formakip walisongo
Formakip Walisongo adalah blog resmi yang menyajikan informasi beasiswa KIP-K UIN Walisongo Semarang, serta kegiatan Permadiksi KIP-K Nasional, Wilayah, dan Cabang. Blog ini bertujuan mendukung mahasiswa dalam mengakses informasi beasiswa, memperkuat jaringan antar penerima, serta mendorong prestasi akademik dan pengembangan diri di lingkungan UIN Walisongo.
Sabtu, 18 April 2026
Indonesia
Sabtu, 04 April 2026
Lebaran dan Jiwa
Dihari Lebaran,
Kita pulang bukan hanya ke rumah,
Melainkan kembali pada diri yang lama terabaikan.
Maaf yang terucap
Bukan sekadar tradisi,
Tetapi proses penyembuhan
bagi luka yang tak terlihat.
Dalam pelukan hangat,
Emosi yang sempat rapuh
Perlahan menemukan aman,
Seperti jiwa yang dipahami.
Dan akhirnya kita mengerti,
Bahwa pulang yang sesungguhnya
bukan tentang tempat,
Melainkan tentang pulih.
Maulana Azis Bahrudin Al baihaqi
21 maret 2026
Sabtu, 01 November 2025
Sahabatku
| Sumber: Pixabay.com |
Mata yang semakin hari semakin
menghitam
Sayup menatap kabut lurus ke depan
Tubuh rintih ini menjadi bukti kecewa yang terdalam
Bajunya pun terlihat lusuh namun tidak dengan
kenangan
Hanya peluh tak butuh keluh
Namun…
Ku butuhkan matamu tuk melihat betapa
lelahnya diriku
Ku butuhkan telingamu untuk
mendengarkan keluh kesahku
Ku butuhkan bahumu
Tuk menopang tubuh rapuhku
Ku butuhkan juga tanganmu
Tuk gengam dan kuatkan diriku
Yang tak mampu bangkit dari masalalu.
Penulis : Nina Maulida Fauziah
Editor : Okti
Kamis, 25 September 2025
Anak Harapan Keluarga
Aku dilahirkan bukan sekadar
untuk hidup,
Tapi untuk memikul harapan
Yang terlalu berat bagi pundak
seorang anak.
Di mataku, kulihat ibu menahan
tangis,
Di telingaku, kudengar ayah
terengah jauh di rantau,
Dan di dadaku, kurasakan retakan
Yang harus kututup dengan senyum
pura-pura.
Aku belajar menukar mimpi dengan
kenyataan,
Menyembunyikan luka demi memberi
kekuatan,
Karena bila aku runtuh,
Maka robohlah tiang rumah ini.
Aku ingin bebas seperti kawan
sebayaku,
Tapi langkahku terikat
hutang-hutang,
Tawaku terkubur oleh beban
Masa mudaku tertukar
Dengan janji menjaga keluarga
agar tetap utuh.
Orang-orang mungkin melihatku
tegar,
Namun di dalam dada ini ada
perang yang tak berhenti.
Aku berdiri bukan karena aku
kuat,
Tapi karena aku tak punya pilihan
selain bertahan.
Aku adalah anak harapan keluarga,
Tiang terakhir di rumah yang
rapuh.
Dan bila suatu hari aku patah,
Biarlah dunia tahu aku patah
bukan karena kalah,
Melainkan karena aku telah
habis-habisan
Menjadi penyangga terakhir bagi
keluargaku.
Kamis, 18 September 2025
Rindu yang Tersesat
| Sumber : Pixabay.com |
Entah di mana aku berada
Bingung menamainya.
Kalbu ku penuh rasa renjana,
juga lara saat tak bersama.
Tempat para ahli surga itu,
Membuatku menjadi haru
Tak jarang membuatku sendu,
Sendu karena ku tak mampu,
Bersanding ilmu dengan mereka
itu.
Ku cari jalan keluar,
namun langkah berputar.
Meski rintang tak gentar,
ku tetap berikhtiar.
Usahaku tak henti,
hasilnya Sang Hyang yang tahu.
Aku hanya mencoba,
percaya indah akhirnya.
Kini aku berkelana,
Tak pantas tuk menyerah begitu
saja,
Doa memandu,
Sang Hyang selalu bersama.
Penulis : Naufal Zufar Athaghozi
Editor : Okti
Minggu, 14 September 2025
Senandung Asa
| Sumber :Pixabay.com |
Cermin bangsa retak berdarah
Koruptor tertawa di singgasana
"Ke mana sumpah pemuda?" bisik sejarah
"Di mana jiwa proklamasi?" pekik garuda bersayap luka.
Penguasa bertopeng dusta
Mata buta, telinga tuli pada rakyat
Rimba dijual, pertiwi terluka
Lintah serakah menghisap marwah
Rakyat merintih dalam nestapa.
Namun petani tetap menanam asa
Seniman melukis mimpi di kanvas gelap
Tunas muda tumbuh dari bara
Asa berdetak dalam dada yang tetap.
Kupecahkan cermin kebohongan
Dari serpihan lahir kebenaran
Kelak cucu akan bersaksi
Pancaran Nusantara bersinar kembali.
Penulis : Eka Silfia Arini
Editor : Okti
Jumat, 05 September 2025
Api Merah Putih
Di atas tanah yang sedang dijajah,
Mereka berdiri tegap, begitu gagah.
Membela Nusantara tercinta,
Kebanggaan setiap anak bangsa.
Dengan sederhana mereka melangkah,
Hanya bambu runcing di genggaman tangan.
Namun tekad dan semangat merdeka,
Mengiringi langkah melawan penjajah.
Wahai Pahlawan Revolusi,
Perjuanganmu sangatlah kami apresiasi.
Atas nama Bangsa Indonesia,
Kami berjanji menjaga negeri ini
Untuk selama-lamanya.
Editor : Okti
Jumat, 29 Agustus 2025
Di Seluruh Dunia
| Sumber: Pixabay.com |
Aku berjalan di sepanjang jalan
Yang ramai lalulalang insan.
Mengamati satu demi satu,
Kesibukan demi kesibukan, insan yang tak ku kenal.
Aku kalut, mencari insan siapa yang tulus pada jiwa ini.
Sesekali berderai air mata ku.
Penat yang tak terperikan ini, akhirnya merenggut tenagaku,
Untuk menelusuri hati yang murni.
Hingga akhirnya kalbuku terbuka,
Di hamparan hidup yang penuh topeng,
Hanya satu jiwa yang tak pernah berpaling.
Dia yang merajut nafasku dari benang kasih,
Mengukir hidupku dengan tinta pengorbanan.
Di seluruh dunia yang gaduh,
Hanya dia yang diam-diam menjadi alas nafasku.
Aku, terlalu lamban mengerti bahwa,
Cintanya adalah bahasa tanpa huruf.
Dan ketika semua pintu mengunci,
hanya tubuhnya yang tetap terbuka
seperti bumi memeluk akar, seperti malam merangkul lelah.
Penulis : Novia Triani
Editor : Okti
Kamis, 21 Agustus 2025
Kita yang Tertinggal di Baris Ketiga
| Sumber : Pixabay. com |
Tak ada yang kebetulan bahkan daun jatuh pun sudah
ditakdirkan.
Seperti pertemuan dan perpisahan.
Pernah sedekat itu denganmu adalah takdir.
Dan kini seasing ini pun adalah takdir, semua sudah
tertulis.
Tidak perlu dicari di mana letak kesalahan.
Hanya perlu membiasakan.
Waktu pasti akan memulihkan hati yang sakit.
Terima kasih, kata-kata semangatmu di saat aku rendah diri
Masih membekas dihati
dan menjadi motivasi hingga kini.
Kritik dan saran yang pernah kau lontarkan masih tersimpan
dipikiran.
Kau mengajarkan aku untuk tidak naif dan menganggap semua
orang itu baik.
Kau mengajarkanku untuk berdiri di kaki sendiri, sebab apapun
yang terjadi hanya diri
sendiri yang paling mengerti.
Aku bisa dengan mudah memulai, tetapi tak pandai mengakhiri.
Tak apa, jika saat ini kita tidak pernah lagi bertegur
sapa.
Sekali lagi, aku yakin waktu akan memudarkan semua.
Setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya.
Itulah hukum alam dan mungkin, masa kita memang sudah
selesai.
Penulis : Ummu Hafadzoh Az Zahra
Editor : Okti
Minggu, 17 Agustus 2025
AKU TAK PUNYA PIALA
Aku tak punya piala
Hanya ada segenggam kecewa
Yang membekas Hingga tak bernyawa
Aku tahu hidup bukan perihal juara,
Ia lautan rahasia,
Yang terkadang menenggelamkan,
Terkadang pula mengajarkan uuntuk
berenang
Jika kau hanya meratapi kekecewaan
Hidup hanyalah lorong tanpa tujuan
Namun saat ku buka jendela syukur
Cahaya kecil menjelma pelipur
Hidup itu tidak selalu tentang Bahagia
Tetapi cara kita mengambil hikmah dari hidup
Penulis : Lutfia Marisatul Ula
Editor : Okti
Minggu, 10 Agustus 2025
Resensi Buku Animal Farm – George Orwell: Alegori Politik yang Tajam dan Abadi
Judul: Animal
Farm
Penulis: George Orwell
Pertama Terbit: 1945
Tebal: 148 halaman
Penerbit: Bentang Pustaka (2016)
Genre: Alegori, Satire, Fabel, Sindiran Politik, Fiksi Distopia
Animal Farm adalah
novel klasik yang menggabungkan kisah fabel sederhana dengan kritik
sosial-politik yang tajam.
Sekilas
Tentang Animal Farm
Novel Animal
Farm karya George Orwell adalah salah satu karya sastra paling
berpengaruh abad ke-20. Dengan latar sebuah peternakan, Orwell menghadirkan
alegori politik yang terinspirasi dari Revolusi Rusia dan rezim totalitarian.
Walau berbentuk kisah hewan, pesan novel ini relevan di berbagai zaman karena
mengangkat isu kekuasaan, propaganda, dan korupsi moral.
Sinopsis
Singkat Animal Farm
Cerita dimulai
dengan pidato Mayor, seekor babi tua, yang memimpikan dunia tanpa penindasan
manusia. Setelah ia meninggal, dua babi cerdas (Napoleon dan Snowball) memimpin
pemberontakan melawan pemilik peternakan, Tuan Jones. Mereka mendirikan Peternakan
Binatang dengan ideologi “Binatangisme” dan tujuh perintah utama, yang
kemudian disederhanakan menjadi semboyan: “Yang berkaki empat baik,
yang berkaki dua jahat.”
Namun,
perebutan kekuasaan membuat Napoleon menyingkirkan Snowball. Dengan propaganda
yang masif, Napoleon mengubah sejarah, menyebarkan ketakutan, dan menuduh
Snowball sebagai biang segala masalah. Perlahan, kehidupan para hewan justru
lebih sengsara dibanding saat diperintah manusia. Salah satu perintah utama pun
diubah menjadi: “Semua hewan setara, tetapi beberapa hewan lebih setara
daripada yang lain.”
Perubahan ini
menjadi simbol kuat bagaimana kekuasaan absolut memutarbalikkan prinsip awal
demi kepentingan segelintir elit.
Kelebihan Animal
Farm
1. Alegori Politik yang Kuat dan Tajam : kritik tajam
terhadap sejarah Revolusi Rusia
dan rezim totalitarianisme. Orwell berhasil menyisipkan simbolisme
politik secara
cerdas dan halus, menjadikan novel ini relevan di berbagai zaman
dan konteks
kekuasaan.
2. Karakter dan Simbolisme yang Bermakna : Setiap tokoh
dalam novel memiliki fungsi
alegoris yang jelas. Napoleon sebagai Stalin, Snowball sebagai
Trotsky, hingga Boxer
sebagai rakyat pekerja yang loyal namun tertindas, memberikan
kedalaman makna
yang kuat.
3. Gaya Bahasa Padat dan Efektif : Orwell
menggunakan gaya bahasa yang lugas namun
sarat makna. Kalimat-kalimatnya tidak bertele-tele, namun berhasil
menyampaikan
kritik sosial dan politik dengan cara yang menggugah pikiran.
4. Struktur Cerita yang Konsisten : Alur maju yang
terstruktur dalam sepuluh bab
membuat perkembangan konflik terasa logis dan menyakitkan sekaligus
mulai dari
euforia revolusi, konflik internal, hingga pembusukan total idealisme awal.
5. Relevansi Sepanjang Masa : Meski terbit
pertama kali pada tahun 1945, pesan Animal
Farm tetap relevan dalam membaca dinamika kekuasaan, propaganda,
dan manipulasi
publik yang masih terjadi hingga kini.
Namun, Dalam buku ini masih terdapat beberapa kesalahan ketik dan istilah asing yang mungkin
membingungkan pembaca awam. Pembaca yang kurang memahami sejarah Revolusi Rusia
juga mungkin melewatkan beberapa simbolisme penting.
Animal Farm adalah novel pendek namun berdampak besar, memadukan kisah
fabel dengan kritik politik yang tajam. George Orwell berhasil menunjukkan
bagaimana revolusi yang lahir dari semangat kesetaraan bisa berubah menjadi
rezim yang menindas. Bagi pencinta sastra, sejarah, maupun politik, Animal
Farm adalah bacaan wajib yang relevan untuk semua generasi.
Editor : Okti
Indonesia
Di antara riuh dan kidung senja, Aku melihat Indonesia bukan sekadar nama di peta, Tapi denyut nadi yang hidup di hati rakyatnya. Tang...
-
Judul: Animal Farm Penulis: George Orwell Pertama Terbit: 1945 Tebal: 148 halaman Penerbit: Bentang Pustaka (2016) Genre: ...
-
Sumber: Pixabay .com Aku dilahirkan bukan sekadar untuk hidup, Tapi untuk memikul harapan Yang terlalu berat bagi pundak seorang an...
