Minggu, 19 April 2026

FORMAKIP WALISONGO Gandeng FORMAKIP SENJA Dalam Studi Banding Untuk Wujudkan Kolaborasi Strategis

Foto bersama FORMAKIP WALISONGO DAN FORMAKIP SENJA dalam program studi banding.
 (Sabtu,18/4/2/2026).(Dok.FORMAKIP WALISONGO).


Forum Mahasiswa KIP-K (FORMAKIP) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mengadakan studi banding bersama FORMAKIP SENJA dari UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon pada Sabtu (18/02/2026). Studi banding ini diadakan di ruang teater ISDB Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), Kampus 3 UIN Walisongo Semarang tersebut mengangkat tema "Transformasi FORMAKIP Melalui Pertukaran Intelektual dan Kolaborasi Strategis".

Ketua umum FORMAKIP SENJA Rizki Haikal Isral Maulana menyampaikan tujuan kegiatan studi banding ini tidak terbatas pada program ini saja, melainkan juga terkait program kerja satu sama lain. 

"Kita sepakat melalui tema ini, kita bisa berdiskusi terkait program-program lainnya. Kita bukan hanya membawa ide dari masing-masing kampus, tapi juga menyampaikan aspirasi dari anggotanya,"ucapnya.

Sementara itu, Ketua Umum FORMAKIP WALISONGO, Farhan Ananda Saputra mengungkapkan harapannya terkait sinergi berkelanjutan dari kedua organisasi.

"Diharapkan kita bisa mengambil manfaat sebesar-besarnya satu sama lain. Kami berharap terjadi sinergi berkelanjutan, serta FORMAKIP WALISONGO dan FORMAKIP SENJA bisa terbentuk kolaborasi yang inovatif,"tuturnya. 

Kepala Subbag Administrasi dan Kemahasiswaan UIN Walisongo Semarang, Margono, S.Pd.I. menyampaikan pesan untuk saling berdiskusi terkait solusi organisasi satu sama lain.

"Silahkan apa adanya diberikan, baik yang jelek maupun yang sudah baik. Supaya kita bisa saling memberikan solusi bersama, terkait anggotanya maupun pengurus,"ungkapnya. 

Selain itu, Staff bagian Akademik UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Silvia Indriani, S.Kom.I. turut hadir dan menyampaikan melalui program ini dapat mewujudkan komitmen untuk berkembang bersama antar mahasiswa penerima beasiswa KIP-Kuliah dan dapat bersinergi lebih kuat.

"Bukan hanya formalitas, tetapi wujud komitmen untuk berkembang bersama, menjadi momen tepat untuk berbagi ilmu dan wawasan, dan mempererat tali persaudaraan,"katanya.




Penulis: Ayu Trianasari
Editor: Dwi Endang Setyorini

Sabtu, 18 April 2026

Indonesia



Di antara riuh dan kidung senja,
Aku melihat Indonesia
bukan sekadar nama di peta,
Tapi denyut nadi yang hidup di hati rakyatnya.

Tangan petani menggenggam tanah,
Tawa anak pesisir mengejar ombak merah,
Dan doa ibu di balik kain batik yang ia lukis
Dengan kisah tak tertulis.

Di bawah langit yang sama,
Bahasa berbeda beradu jadi irama,
Dari Sabang hingga Merauke,
Kita bukan satu warna
tapi satu rasa yang berpadu di dada.

Suara berselisih di tengah hiruk perubahan,
Tradisi menatap masa depan
dengan mata penuh harapan.

Indonesia
Engkau bukan hanya sawah dan laut,
Tapi pertemuan antara masa lalu dan cita-cita,
Antara adat yang dijaga dan mimpi yang dibuka.

Selama masih saling menyapa,

Maka Indonesia masih ada,
Dalam perbedaan yang tak memisahkan,
Melainkan memeluk dengan penuh makna.





Zhafirah Yumna
Mahasiswi KIP-K angkatan 2023

Sabtu, 04 April 2026

Lebaran dan Jiwa



Dihari Lebaran,

Kita pulang bukan hanya ke rumah,

Melainkan kembali pada diri yang lama terabaikan.


Maaf yang terucap

Bukan sekadar tradisi,

Tetapi proses penyembuhan

bagi luka yang tak terlihat.


Dalam pelukan hangat,

Emosi yang sempat rapuh

Perlahan menemukan aman,

Seperti jiwa yang dipahami.


