formakip walisongo
Formakip Walisongo adalah blog resmi yang menyajikan informasi beasiswa KIP-K UIN Walisongo Semarang, serta kegiatan Permadiksi KIP-K Nasional, Wilayah, dan Cabang. Blog ini bertujuan mendukung mahasiswa dalam mengakses informasi beasiswa, memperkuat jaringan antar penerima, serta mendorong prestasi akademik dan pengembangan diri di lingkungan UIN Walisongo.
Selasa, 14 Juli 2026
Bawa Perubahan Positif, Tim DHARMAKIP UIN Walisongo Sukses Tuntaskan Pengabdian 4 Hari di Kendal
Sabtu, 04 Juli 2026
TERLAMBAT KARENA KETULUSAN
Kisah ini bermula saat seorang perempuan yang bernama Farihana Aqila Nafida, perempuan itu biasa dipanggil Hana ia lahir sudah 19 tahun yang lalu, ia memiliki hobby menulis diary dan membaca novel fiksi. Hana semasa remaja nya mempunyai teman sebut saja namanya Lida. Dulu Hana sangat baik terhadap Lida, bahkan sudah menganggap Lida itu seperti saudara sendiri. Karena sudah berteman dari kecil sampai jenjang Menengah Pertama, entah kebetulan atau takdir sejak TK. Sampai saat itu, mereka berdua selalu sekolah ditempat yang sama dan anehnya mereka berdua juga selalu satu kelas. Tapi oh tapi, sikap Lida malahan membuat Hana sangat-sangat kecewa. Pada waktu itu Hana hanya bisa ditakdirkan sekolah saja, sedangkan Lida ditakdirkan sekolah sama tinggal di pondok pesantren. Di pesantren Lida, santri-santrinya tidak diperboleh membawa handphone dan kendaraan. Pada waktu itu sekolah mengadakan Class Meeting, dan memperbolehkan para siswanya membawa handphone ke sekolah. Pada saat itu, kebetulan Hana sudah mempunyai handphone, hadiah dari kedua orang tuanya, karena berkat Hana yang selalu belajar dengan sungguh-sungguh tanpa malas-malasan, akhirnya ia bisa masuk peringkat 5 besar di kelasnya.
Dan pada waktu itu Lida tidak membawa handphone, karena di pesantrennya tidak memperbolehkan para santri untuk membawa handphone. Pada saat Class Meeting Lida tidak membawa handphone sendiri, akhirnya Hana mempunyai inisiatif untuk meminjami handphone nya ke Lida, karena Hana merasa kasihan kepada Lida. Sebab teman-teman kelasnya banyak yang main handphone, ada yang mabar, tiktok-kan, fotbar, dll. Mungkin bagi mereka ini kesempatan yang tidak akan datang untuk yang kedua kalinya, bisa membawa handphone ke sekolah. Setiap berangkat atau pulang sekolah Hana hampir sering diantar jemput Lida, ia tanpa meminta imbal balik, itu berlangsung saat Lida tinggal di pesantren.
Suatu hari Hana dan Lida berangkat ke sekolah bareng, dan pada saat itu, kebetulan Lida sedang pulang ke rumah karena ada acara keluarga. Namun, Lida meminta di anterin dulu ke pesantrennya karena mau ambil kaos olah raga-nya yang ketinggalan. Setelah itu, Lida langsung jalan keluar menuju pintu gerbang samping pundok putri untuk menemui Hana lagi, dan langsung berangkat ke sekolah. Sebelum-nya Hana sudah menyalakan motornya, dan langsung tancap gas untuk berangkat menuju ke sekolah.
Sesampainya di parkiran Hana lupa kalau dia belum beli kaos kaki, karena kaos kakinya sudah longgar makanya dia mau ganti kaos kaki. Saat Hana sedang jalan menuju ke sekolah di samping jalan kebetulan ada foto copy yang sudah buka, jadi Hana nyuruh Lida tungguin sebentar ditepi karena ia mau beli kaos kaki. Saat itu Lida juga mau nitip beliin bolpoin, katanya isinya sebentar lagi mau habis, akhirnya dia nitip Hana yang sekalian mau mampir ke foto copy. Hana langsung buru-buru masuk ke toko foto copy-nya, dan ia langsung membeli apa yang diinginkan, setelah dapet Hana langsung antri buat bayar ke kasir, setelah itu ia langsung keluar dari toko.
Tapi apesnya waktu itu, bel sudah menunjukkan pukul 06.54, dan gerbang sebentar lagi akan segera ditutup, Saat itu pada saat mau menyebrang Hana tidak mendenger suara bel sama sekali karena mungkin jarak ia masih jauh. Tapi Lida, dia mungkin mendengar bel tersebut sehingga Lida langsung lari menuju ke sekolah agar dia bisa masuk sebelum gerbang itu akan ditutup. Pas Hana sudah nyebrang ia baru ngeh kalau Lida tidak ada ditempat, Hana menoleh sana-sini mencari keberadaan Lida kemana, di tengah Hana mencari keberadaan nya Lida. Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang lewat di sampingnya Hana sambil bertanya, “Mba nya sedang cari siapa ya?”. Tanya ibu tersebut. “Ibu lihat-lihat dari tadi mba nya kaya sedang mencari seseorang”. Tambanya lagi. Hana pun menjawab, “Hehehe iya bu, aku sedang mencari teman, kalau boleh tahu aku mau tanya, tadi ibu lihat perempuan yang memakai seragam kaya gini gak bu?”. Lalu ibu itu pun menjawab “Ohhh yayaya”, kalau ga salah anak itu sudah masuk ke dalam sekolah sambil lari-lari, mungkin dia takut gerbang sekolahnya keburu di tutup”. Setelah tahu Hana langsung cepet-cepet lari menuju ke sekolah, takut nanti keburu pintu gerbangnya di tutup. Hana tak lupa juga mengucapkan terima kasih kepada ibu-ibu tersebut.
Akhirnya Hana tiba juga di depan pintu gerbang sekolah nya, pada saat ia tiba
di depan pintu gerbang tersebut, sudah dalam keadaan di tutup rapat oleh pak
satpam, mau gka mau Hana harus nunggu di luar sampai pintu gerbang tersebut
akan dibuka oleh pak satpam.
Penulis : Siti Atikotul Farikah
Mahasiswi KIP-K angkatan 2025
Minggu, 21 Juni 2026
Cahaya Sang Empu
Dalam kegelapan, sang empu merintih
Dibalut rasa takut, kepingan luka menetes dari matanya Pandangan telah terbuka
Namun rasanya tak kunjung berbeda
Hari luruh satu persatu
Hingga cahayamu menyusup kecelah yang paling rapuh
Menggenggam penuh harapan
Merakit dengan kehati-hatian
Kau hadir tanpa gemuruh,
Tetapi hangatmu perlahan merakit kembali apa yang telah lama runtuh
Dan kini,
Sang empu belajar tersenyum lagi
Lengkungan bibir manisnya pun kembali berarti
Syaifia Rahma Maulina
Mahasiswi KIP-K angkatan 2025
Selasa, 09 Juni 2026
Formakip Walisongo Undang Sherly Annavita untuk Peringati Harlah ke-13
Sherly Annavita sedang memaparkan materi dalam Talkshow Interaktif Formakip Walisongo di Auditorium Kampus 1 UIN Walisongo,Rabu(3/6/2026).
Forum Mahasiswa KIP-K (Formakip) Walisongo sukses menggelar talkshow interaktif dalam rangka hari lahir (harlah) ke-13 dengan tema _"Krisis Arah Hidup Anak Muda di Era Pilihan Tanpa Batas: Saat Semua Terlihat Mungkin, tapi Arah Justru Menghilang"_ di Auditorium I Kampus 1 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Rabu (3/6/2026).
Acara tersebut dihadiri lebih dari 130 peserta yang turut mengundang _content creator_, aktivis, dan motivator asal Aceh Sherly Annavita Rahmi.
Sherly mengajak untuk keluar dari zona nyaman yang selama ini sering kali menghambat proses.
"Untuk keluar dari 'akuarium' dan berani menjadi 'ikan besar' yang menyelami lautan, artinya kita tidak boleh membatasi diri pada zona nyaman, tetapi harus berani mencoba hal-hal baru dan memperluas pengalaman,"ucapnya
Selain itu, ia juga mengingatkan kita bahwa menjadi anak muda adalah sebuah _privilege_ karena kita masih memiliki banyak kesempatan untuk belajar, gagal, bangkit, dan menemukan arah hidup. Pesan ini sangat relevan bagi generasi muda yang sering merasa bingung menentukan tujuan hidup di tengah begitu banyak pilihan yang tersedia.
Terdapat beberapa rangkaian acara yang diadakan untuk memeriahkan harlah Formakip Walisongo seperti lomba badminton, futsal, KIP-K award, talkshow interaktif dan malam puncaknya diisi gema sholawat yang dihadiri oleh Gus Ambyar dan Gus Harir.
Ketua panitia harlah, Muhammad berharap agar Formakip Walisongo bisa terus maju dan berkembang sehingga bisa terus menjadi wadah bagi penerima beasiswa KIP-K.
"Semoga jangkauan kuantiti Formakip Walisongo bisa lebih luas dan kesadaran para anggota bisa lebih tinggi, mengingat kita adalah orang terpilih yang hendaknya bisa memberikan _feedback_ yang kontributif bagi kampus"katanya.
Penulis : Dwi Endang Setyorini
Minggu, 31 Mei 2026
Simfoni Di bawah Rembulan
Gemerlap debu malam yang rawan menghilang
Melebur dalam indahnya rembulan
Gegap gempita kunang kunang yang telah lama menjauh
Kehausan manusia yang tak kunjung reda
Nuansa kata romansa penuh lirik
Di tepian bibirmu yang manis
Bersendu kala engkau redup
Bergembira kala engkau tersenyum
Ijinkan raga yang tak ragu ini
Bercengkerama dengan lembut tawamu
Dibawah rembulan nan syahdu
Bergema kisah kita abadi
Bahtera asmara ini telah siap
Berkibar dengan riang suka duka
Berlalu untuk menuju cita
Bersama walau tak tahu pasti
Penulis: Aqib Setiawan
Mahasiswa KIP-K angkatan 2025
Minggu, 24 Mei 2026
Liora Halimera
Liora Halimera adalah Perempuan yang lahir dan besar di desa kecil, jauh dari keramaian kota. Hidupnya sederhana, tenang, tapi penuh tuntutan untuk menjadi kuat. Sejak kecil, Liora tinggal bareng kakek dan neneknya. Ibunya meninggal saat dia masih bayi, dan dari merekalah Liora belajar disiplin, mandiri, dan punya mimpi yang tinggi.
Suatu hari, Liora memutuskan untuk pergi merantau ke kota demi melanjutkan pendidikannya. Kampus yang dia masuki bukan kampus impian, jurusannya pun bukan yang dia inginkan sejak awal. Tapi Liora selalu percaya, Tuhan tidak mungkin salah memberikan jalan hidup seseorang.
Di semester satu, Liora menjadi anak yang pendiem, tidak banyak berbicara, lebih sering memperhatikan sekitar. Selain itu, dia juga harus memaksakan diri untuk menerima jurusan yang sebenernya tidak dia pilih. Padahal sebenarnya, Liora tipe orang yang tidak bisa diem. Tetapi setiap di lingkungan dan teman baru, dia butuh adaptasi awalnya saja dia diam tapi nanti setelah sudah merasa nyaman dia akan membaur, dia sebenarnya anaknya asik asal harus ada teman aja.
