
berbicara tentang masa depan.
Kuliah, Jurusan, dan
Kampus impian.
Arka terdiam bingung.
Ia
ingin melanjutkan pendidikan. Tapi ia tahu, itu bukan keputusan
sederhana untuk keluarganya.
“Ayah…
kalau aku kuliah?” tanyanya pelan suatu malam lewat telepon.
“kalau
ada uang, lanjut,” jawab ayahnya singkat.
Tidak
ada dukungan besar untuknya. Hanya…
realistis. Arka terdiam lama setelah itu. Sampai ia teringat satu kalimat dari
gurunya yang pernah berkata "Kalau
niatmu kuat dan kamu sungguh-sungguh, Allah pasti buka jalan."
Dan
untuk pertama kalinya, Arka tidak hanya berharap. Ia mencoba percaya.
---
Bagian 2
Setelah
kelulusan dari SMA, hidup terasa berjalan dalam jeda yang
panjang. Hari-hari yang dulu penuh kesibukan kini berubah menjadi ruang kosong pikarannya mana-mana, memberi terlalu banyak waktu bagi Arka
untuk memikirkan masa depan yang belum jelas arahnya.
Ia
kembali ke rumah tempat yang selalu
ia rindukan, sekaligus ia khawatirkan.
Di
sela-sela hari yang tidak menentu, Arka menunggu pengumuman biaya kuliah.
Menunggu kejelasan masa depannya. Sebenarnya, ada keinginan lain yang ia simpan. ia
ingin mencoba masuk ke perguruan tinggi impiannya. Ia ingin membuktikan bahwa
dirinya juga mampu.
Namun
pada akhirnya, ia memilih melepaskan keinginan itu.
Bukan
karena ia menyerah, tetapi karena ia menyadari bahwa tidak semua hal bisa
diperjuangkan hanya dengan keinginan. Biaya pendaftaran, perjalanan, dan segala
kebutuhan lain terasa terlalu berat untuk dipaksakan.
Hari-hari
libur terasa Panjang membuatnya bosan, namun dibalik hal itu ada rasa takut yang mendalam. Takut akan masa depan, takut jika
hidupnya hanya akan berjalan biasa saja.
Padahal,
sejak kecil Arka bukan tanpa pencapaian.
Ia
pernah menjadi salah satu yang terbaik di lingkungan-nya.
Namanya beberapa kali disebut, nilainya cukup baik, dan untuk waktu yang lama,
itu cukup membuatnya merasa berarti.
Di
tempat asalnya, ia seperti ikan kecil di dalam akuarium yang jernih terlihat jelas, cukup menonjol, bahkan
menjadi kebanggaan.
Namun
semua itu berubah ketika ia melangkah ke dunia yang lebih luas.
Di
antara banyak orang yang lebih unggul dan lebih siap, Arka merasa seperti
seekor ikan kecil yang dilepaskan ke lautan luas. Di antara begitu banyak ikan
yang lebih besar dan lebih kuat, keberadaannya terasa memudar.
Apa
yang dulu ia banggakan kini terasa biasa. Apa yang dulu cukup kini terasa
kurang. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa bahwa dirinya belum
sehebat yang selama ini ia kira.
Perasaan
itu semakin nyata ketika suatu malam, keadaan di rumah kembali pecah.
Ibunya
mulai mengoceh tidak jelas dan ayahnya
mencoba menahan diri, tetapi suaranya akhirnya meninggi.
Sebuah
bentakan terdengar.
"Prang!" suara pecahan kaca memecah keheningan malam.
Adiknya
menangis ketakutan.
Arka
tetap berbaring di kamarnya, memejamkan mata dan berpura-pura tidur, meskipun
air matanya mengalir tanpa suara. Dadanya terasa sesak, napasnya tidak teratur,
dan pikirannya dipenuhi kebingungan.
Ia
ingin keluar. Ingin melakukan sesuatu. Namun tubuhnya terasa kaku.
Ia
marah pada keadaan. Namun di saat yang sama, ia juga merasa iba. Ia kasihan
pada ibunya. Dan ia juga memahami ayahnya.
Di
balik suara keras itu, ia tahu—Arka tahu ayahnya bukan sedang membenci. Ia
hanya lelah. Lelah menjaga semuanya tetap utuh ketika keadaan tidak pernah
benar-benar berpihak.
Di
antara dua perasaan itu, Arka terjebak.
Ia
tidak tahu harus memihak siapa.
Karena
keduanya sama-sama terluka.
Di
tengah malam yang gelap, muncul satu keinginan yang tidak bisa terabaikan, ia
ingin kembali ke rantau. Ke tempat di mana ia merasa lebih tenang.
Namun
di saat yang sama, ia juga ingin tetap tinggal.
Ia
terlalu lelah untuk menjelaskan apa pun. Ia bingung memilih untuk diam,
meski dadanya terasa sesak dan tanpa ia
sadari, air matanya jatuh begitu saja.
Dan
untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari bahwa tidak semua hal dalam
hidup bisa ia perbaiki.
Waktu
terus berjalan.
Arka
akhirnya melanjutkan kuliah dengan segala keterbatasan yang ia miliki. Ia
sering merasa tertinggal, dengan ekonomi yang pas-pasan,
untuk makan saja terkadang Arka sangatlah perhitungan karena jumlah uang yang terbatas untuk
memenuhi kebutuhananya, ia merasa tidak bebas
bereksplorasi karena yang ia tahu semuanya butuh uang.
Tidak ada yang bisa dibanggakan darinya.
Namun
ia tetap mencoba.
Ia
mulai berani keluar dari zona nyaman, menghadiri seminar, mengikuti kegiatan
apapun selagi itu tidak mengeluarkan biaya, dan perlahan membuka diri.
Ia
lelah, tetapi tidak berhenti.
Hingga
suatu hari, ia mencoba mendaftar beasiswa.
Dengan
ragu dan takut.
Namun
tetap melangkah.
Dan
ketika hasilnya diumumkan, namanya tercantum di beasiswa tersebut.
Arka
terdiam cukup lama. Air matanya jatuh, bukan karena ia merasa hebat, tetapi
karena untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa usahanya tidak sia-sia.
Malam
itu, ia menatap langit dengan perasaan yang berbeda.
Ia
memang belum menjadi siapa-siapa, bahkan belum
memiliki pencapaian besar.
Namun
ia tidak lagi melihat dirinya sekecil dulu.
Ia
mulai memahami bahwa hidup bukan tentang menjadi yang paling bersinar, melainkan
tentang tetap berjalan meski jalannya gelap.
---
Penutup
Tidak
semua orang memulai hidup dari tempat yang mudah.
Tidak
semua orang tumbuh dengan luka yang sederhana.
Namun
itu tidak pernah menentukan akhir.
Karena
pada akhirnya, orang yang paling kuat bukan mereka yang terlihat hebat, yang
membuat seseorang berarti bukan seberapa besar ia terlihat, melainkan seberapa
kuat ia bertahan, seberapa tulus ia tetap menjaga hatinya, yang tetap memilih
lembut di tengah luka, dan seberapa berani ia terus melangkah meski tidak tahu
akan sampai mana.
Dan
mungkin, menjadi “biasa saja” bukan berarti gagal karena
mampu bertahan, tidak menyerah, dan tetap berjalan di tengah hidup yang tidak
mudah…itu sendiri sudah luar biasa.
Mahasiswa KIP-K angkatan 2025