Dan akhirnya kita mengerti,

Bahwa pulang yang sesungguhnya

bukan tentang tempat,

Melainkan tentang pulih.



Maulana Azis Bahrudin Al baihaqi

21 maret 2026

Sabtu, 01 November 2025

Sahabatku

 


Sumber: Pixabay.com


Mata yang semakin hari semakin menghitam

Sayup menatap  kabut lurus ke depan

Tubuh  rintih ini menjadi bukti kecewa  yang terdalam  

Bajunya pun terlihat lusuh namun tidak dengan kenangan

Hanya peluh tak butuh keluh

Namun…

Ku butuhkan matamu tuk melihat betapa lelahnya diriku

Ku butuhkan telingamu untuk mendengarkan keluh kesahku

Ku butuhkan bahumu

Tuk menopang tubuh rapuhku

Ku butuhkan juga tanganmu

Tuk gengam dan kuatkan diriku

Yang tak mampu bangkit dari masalalu.  


Penulis : Nina Maulida Fauziah 

Editor : Okti 

Kamis, 25 September 2025

Anak Harapan Keluarga

Sumber: Pixabay .com 

 

Aku dilahirkan bukan sekadar untuk hidup,

Tapi untuk memikul harapan

Yang terlalu berat bagi pundak seorang anak.

 

Di mataku, kulihat ibu menahan tangis,

Di telingaku, kudengar ayah terengah jauh di rantau,

Dan di dadaku, kurasakan retakan

Yang harus kututup dengan senyum pura-pura.

 

Aku belajar menukar mimpi dengan kenyataan,

Menyembunyikan luka demi memberi kekuatan,

Karena bila aku runtuh,

Maka robohlah tiang rumah ini.


Aku ingin bebas seperti kawan sebayaku,

Tapi langkahku terikat hutang-hutang,

Tawaku terkubur oleh beban

Masa mudaku tertukar

Dengan janji menjaga keluarga agar tetap utuh.

 

Orang-orang mungkin melihatku tegar,

Namun di dalam dada ini ada perang yang tak berhenti.

Aku berdiri bukan karena aku kuat,

Tapi karena aku tak punya pilihan selain bertahan.


Aku adalah anak harapan keluarga,

Tiang terakhir di rumah yang rapuh.

Dan bila suatu hari aku patah,

Biarlah dunia tahu aku patah bukan karena kalah,

Melainkan karena aku telah habis-habisan

Menjadi penyangga terakhir bagi keluargaku.




Penulis : Muhammad Zakiyul Wildan 
Editor : Okti

Kamis, 18 September 2025

Rindu yang Tersesat

 

Sumber : Pixabay.com

Entah di mana aku berada

Bingung menamainya.

Kalbu ku penuh  rasa renjana,

juga lara saat tak bersama.

 

Tempat para ahli surga itu,

Membuatku menjadi haru

Tak jarang membuatku sendu,

Sendu karena ku tak mampu,

Bersanding ilmu dengan mereka itu.

 

Ku cari jalan keluar,

namun langkah berputar.

Meski rintang tak gentar,

ku tetap berikhtiar.

 

Usahaku tak henti,

hasilnya Sang Hyang yang tahu.

Aku hanya mencoba,

percaya indah akhirnya.

 

Kini aku berkelana,

Tak pantas tuk menyerah begitu saja,

Doa memandu,

Sang Hyang selalu bersama.


Penulis : Naufal Zufar Athaghozi

Editor : Okti 

Minggu, 14 September 2025

Senandung Asa

 

Sumber :Pixabay.com

Cermin bangsa retak berdarah

Koruptor tertawa di singgasana

"Ke mana sumpah pemuda?" bisik sejarah

"Di mana jiwa proklamasi?" pekik garuda bersayap luka.


Penguasa bertopeng dusta

Mata buta, telinga tuli pada rakyat

Rimba dijual, pertiwi terluka

Lintah serakah menghisap marwah

Rakyat merintih dalam nestapa.


Namun petani tetap menanam asa

Seniman melukis mimpi di kanvas gelap

Tunas muda tumbuh dari bara

Asa berdetak dalam dada yang tetap.


Kupecahkan cermin kebohongan

Dari serpihan lahir kebenaran

Kelak cucu akan bersaksi

Pancaran Nusantara bersinar kembali.


Penulis : Eka Silfia Arini

Editor : Okti 

Jumat, 05 September 2025

Api Merah Putih



Sumber : IStock. com

Di atas tanah yang sedang dijajah,
Mereka berdiri tegap, begitu gagah.
Membela Nusantara tercinta,
Kebanggaan setiap anak bangsa.

Dengan sederhana mereka melangkah,
Hanya bambu runcing di genggaman tangan.
Namun tekad dan semangat merdeka,
Mengiringi langkah melawan penjajah.

Wahai Pahlawan Revolusi,
Perjuanganmu sangatlah kami apresiasi.
Atas nama Bangsa Indonesia,
Kami berjanji menjaga negeri ini
Untuk selama-lamanya.

Penulis : Muhammad Najwan Ramadhan 

Editor : Okti 

Jumat, 29 Agustus 2025

Di Seluruh Dunia

Sumber: Pixabay.com

 



Aku berjalan di sepanjang jalan

Yang ramai lalulalang insan.

Mengamati satu demi satu,

Kesibukan demi kesibukan, insan yang tak ku kenal.

Aku kalut, mencari insan siapa yang tulus pada jiwa ini.

Sesekali berderai air mata ku.

Penat yang tak terperikan ini, akhirnya merenggut tenagaku,

Untuk menelusuri hati yang murni.

Hingga akhirnya kalbuku terbuka,

Di hamparan hidup yang penuh topeng,

Hanya satu jiwa yang tak pernah berpaling.

Dia yang merajut nafasku dari benang kasih,

Mengukir hidupku dengan tinta pengorbanan.

 

Di seluruh dunia yang gaduh,

Hanya dia yang diam-diam menjadi alas nafasku.

Aku, terlalu lamban mengerti bahwa,

Cintanya adalah bahasa tanpa huruf.

Dan ketika semua pintu mengunci,

hanya tubuhnya yang tetap terbuka

seperti bumi memeluk akar, seperti malam merangkul lelah.



Penulis : Novia Triani

Editor : Okti 

Kamis, 21 Agustus 2025

Kita yang Tertinggal di Baris Ketiga

Sumber : Pixabay. com 


Tak ada yang kebetulan bahkan daun jatuh pun sudah ditakdirkan.

Seperti pertemuan dan perpisahan.

Pernah sedekat itu denganmu adalah takdir.

Dan kini seasing ini pun adalah takdir, semua sudah tertulis.

 

Tidak perlu dicari di mana letak kesalahan.

Hanya perlu membiasakan.

Waktu pasti akan memulihkan hati yang sakit.

Terima kasih, kata-kata semangatmu di saat aku rendah diri

Masih membekas dihati dan menjadi motivasi hingga kini.

 

Kritik dan saran yang pernah kau lontarkan masih tersimpan dipikiran.

Kau mengajarkan aku untuk tidak naif dan menganggap semua orang itu baik.

Kau mengajarkanku untuk berdiri di kaki sendiri, sebab apapun yang terjadi hanya diri

sendiri yang paling mengerti.

Aku bisa dengan mudah memulai, tetapi tak pandai mengakhiri.

 

Tak apa, jika saat ini kita tidak pernah lagi bertegur sapa.

Sekali lagi, aku yakin waktu akan memudarkan semua.

Setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya.

Itulah hukum alam dan mungkin, masa kita memang sudah selesai.


Penulis : Ummu Hafadzoh Az Zahra

Editor : Okti 

Minggu, 17 Agustus 2025

AKU TAK PUNYA PIALA

 



Aku tak punya piala

Hanya ada segenggam kecewa

Yang membekas Hingga tak bernyawa

 

Aku tahu hidup bukan perihal juara,

Ia lautan rahasia,

Yang terkadang menenggelamkan,

Terkadang pula mengajarkan uuntuk berenang

 

Jika kau hanya meratapi  kekecewaan

Hidup hanyalah lorong tanpa tujuan

Namun saat ku buka jendela syukur

Cahaya kecil menjelma pelipur

 

Hidup itu tidak selalu tentang  Bahagia

Tetapi cara  kita mengambil hikmah dari hidup

 

Penulis : Lutfia Marisatul Ula

Editor : Okti


FORMAKIP WALISONGO Gandeng FORMAKIP SENJA Dalam Studi Banding Untuk Wujudkan Kolaborasi Strategis

Foto bersama FORMAKIP WALISONGO DAN FORMAKIP SENJA dalam program studi banding.  (Sabtu,18/4/2/2026).(Dok.FORMAKIP WALISONGO). Forum Mah...