Untungnya, dia bertemu Diandra. Orang pertama yang mengajak berbicara, karena hal itu Liora tidak merasa sendirian. Diandra itu anaknya baik, kalem, dan sama-sama pendiem. Tapi justru dari situ, Liora mulai merasa aman dan nyaman sama Diana.
Pelan-pelan, Liora mulai ikut beberapa organisasi. Di sanalah dia bertemu orang-orang baru, ketawa tanpa beban, dan merasa hidupnya tidak sesepi itu.
Tapi semester satu tetep jadi fase paling berat buat Liora. Di masa itu, neneknya meninggal. Orang yang paling dia sayang. Hari-hari menjadi terasa lebih lama, capek, dan sunyi. Dia merasa jalan sendirian, tanpa ada yang mengarahkan. Yang dia tau cuma satu dia harus jadi orang sukses dan bisa buat keluarganya bangga.
Walaupun hidupnya tidak sesuai sama yang dia impiin, Liora selalu berusaha untuk bersyukur.
Sampai akhirnya dia ketemu Humaira. Temen yang paling dia sayang. Hidup mereka mirip sekali. Bedanya, Liora kehilangan ibu sejak bayi, sedangkan Humaira kehilangan ayahnya sejak SD. Karena nasib yang hampir sama, mereka menjadi dekat tanpa perlu banyak usaha.
Buat Liora, Humaira bukan sekadar temen. Dia sudah anggap seperti kakak sendiri. Tempat cerita tanpa takut dihakimi. Mereka sering mengobrol apa aja mulai dari keluarga, luka masa lalu, sampe soal percintaan yang anehnya selalu mirip.
Umur mereka beda dua tahun, tapi setiap ngobrol sesalu nyambung.
Suatu hari, mereka lagi ngobrol santai.
“Kak Ra, kakak ngerasa nggak sih?” kata Liora. “Kayaknya kita temenan tuh bukan kebetulan.”
“Iya ihh,” jawab Humaira sambil ketawa. “Mirip banget. Pantes nyambung terus. Sama-sama bulol daddy issue pula,” katanya ngakak.
“Gilaa emang lo,” balas Liora.
“Udah ah,” lanjut Liora. “Nggak usah bahas yang sedih-sedih. Bahas yang happy aja.”
Humaira melamun sebentar.
“Gue tuh bingung, Li. Gue kerja tiap hari isinya cewek semua, umur gue udah 20-an. Jodoh gue ketemu di mana, ya?”
“Di lampu merah kali,” jawab Liora cepet. “Tiba-tiba nyapa, ‘Mbak, namanya siapa?’” Liora ketawa.
“Gilaaa, yakali,” kata Humaira. “Gamau ah. Maunya sama mas Halim aja.”
“Halah, orang nggak pernah ketemu juga,” Liora nyeletuk. “Gimana mau deket? Mau gue ceramahin juga lo nggak mau.”
“Lah lo juga sama,” Humaira ngebales. “Disuruh move on kagak move on. Udah tau sekarang orangnya udah punya pacar.”
“ih apaan dah,” Liora ngedumel. “Setidaknya gue pernah diajak jalan sama makan bareng sebelum kita nggak ketemu lagi. Perasaan gue wajar lah. Gue juga udah usaha move on, kali.”
“Boong,” Humaira ngakak. “Kadang aja lo masih nanya, ‘Gimana ya kalo tiba-tiba gue ketemu dia di jalan?’ atau ‘Ih kok mirip dia?’ gila emang lo.”
“STOP. CUKUP,” potong Liora. “Gue emang gila. Udah ah, gue mau move on. Nggak mau ngarep lagi.”
“Halah,” kata Humaira. “Sekarang ngomong gitu, besok juga ‘gimana ya, gimana ya.’ Dasar lo.”
“Awas aja,” kata Liora setengah kesel. “Kalo gue udah move on nanti, gue beneran nggak mau ngarepin dia lagi.”
Humaira cuma ketawa.
Sementara Liora diem, mikir entah soal masa lalu, atau soal dirinya yang pelan-pelan belajar buat melepaskan saja.
Suatu hari, Liora dan Humaira pergi ke pantai. Angin laut berhembus pelan, ombak datang dan pergi dengan tenang. Di tengah suasana itu, Liora tiba-tiba nyeletuk.
“Kak Hum… kira-kira jodohku nanti kayak gimana ya?” gumam Liora sambil menatap laut.
“Yahh gue juga nggak tau kali, Li. Gue aja udah umur segini belum nemu-nemu,” jawab Humaira dengan nada sedikit kesal.
“Lo mah masih bisa ketemu cowok di kampus atau di mana gitu. Lah gue? Keluar rumah aja jarang. Kalo nggak sama lu, gue nggak ke mana-mana. Mending di rumah,” lanjutnya.
“Yaa iya sih… gue emang masih bisa nemu yang cocok nantinya,” kata Liora pelan.
“Cuma takut aja, Kak. Takut kalo udah nemu, tapi dia nggak bisa nerima kurang-lebihnya gue. Gue ngerasa masih banyak kurangnya, belum cukup baik buat seseorang,” ucapnya dengan nada sedih.
Humaira langsung menoleh.
“Halah, udah nggak usah mikir gitu, Li. Lo tau nggak? Kita tuh bakal keliatan sempurna di mata orang yang tepat,” katanya meyakinkan.
“Tuhan tau mana yang baik buat kita dan mana yang enggak. Yang kadang kita pengen banget tapi nggak dapet, bukan berarti kita nggak cukup baik—tapi karena Tuhan lagi nyiapin yang jauh lebih baik dari yang kita pikirin.”
“Yaa… gimana ya, Kak. Gue overthinking aja,” jawab Liora.
“Takut banget kalo milih pasangan terus salah pilih. Gilaa, seumur hidup itu lama banget. Semoga aja gue ketemu orang yang baik, yang sayang sama gue, nerima kekurangan dan kelebihan gue. Lo juga ya, Kak. Yang baik segalanya,” tambahnya.
Humaira tersenyum kecil.
“Lo udah move on beneran kan, Li, dari Farhan?”
“Udah ah, nggak mau bahas dia lagi, Kak,” jawab Liora cepat.
“Mau move on beneran. Gue nggak mau mikirin dia lagi. Lagian dia udah punya pacar, ngapain juga gue ngarep. Gila kali,” katanya sambil mengibaskan tangan.
Humaira terkekeh.
“Tumben pinter lu. Biasanya agak tolol,” godanya.
“Biasanya jawab lo tuh: ‘ya gas aja sebelum janur kuning melengkung, gue nggak ganggu dia, masih bisa ditikung jalur langit.’ Tapi gue seneng, Li. Lu udah bisa move on.”
“Ya gimana ya… kayaknya emang udah nggak ada perasaan sih, Kak,” kata Liora santai.
“Biasa aja sekarang. Biarin aja dia sama pacarnya. IG Gue di-unfollow sama dia..kayaknya di-unfollow pacarnya deh. Padahal gue nggak ganggu mereka sama sekali. Apa pacarnya cemburu ya karena gue pernah deket?”
“Kayaknya iya kali,” jawab Humaira sambil ketawa.
“Udahlah, keren berarti. Lu bisa bikin pacarnya aja sampe cemburu.”
Liora ikut tertawa.
“Udahlah, Kak. Gue udah move on juga kok. Tapi emang dulu gue segila itu ya? Nggak ada hubungan apa-apa aja move on-nya sampe tiga tahun. gilee emang,” katanya sambil tertawa terbahak-bahak.
“Sekarang gue lega banget, Kak. Rasanya plong. Nggak ada beban hidup.”
Mereka lanjut mengobrol sampai tidak tau sekarang jam berapa, karena terlalu asik. Setelah bertemu dengan Humaira, Liora menjalani hidupnya seperti biasa dan menjali kuliah dengan lapang dada walaupun masih ada sedikit rasa belum ihklas tapi dia tetap menjalaninya.
Penulis: Lutfia Marisatul Ula
Mahasiswa KIP-K angkatan 2025
Minggu, 17 Mei 2026
Pentingnya Peran Orang tua Terhadap Anak
Dukungan orang tua kepada anak yang masih remaja itu sangat penting. Saat saya mempunyai masalah dengan teman. Saya memilih untuk diam dan menyimpannya sendiri dan memutuskan tidak bercerita ke siapa-siapa termasuk orang tua saya. Kemudian apa dampak dari itu saya sering merasa cemas dan gelisah. Pada saat orang tua saya punya waktu luang, akhirnya saya mengungkapkan masalah yang sedang saya hadapi,setelah bercerita saya merasakan ketentraman dan lebih lega. Semenjak itu saya percaya bahwa dukungan orang tua itu sangat berpengaruh pada mental anak.
Saat kita cerita ke orang tua kita tidak mungkin akan di salahkan justru mereka akan membantu menenangkan kita terlebih dahulu, setelah tenang baru kita akan diberi nasehat dan jalan keluar dari masalah tersebut. Mereka juga pernah menjadi anak remaja maka dari itu mereka tahu keputusan mana yang lebih baik dipilih dan mana yang patut dihindari.
Namun, bagaimana dengan anak yang sudah kehilangan orang tua-nya dan mereka yang tidak pernah merasakan peran orang tua mereka. Lalu kepada siapakah mereka bercerita? Mungkin ada teman, saudara. Tapi walaupun itu saudara sendiri dan sedekat apapun akan terasa beda karena ikatannya tidak sedekat sama orang tua sendiri. Mungkin psikolog bisa bantu akan tetapi sebagian dari mereka tidak rela mengeluarkan uang hanya untuk sekedar bercerita.
Menurut pandangan saya, jika ada orang terdekatmu ingin bercerita maka luangkanlah waktumu dengarkan cerita mereka. Mereka hanya butuh tempat untuk bercerita akan beratnya masalah yang mereka alami, mereka butuh tempat untuk berkeluh kesah. Walaupun ikatannya tidak sekuat orang tua akan tetapi lingkungan bisa menjadi pengganti support system. Terutama teruntuk mereka yang tidak punya keluarga yang utuh.
Jadi, sudah sangat jelas bahwa dukungan orang tua itu sangat penting terhadap kesehatan mental anak, dan sebagai orang tua seharusnya bisa meluangkan waktu untuk anak-anaknya, menanyakan kabar setiap hari. Saya berharap masyarakat juga lebih peduli ke orang lain apalagi ketika ada seseorang terdekat yang kehilangan sosok orang tua.
Penulis: Zalva Zakiya Syaputri
Mahasiswa KIP-K angkatan 2025
Minggu, 10 Mei 2026
Yang Tidak Pernah Ia Katakan
Bagian 1
Namanya
Arka.
Nama
yang sederhana, tidak banyak orang mengenalnya.
Seperti hidup yang ia jalani tidak
pernah benar-benar menonjol, tetapi selalu ada, diam-diam bertahan di antara
hal-hal yang terlalu rumit untuk ia ceritakan.
Arka
tumbuh di sebuah rumah yang tidak selalu berisik, tetapi juga tidak pernah
benar-benar tenang. Keheningan di dalam rumahnya bukan
yang menenangkan, melainkan keheningan yang menyimpan banyak hal yang tidak
pernah diungkapkan.
Di beberapa hari ini,
rumah itu terasa hangat.
Ibunya
bangun lebih pagi, ia memasak sarapan
dengan tenang lalu memanggil Arka dengan
suara lembut yang selalu ia
rindukan.
“Arka…
makan dulu.”
Kalimat
itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat Arka duduk lebih lama di dekatnya. Ia
memperhatikan setiap gerakan kecil dan ekspresi ibunya
yang terasa utuh, seolah-olah dengan mengingatnya lebih lama, semuanya tidak
akan berubah.
Namun, hidup
tidak pernah memberi kepastian untuk
harapan-harapan kecil seperti itu. Karena ada hari lain. Hari yang datang tanpa
aba-aba.
Di
hari itu, ibunya tetap menjadi sosok yang ia
sayangi, tetapi pikirannya berjalan terlalu jauh.
Ucapannya terbata-bata, emosinya berubah tak beraturan, dan tatapannya sering kali terasa asing.
Ibunya
sakit.
Bukan
sakit yang bisa sembuh dengan pengobatan sekejap atau
istirahat semalam. Sakit yang membuatnya kadang lupa dirinya sendiri, kadang
menangis tanpa alasan, kadang marah tanpa arah.
“Arka…
kamu jangan pergi ya…”
Genggaman
itu begitu erat. Arka hanya diam, ia bukan
tidak ingin menjawab, tetapi karena ia tidak tahu harus berkata apa kepada
seseorang yang bahkan tidak sepenuhnya berada dalam kesadarannya sendiri.
Di
sisi lain, ayahnya bukan orang
yang banyak bicara, tetapi kehadirannya selalu
terasa. Ia bekerja hampir setiap hari, berangkat lebih pagi dan pulang dalam
keadaan lelah, seolah tubuhnya sudah terbiasa menanggung beban yang tidak
pernah benar-benar ringan.
Ia
bukan tipe ayah yang pandai menunjukkan kasih sayang dengan kata-kata. Namun
Arka tahu, dari cara ayahnya memastikan kebutuhan mereka tetap terpenuhi, dari
perhatian-perhatian kecil yang jarang
diucapkan, bahwa ia sangat menyayangi keluarganya. Terutama Arka.
Kadang
ayahnya hanya bertanya singkat, “kamu
butuh apa buat sekolah?” atau memastikan ia sudah makan. Kalimat sederhana itu
tidak pernah terdengar istimewa bagi orang lain, tetapi bagi Arka, itu cukup
untuk membuatnya merasa diperhatikan.
Namun
menjadi kuat setiap hari bukanlah hal yang mudah. Lelah yang terus dipendam,
kekhawatiran yang tidak pernah benar-benar selesai, dan keadaan yang tidak
selalu bisa dikendalikan, perlahan mengikis kesabaran itu. Hingga pada titik
tertentu, semua yang ia tahan selama ini
akhirnya keluar bukan karena ia
tidak sayang, tetapi karena ia terlalu lama berusaha bertahan
sendirian.
Dan
di tengah semua itu, Arka selalu berada di tempat yang sama di antara dua orang yang sama-sama ia
sayangi, di antara dua keadaan yang tidak pernah bisa ia perbaiki.
Sebagai
anak pertama, Arka tidak pernah benar-benar diajari bagaimana cara menjadi
kuat. Ia hanya terbiasa untuk mengerti, bahkan
sebelum ia tahu apa yang sebenarnya harus ia pahami.
Ia
ingin membantu, Ia ingin menenangkan, Ia
ingin membuat semuanya kembali baik-baik saja. Namun setiap kali mencoba,
kata-kata itu selalu berhenti di tenggorokannya. Ia bukan anak yang pandai
berbicara, apalagi untuk mencairkan suasana.
Yang
ia tahu hanyalah bertahan. Namun sebelum ia belajar bertahan, ia pernah
kehilangan kendali.
“kenapa
sih harus begini terus, Bu?!”
“Aku
malu jika ibu seperti ini!”
Suaranya
terdengar keras, bahkan membuat dirinya sendiri terkejut. Ia bahkan membanting
kursi sangat keras dan menutup pintu rumahnya dengan kasar. Ia ingin pergi tapi
ia tak tahu harus pergi ke mana. Arka marah,
marah sekali pada
keadaan seperti ini, pada keluarganya bahkan… pada
Tuhan.
“
kenapa harus aku? ”
“
kenapa hidupku seperti ini? ”
Ia
merasa semuanya dibebankan pada diriny, mulai dari
perekonomian keluarga, rumah yang kacau dan dirinya yang tidak percaya diri karena perasaan
malu yang diam-diam ia bawa ke mana-mana. Ia merasa paling tersakiti.
Ibunya
terdiam, dan untuk beberapa detik, suasana di rumah terasa berhenti sepenuhnya.
Sejak
hari itu, ada sesuatu yang berubah di dalam diri Arka.
Ia
melihat ibunya duduk di sudut ruangan dengan tatapan kosong, seperti seseorang
yang kehilangan arah bahkan untuk dirinya sendiri. Dan saat itulah ia menyadari
bahwa kemarahannya tidak mengubah apa pun, tidak
memperbaiki keadaan, tidak menyembuhkan
siapa pun. Yang ada malah
menambahkan luka baru. Sejak saat itu, Arka berhenti membentak dan berkata keras.
Bukan
karena semuanya menjadi mudah, tetapi karena ia akhirnya memahami bahwa ibunya
tidak pernah memilih untuk menjadi seperti itu.
Yang
tersisa di dalam dirinya bukan lagi sekadar marah, melainkan perasaan
yang jauh lebih rumit dari kasih sayang, rasa
iba, dan kelelahan yang tidak pernah benar-benar tahu harus disimpan di mana.
Dalam diamnya, Arka menyimpan satu
keinginan sederhana yang tidak pernah ia ucapkan,
ia ingin memiliki ibu normal seperti teman-temannya. Ia ingin ibunya bisa
diajak bercerita tentang kehidupan di sekolah dan teman-temannya,
tentang hal-hal yang ia sukai, ibu yang selalu
memberinya semangat dan support.
Namun
karena keinginan itu tidak selalu bisa ia miliki, ia memilih menyimpannya.
Seperti banyak hal lain dalam hidupnya.
Hingga
akhirnya, ia pergi untuk melanjutkan sekolah di kota lain. Hari pertama jauh
dari rumah terasa asing. Tidak ada suara yang tiba-tiba meninggi, tidak ada
ketegangan yang membuatnya harus selalu waspada. Segalanya terasa lebih tenang,
tetapi justru ketenangan itu membuatnya bingung ia
tidak tahu harus merasa lega atau justru kehilangan.
Seiring
waktu, Arka mulai terbiasa.
Ia
bertemu orang-orang yang bisa menerima
kehadiran-nya dan tidak menuntutnya menjadi siapa-siapa, meski
ia lebih sering diam. Dari mereka, ia belajar hal-hal kecil seperti cara
berbicara, cara merawat diri, dan cara memahami perasaannya sendiri.
Tanpa
ia sadari, hatinya mulai berubah.
Ia
tidak lagi sekeras dulu, tidak lagi semarah dulu. Ia mulai kembali berbicara
dengan Tuhan, bukan dengan amarah, tetapi dengan kelelahan yang jujur. Dan
untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa tidak benar-benar
sendirian.
Dan
tanpa terasa, ia sampai di ujung masa sekolahnya. Teman-temannya mulai
berbicara tentang masa depan.
Kuliah, Jurusan, dan
Kampus impian.
Arka terdiam bingung.
Ia
ingin melanjutkan pendidikan. Tapi ia tahu, itu bukan keputusan
sederhana untuk keluarganya.
“Ayah…
kalau aku kuliah?” tanyanya pelan suatu malam lewat telepon.
“kalau
ada uang, lanjut,” jawab ayahnya singkat.
Tidak
ada dukungan besar untuknya. Hanya…
realistis. Arka terdiam lama setelah itu. Sampai ia teringat satu kalimat dari
gurunya yang pernah berkata "Kalau
niatmu kuat dan kamu sungguh-sungguh, Allah pasti buka jalan."
Dan
untuk pertama kalinya, Arka tidak hanya berharap. Ia mencoba percaya.
---
Bagian 2
Setelah
kelulusan dari SMA, hidup terasa berjalan dalam jeda yang
panjang. Hari-hari yang dulu penuh kesibukan kini berubah menjadi ruang kosong pikarannya mana-mana, memberi terlalu banyak waktu bagi Arka
untuk memikirkan masa depan yang belum jelas arahnya.
Ia
kembali ke rumah tempat yang selalu
ia rindukan, sekaligus ia khawatirkan.
Di
sela-sela hari yang tidak menentu, Arka menunggu pengumuman biaya kuliah.
Menunggu kejelasan masa depannya. Sebenarnya, ada keinginan lain yang ia simpan. ia
ingin mencoba masuk ke perguruan tinggi impiannya. Ia ingin membuktikan bahwa
dirinya juga mampu.
Namun
pada akhirnya, ia memilih melepaskan keinginan itu.
Bukan
karena ia menyerah, tetapi karena ia menyadari bahwa tidak semua hal bisa
diperjuangkan hanya dengan keinginan. Biaya pendaftaran, perjalanan, dan segala
kebutuhan lain terasa terlalu berat untuk dipaksakan.
Hari-hari
libur terasa Panjang membuatnya bosan, namun dibalik hal itu ada rasa takut yang mendalam. Takut akan masa depan, takut jika
hidupnya hanya akan berjalan biasa saja.
Padahal,
sejak kecil Arka bukan tanpa pencapaian.
Ia
pernah menjadi salah satu yang terbaik di lingkungan-nya.
Namanya beberapa kali disebut, nilainya cukup baik, dan untuk waktu yang lama,
itu cukup membuatnya merasa berarti.
Di
tempat asalnya, ia seperti ikan kecil di dalam akuarium yang jernih terlihat jelas, cukup menonjol, bahkan
menjadi kebanggaan.
Namun
semua itu berubah ketika ia melangkah ke dunia yang lebih luas.
Di
antara banyak orang yang lebih unggul dan lebih siap, Arka merasa seperti
seekor ikan kecil yang dilepaskan ke lautan luas. Di antara begitu banyak ikan
yang lebih besar dan lebih kuat, keberadaannya terasa memudar.
Apa
yang dulu ia banggakan kini terasa biasa. Apa yang dulu cukup kini terasa
kurang. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa bahwa dirinya belum
sehebat yang selama ini ia kira.
Perasaan
itu semakin nyata ketika suatu malam, keadaan di rumah kembali pecah.
Ibunya
mulai mengoceh tidak jelas dan ayahnya
mencoba menahan diri, tetapi suaranya akhirnya meninggi.
Sebuah
bentakan terdengar.
"Prang!" suara pecahan kaca memecah keheningan malam.
Adiknya
menangis ketakutan.
Arka
tetap berbaring di kamarnya, memejamkan mata dan berpura-pura tidur, meskipun
air matanya mengalir tanpa suara. Dadanya terasa sesak, napasnya tidak teratur,
dan pikirannya dipenuhi kebingungan.
Ia
ingin keluar. Ingin melakukan sesuatu. Namun tubuhnya terasa kaku.
Ia
marah pada keadaan. Namun di saat yang sama, ia juga merasa iba. Ia kasihan
pada ibunya. Dan ia juga memahami ayahnya.
Di
balik suara keras itu, ia tahu—Arka tahu ayahnya bukan sedang membenci. Ia
hanya lelah. Lelah menjaga semuanya tetap utuh ketika keadaan tidak pernah
benar-benar berpihak.
Di
antara dua perasaan itu, Arka terjebak.
Ia
tidak tahu harus memihak siapa.
Karena
keduanya sama-sama terluka.
Di
tengah malam yang gelap, muncul satu keinginan yang tidak bisa terabaikan, ia
ingin kembali ke rantau. Ke tempat di mana ia merasa lebih tenang.
Namun
di saat yang sama, ia juga ingin tetap tinggal.
Ia
terlalu lelah untuk menjelaskan apa pun. Ia bingung memilih untuk diam,
meski dadanya terasa sesak dan tanpa ia
sadari, air matanya jatuh begitu saja.
Dan
untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari bahwa tidak semua hal dalam
hidup bisa ia perbaiki.
Waktu
terus berjalan.
Arka
akhirnya melanjutkan kuliah dengan segala keterbatasan yang ia miliki. Ia
sering merasa tertinggal, dengan ekonomi yang pas-pasan,
untuk makan saja terkadang Arka sangatlah perhitungan karena jumlah uang yang terbatas untuk
memenuhi kebutuhananya, ia merasa tidak bebas
bereksplorasi karena yang ia tahu semuanya butuh uang.
Tidak ada yang bisa dibanggakan darinya.
Namun
ia tetap mencoba.
Ia
mulai berani keluar dari zona nyaman, menghadiri seminar, mengikuti kegiatan
apapun selagi itu tidak mengeluarkan biaya, dan perlahan membuka diri.
Ia
lelah, tetapi tidak berhenti.
Hingga
suatu hari, ia mencoba mendaftar beasiswa.
Dengan
ragu dan takut.
Namun
tetap melangkah.
Dan
ketika hasilnya diumumkan, namanya tercantum di beasiswa tersebut.
Arka
terdiam cukup lama. Air matanya jatuh, bukan karena ia merasa hebat, tetapi
karena untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa usahanya tidak sia-sia.
Malam
itu, ia menatap langit dengan perasaan yang berbeda.
Ia
memang belum menjadi siapa-siapa, bahkan belum
memiliki pencapaian besar.
Namun
ia tidak lagi melihat dirinya sekecil dulu.
Ia
mulai memahami bahwa hidup bukan tentang menjadi yang paling bersinar, melainkan
tentang tetap berjalan meski jalannya gelap.
---
Penutup
Tidak
semua orang memulai hidup dari tempat yang mudah.
Tidak
semua orang tumbuh dengan luka yang sederhana.
Namun
itu tidak pernah menentukan akhir.
Karena
pada akhirnya, orang yang paling kuat bukan mereka yang terlihat hebat, yang
membuat seseorang berarti bukan seberapa besar ia terlihat, melainkan seberapa
kuat ia bertahan, seberapa tulus ia tetap menjaga hatinya, yang tetap memilih
lembut di tengah luka, dan seberapa berani ia terus melangkah meski tidak tahu
akan sampai mana.
Dan
mungkin, menjadi “biasa saja” bukan berarti gagal karena
mampu bertahan, tidak menyerah, dan tetap berjalan di tengah hidup yang tidak
mudah…itu sendiri sudah luar biasa.
Mahasiswa KIP-K angkatan 2025
Sabtu, 02 Mei 2026
LANGKAH DI KOTA ORANG
Sebuah kereta, berhenti perlahan di stasiun yang asing bagi Briya. Ia menggenggam kopernya dengan sangat erat, matanya memperhatikan sekeliling yang begitu ramai. Suara orang-orang, pengumuman dari stasiun, serta riuh nya kota terasa sangat berbeda dari kampung halamannya yang begitu tenang. Dan di hari itu, Briya resmi menjadi seorang mahasiswi.
Bukan di halaman tempat ia lahir dan dibesarkan, namun di kota orang yang penuh dengan mimpi, tantangan, dan harapan.
“Jaga diri baik-baik ya, mba” pesan ibu Briya tadi pagi saat mengantarkan Briya ke stasiun.
“Iya ibu, bapak, ibu, adek-adek juga sehat-sehat ya,” jawab Briya dengan ukiran senyum di bibirnya, meskipun dalam hatinya banyak rasa takut yang ia rasakan.
***
Hari pertama di kos, Briya duduk sendirian di kamar kecil dan sunyi itu. Dindingnya putih polos, hanya ada tempat tidur dan lemari sederhana. Tidak ada suara panggilan dari Ayah, candaan kecil dari adik-adiknya, dan yang paling dirindukan aroma masakan rumah oleh Ibu.
Sangat sunyi..
Malam itu, untuk pertama kalinya Briya menangis diam-diam. “Aku kangen rumah…” celetuknya pelan di tengah suara lirihan tangisnya.
***
Di hari pertama kuliah terasa berat. Briya harus beradaptasi dengan lingkungan baru, teman-teman baru, dan cara belajar yang jauh berbeda. Dosen mengajar dengan sangat cepat, tugas datang bertubi-tubi tiada henti, dan semuanya terasa menuntut.
Di kelas, Briya lebih sering memilih diam. Ia belum berani berbicara banyak. Sedangkan teman-temannya tampak lebih percaya diri, lebih pintar, dan lebih siap.
Ia mulai merasa kecil dengan dirinya. Ia menatap sekeliling kelas lama. Perasaan kecewa, lelah, dan rindu rumah bercampur menjadi satu, “Mungkin aku kurang cocok di jurusan ini…” batinnya.
