Sebuah kereta, berhenti perlahan di stasiun yang asing bagi Briya. Ia menggenggam kopernya dengan sangat erat, matanya memperhatikan sekeliling yang begitu ramai. Suara orang-orang, pengumuman dari stasiun, serta riuh nya kota terasa sangat berbeda dari kampung halamannya yang begitu tenang. Dan di hari itu, Briya resmi menjadi seorang mahasiswi.
Bukan di halaman tempat ia lahir dan dibesarkan, namun di kota orang yang penuh dengan mimpi, tantangan, dan harapan.
“Jaga diri baik-baik ya, mba” pesan ibu Briya tadi pagi saat mengantarkan Briya ke stasiun.
“Iya ibu, bapak, ibu, adek-adek juga sehat-sehat ya,” jawab Briya dengan ukiran senyum di bibirnya, meskipun dalam hatinya banyak rasa takut yang ia rasakan.
***
Hari pertama di kos, Briya duduk sendirian di kamar kecil dan sunyi itu. Dindingnya putih polos, hanya ada tempat tidur dan lemari sederhana. Tidak ada suara panggilan dari Ayah, candaan kecil dari adik-adiknya, dan yang paling dirindukan aroma masakan rumah oleh Ibu.
Sangat sunyi..
Malam itu, untuk pertama kalinya Briya menangis diam-diam. “Aku kangen rumah…” celetuknya pelan di tengah suara lirihan tangisnya.
***
Di hari pertama kuliah terasa berat. Briya harus beradaptasi dengan lingkungan baru, teman-teman baru, dan cara belajar yang jauh berbeda. Dosen mengajar dengan sangat cepat, tugas datang bertubi-tubi tiada henti, dan semuanya terasa menuntut.
Di kelas, Briya lebih sering memilih diam. Ia belum berani berbicara banyak. Sedangkan teman-temannya tampak lebih percaya diri, lebih pintar, dan lebih siap.
Ia mulai merasa kecil dengan dirinya. Ia menatap sekeliling kelas lama. Perasaan kecewa, lelah, dan rindu rumah bercampur menjadi satu, “Mungkin aku kurang cocok di jurusan ini…” batinnya.
Di malam harinya, Briya menelpon ibunya, “Ibu…” lirihnya dengan suara bergetar. “Dalem, mba… Gimana kuliahnya? Lancar?.” mendengar pertanyaan dari Ibunya, Briya terdiam sejenak, lalu akhirnya berkata, “Aku cape, bu…” mendengar jawaban dari Briya, Ibunya tidak langsung menjawab, Ia menghela nafas pelan, “Mbak inget tujuan mba datang kesana?” tanya ibunya lembut. “Iya, ibu… buat belajar, masa depan,” jawab Briya pelan, “Nggeh itu, semua yang Mbak rasakan adalah bagian dari proses nya Mbak di sana, boleh capek Mbak, tapi jangan pernah nyerah ya, gapai mimpi mba, doa bapak ibu selalu menyertai mba disana nggeh.” jelas ibu Briya berusaha menenangkan.
Lila mengusap air matanya, kalimat yang dilontarkan ibunya cukup sederhana, tapi sangat cukup untuk membuatnya selalu bertahan dan berjuang.
Sejak malam itu, Briya mulai mencoba lagi. Ia memberanikan diri untuk bertanya di kelas, meskipun suaranya masih pelan dan ragu. Ia mulai belajar bersama teman-temannya. Ia juga mulai berani mengambil langkah baru dan mencoba hal baru. Ia mengatur waktunya lebih baik, antara belajar, kegiatan, istirahat dan dirinya sendiri.
Baginya tidak mudah, ada hari dimana ia merasa kuat, ada juga hari dimana ia ingin sekali menyerah. Namun perlahan, Briya mulai menemukan ritmenya. Ia mulai terbiasa sendiri, terbiasa makan sendiri di kos, mulai menikmati perjalanannya ke kampus. Bahkan mulai tertawa bersama teman-teman barunya di perantauan.
Kota yang awalnya terasa asing baginya, perlahan menjadi tempat yang mulai nyaman.
***
Suatu hari, saat Briya duduk di taman kampus, ia tersenyum sendiri. Ia teringat malam pertama di kost, sering merasa kesepian, lelah, dan selalu ingin pulang. Sekarang, ia masih sangat rindu rumah, rindu suasana rumahnya yang selalu ramai dan hangat.
Tapi ia tidak lagi merasa sendirian. Karena ia tahu, setiap langkah kecil yang ia ambil adalah bagian dari perjuangan menuju masa depannya. Perjuangan untuk menjadi lebih kuat, lebih mandiri, dan terpenting lebih dewasa. Briya mendongak keatas, menatap langit sore yang perlahan berubah jingga, “Terima kasih udah bertahan, dan tidak menyerah.” bisiknya pada diri sendiri.
Di kota orang ini, Briya belajar satu hal sangat penting, bahwa jauh dari rumah bukan berarti kita akan kehilangan arah. Terkadang, justru di tempat yang baru, seseorang akan menemukan siapa dirinya yang sebenarnya.
Penulis: Marselina Dwi Febriyanti
Mahasiswi penerima KIP-K angkatan 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar