Minggu, 10 Mei 2026

Yang Tidak Pernah Ia Katakan

 

https://pixabay.com/photos/female-headscarf-back-person-human


Bagian 1

Namanya Arka.

Nama yang sederhana, tidak banyak orang mengenalnya. Seperti hidup yang ia jalani tidak pernah benar-benar menonjol, tetapi selalu ada, diam-diam bertahan di antara hal-hal yang terlalu rumit untuk ia ceritakan.

Arka tumbuh di sebuah rumah yang tidak selalu berisik, tetapi juga tidak pernah benar-benar tenang. Keheningan di dalam rumahnya bukan yang menenangkan, melainkan keheningan yang menyimpan banyak hal yang tidak pernah diungkapkan.

Di beberapa hari ini, rumah itu terasa hangat.

Ibunya bangun lebih pagi, ia memasak sarapan dengan tenang lalu memanggil Arka dengan suara lembut yang selalu ia rindukan.

“Arka… makan dulu.”

Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat Arka duduk lebih lama di dekatnya. Ia memperhatikan setiap gerakan kecil dan ekspresi ibunya yang terasa utuh, seolah-olah dengan mengingatnya lebih lama, semuanya tidak akan berubah.

Namun, hidup tidak pernah memberi kepastian untuk harapan-harapan kecil seperti itu. Karena ada hari lain. Hari yang datang tanpa aba-aba.

Di hari itu, ibunya tetap menjadi sosok yang ia sayangi, tetapi pikirannya berjalan terlalu jauh. Ucapannya terbata-bata, emosinya berubah tak beraturan, dan tatapannya sering kali terasa asing.

Ibunya sakit.

Bukan sakit yang bisa sembuh dengan pengobatan sekejap atau istirahat semalam. Sakit yang membuatnya kadang lupa dirinya sendiri, kadang menangis tanpa alasan, kadang marah tanpa arah.

“Arka… kamu jangan pergi ya…”

Genggaman itu begitu erat. Arka hanya diam, ia bukan tidak ingin menjawab, tetapi karena ia tidak tahu harus berkata apa kepada seseorang yang bahkan tidak sepenuhnya berada dalam kesadarannya sendiri.

Di sisi lain, ayahnya bukan orang yang banyak bicara, tetapi kehadirannya selalu terasa. Ia bekerja hampir setiap hari, berangkat lebih pagi dan pulang dalam keadaan lelah, seolah tubuhnya sudah terbiasa menanggung beban yang tidak pernah benar-benar ringan.

Ia bukan tipe ayah yang pandai menunjukkan kasih sayang dengan kata-kata. Namun Arka tahu, dari cara ayahnya memastikan kebutuhan mereka tetap terpenuhi, dari perhatian-perhatian kecil yang jarang diucapkan, bahwa ia sangat menyayangi keluarganya. Terutama Arka.

Kadang ayahnya hanya bertanya singkat, “kamu butuh apa buat sekolah?” atau memastikan ia sudah makan. Kalimat sederhana itu tidak pernah terdengar istimewa bagi orang lain, tetapi bagi Arka, itu cukup untuk membuatnya merasa diperhatikan.

Namun menjadi kuat setiap hari bukanlah hal yang mudah. Lelah yang terus dipendam, kekhawatiran yang tidak pernah benar-benar selesai, dan keadaan yang tidak selalu bisa dikendalikan, perlahan mengikis kesabaran itu. Hingga pada titik tertentu, semua yang ia tahan selama ini akhirnya keluar bukan karena ia tidak sayang, tetapi karena ia terlalu lama berusaha bertahan sendirian.

Dan di tengah semua itu, Arka selalu berada di tempat yang sama di antara dua orang yang sama-sama ia sayangi, di antara dua keadaan yang tidak pernah bisa ia perbaiki.

Sebagai anak pertama, Arka tidak pernah benar-benar diajari bagaimana cara menjadi kuat. Ia hanya terbiasa untuk mengerti, bahkan sebelum ia tahu apa yang sebenarnya harus ia pahami.

Ia ingin membantu, Ia ingin menenangkan, Ia ingin membuat semuanya kembali baik-baik saja. Namun setiap kali mencoba, kata-kata itu selalu berhenti di tenggorokannya. Ia bukan anak yang pandai berbicara, apalagi untuk mencairkan suasana.

Yang ia tahu hanyalah bertahan. Namun sebelum ia belajar bertahan, ia pernah kehilangan kendali.

kenapa sih harus begini terus, Bu?!”

“Aku malu jika ibu seperti ini!”

Suaranya terdengar keras, bahkan membuat dirinya sendiri terkejut. Ia bahkan membanting kursi sangat keras dan menutup pintu rumahnya dengan kasar. Ia ingin pergi tapi ia tak tahu harus pergi ke mana. Arka marah, marah sekali pada keadaan seperti ini, pada keluarganya bahkan… pada Tuhan.

kenapa harus aku? ”

kenapa hidupku seperti ini? ”

Ia merasa semuanya dibebankan pada diriny, mulai dari perekonomian keluarga, rumah yang kacau dan dirinya yang tidak percaya diri karena perasaan malu yang diam-diam ia bawa ke mana-mana. Ia merasa paling tersakiti.