Di malam harinya, Briya menelpon ibunya, “Ibu…” lirihnya dengan suara bergetar. “Dalem, mba… Gimana kuliahnya? Lancar?.” mendengar pertanyaan dari Ibunya, Briya terdiam sejenak, lalu akhirnya berkata, “Aku cape, bu…” mendengar jawaban dari Briya, Ibunya tidak langsung menjawab, Ia menghela nafas pelan, “Mbak inget tujuan mba datang kesana?” tanya ibunya lembut. “Iya, ibu… buat belajar, masa depan,” jawab Briya pelan, “Nggeh itu, semua yang Mbak rasakan adalah bagian dari proses nya Mbak di sana, boleh capek Mbak, tapi jangan pernah nyerah ya, gapai mimpi mba, doa bapak ibu selalu menyertai mba disana nggeh.” jelas ibu Briya berusaha menenangkan.
Lila mengusap air matanya, kalimat yang dilontarkan ibunya cukup sederhana, tapi sangat cukup untuk membuatnya selalu bertahan dan berjuang.
Sejak malam itu, Briya mulai mencoba lagi. Ia memberanikan diri untuk bertanya di kelas, meskipun suaranya masih pelan dan ragu. Ia mulai belajar bersama teman-temannya. Ia juga mulai berani mengambil langkah baru dan mencoba hal baru. Ia mengatur waktunya lebih baik, antara belajar, kegiatan, istirahat dan dirinya sendiri.
Baginya tidak mudah, ada hari dimana ia merasa kuat, ada juga hari dimana ia ingin sekali menyerah. Namun perlahan, Briya mulai menemukan ritmenya. Ia mulai terbiasa sendiri, terbiasa makan sendiri di kos, mulai menikmati perjalanannya ke kampus. Bahkan mulai tertawa bersama teman-teman barunya di perantauan.
Kota yang awalnya terasa asing baginya, perlahan menjadi tempat yang mulai nyaman.
***
Suatu hari, saat Briya duduk di taman kampus, ia tersenyum sendiri. Ia teringat malam pertama di kost, sering merasa kesepian, lelah, dan selalu ingin pulang. Sekarang, ia masih sangat rindu rumah, rindu suasana rumahnya yang selalu ramai dan hangat.
Tapi ia tidak lagi merasa sendirian. Karena ia tahu, setiap langkah kecil yang ia ambil adalah bagian dari perjuangan menuju masa depannya. Perjuangan untuk menjadi lebih kuat, lebih mandiri, dan terpenting lebih dewasa. Briya mendongak keatas, menatap langit sore yang perlahan berubah jingga, “Terima kasih udah bertahan, dan tidak menyerah.” bisiknya pada diri sendiri.
Di kota orang ini, Briya belajar satu hal sangat penting, bahwa jauh dari rumah bukan berarti kita akan kehilangan arah. Terkadang, justru di tempat yang baru, seseorang akan menemukan siapa dirinya yang sebenarnya.
Penulis: Marselina Dwi Febriyanti
Mahasiswi penerima KIP-K angkatan 2025
Rabu, 29 April 2026
FORMAKIP WALISONGO Sukses Gelar MAKAPURI Guna Kuatkan Silaturahmi
Departemen Pengembangan Sumber Daya Organisasi (PSDO) FORMAKIP WALISONGO berhasil menyelenggarakan Malam Keakraban Penuh Cerita dan Silaturahmi (Makapuri) selama dua hari penuh pada Sabtu–Minggu, 25–26 April 2026, bertempat di Lembah Nirwana, Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
Kegiatan ini diikuti oleh 192 mahasiswa Angkatan 2025 dan menjadi momentum penting dalam mempererat tali persaudaraan serta membangun fondasi relasi antarmahasiswa sesama penerima beasiswa KIP-K.
Makapuri merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Departemen PSDO yang mencakup diskusi, hiburan, hingga perkenalan resmi jajaran pengurus angkatan. Tema yang diangkat adalah “Malam Keakraban Penuh Cerita”.
Hari pertama diisi dengan pemateri Ratnawati S.Pd, serta sejumlah demisioner terdahulu yang turut memberikan semangat dan motivasi kepada para peserta. Pada sore hingga malam hari, acara diramaikan dengan sarasehan angkatan berupa perkenalan resmi Badan Pengurus Harian (BPH) Angkatan 2025, sesi tukar kado, serta ditutup dengan nonton bareng (nobar) sebagai ajang relaksasi bersama.
Memasuki hari kedua, di isi dengan berbagai lomba-lomba menarik yang dirancang untuk menghibur sekaligus mempererat kompetisi sehat di antara seluruh peserta Angkatan 2025. Rangkaian perlombaan ini menjadi penutup yang meriah sekaligus berkesan bagi seluruh pihak yang terlibat.
Ketua pelaksana Makapuri, Feri Yulianto berharap ke depannya angkatan 2025 bisa saling mengenal satu sama lain.
"Harapannya untuk makapuri ke depannya angkatan 2025 bisa mengenal teman satu sama lain, tidak hanya dalam pencairan saja tetapi dalam kebutuhan yang lain, saling tolong menolong serta menguatkan rasa pertemanan dan relasi,". ujarnya.
Penulis: Krisna
Editor:Dwi Endang Setyorini
Bawa Perubahan Positif, Tim DHARMAKIP UIN Walisongo Sukses Tuntaskan Pengabdian 4 Hari di Kendal
KENDAL, 12 Juli 2026 - Komitmen untuk mengabdi dan membawa dampak nyata bagi masyarakat sukses diwujudkan oleh tim mahasiswa DHARMAKIP (Dha...
-
Judul: Animal Farm Penulis: George Orwell Pertama Terbit: 1945 Tebal: 148 halaman Penerbit: Bentang Pustaka (2016) Genre: ...
-
Sumber: Pixabay .com Aku dilahirkan bukan sekadar untuk hidup, Tapi untuk memikul harapan Yang terlalu berat bagi pundak seorang an...

.jpg)