Ibunya terdiam, dan untuk beberapa detik, suasana di rumah terasa berhenti sepenuhnya.

Sejak hari itu, ada sesuatu yang berubah di dalam diri Arka.

Ia melihat ibunya duduk di sudut ruangan dengan tatapan kosong, seperti seseorang yang kehilangan arah bahkan untuk dirinya sendiri. Dan saat itulah ia menyadari bahwa kemarahannya tidak mengubah apa pun, tidak memperbaiki keadaan, tidak menyembuhkan siapa pun. Yang ada malah menambahkan luka baru. Sejak saat itu, Arka berhenti membentak dan berkata keras.

Bukan karena semuanya menjadi mudah, tetapi karena ia akhirnya memahami bahwa ibunya tidak pernah memilih untuk menjadi seperti itu.

Yang tersisa di dalam dirinya bukan lagi sekadar marah, melainkan perasaan yang jauh lebih rumit dari kasih sayang, rasa iba, dan kelelahan yang tidak pernah benar-benar tahu harus disimpan di mana.

Dalam diamnya, Arka menyimpan satu keinginan sederhana yang tidak pernah ia ucapkan, ia ingin memiliki ibu normal seperti teman-temannya. Ia ingin ibunya bisa diajak bercerita tentang kehidupan di sekolah dan teman-temannya, tentang hal-hal yang ia sukai, ibu yang selalu memberinya semangat dan support.

Namun karena keinginan itu tidak selalu bisa ia miliki, ia memilih menyimpannya. Seperti banyak hal lain dalam hidupnya.

Hingga akhirnya, ia pergi untuk melanjutkan sekolah di kota lain. Hari pertama jauh dari rumah terasa asing. Tidak ada suara yang tiba-tiba meninggi, tidak ada ketegangan yang membuatnya harus selalu waspada. Segalanya terasa lebih tenang, tetapi justru ketenangan itu membuatnya bingung ia tidak tahu harus merasa lega atau justru kehilangan.

Seiring waktu, Arka mulai terbiasa.

Ia bertemu orang-orang yang bisa menerima kehadiran-nya dan tidak menuntutnya menjadi siapa-siapa, meski ia lebih sering diam. Dari mereka, ia belajar hal-hal kecil seperti cara berbicara, cara merawat diri, dan cara memahami perasaannya sendiri.

Tanpa ia sadari, hatinya mulai berubah.

Ia tidak lagi sekeras dulu, tidak lagi semarah dulu. Ia mulai kembali berbicara dengan Tuhan, bukan dengan amarah, tetapi dengan kelelahan yang jujur. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa tidak benar-benar sendirian.

Dan tanpa terasa, ia sampai di ujung masa sekolahnya. Teman-temannya mulai berbicara tentang masa depan.

Kuliah, Jurusan, dan Kampus impian.

Arka terdiam bingung.

Ia ingin melanjutkan pendidikan. Tapi ia tahu, itu bukan keputusan sederhana untuk keluarganya.

“Ayah… kalau aku kuliah?” tanyanya pelan suatu malam lewat telepon.

kalau ada uang, lanjut,” jawab ayahnya singkat.

Tidak ada dukungan besar untuknya. Hanya… realistis. Arka terdiam lama setelah itu. Sampai ia teringat satu kalimat dari gurunya yang pernah berkata "Kalau niatmu kuat dan kamu sungguh-sungguh, Allah pasti buka jalan."

Dan untuk pertama kalinya, Arka tidak hanya berharap. Ia mencoba percaya.

---

Bagian 2

Setelah kelulusan dari SMA, hidup terasa berjalan dalam jeda yang panjang. Hari-hari yang dulu penuh kesibukan kini berubah menjadi ruang kosong pikarannya mana-mana, memberi terlalu banyak waktu bagi Arka untuk memikirkan masa depan yang belum jelas arahnya.

Ia kembali ke rumah tempat yang selalu ia rindukan, sekaligus ia khawatirkan.

Di sela-sela hari yang tidak menentu, Arka menunggu pengumuman biaya kuliah. Menunggu kejelasan masa depannya. Sebenarnya, ada keinginan lain yang ia simpan. ia ingin mencoba masuk ke perguruan tinggi impiannya. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya juga mampu.

Namun pada akhirnya, ia memilih melepaskan keinginan itu.

Bukan karena ia menyerah, tetapi karena ia menyadari bahwa tidak semua hal bisa diperjuangkan hanya dengan keinginan. Biaya pendaftaran, perjalanan, dan segala kebutuhan lain terasa terlalu berat untuk dipaksakan.

Hari-hari libur terasa Panjang membuatnya bosan, namun dibalik hal itu ada rasa takut yang mendalam. Takut akan masa depan, takut jika hidupnya hanya akan berjalan biasa saja.

Padahal, sejak kecil Arka bukan tanpa pencapaian.

Ia pernah menjadi salah satu yang terbaik di lingkungan-nya. Namanya beberapa kali disebut, nilainya cukup baik, dan untuk waktu yang lama, itu cukup membuatnya merasa berarti.

Di tempat asalnya, ia seperti ikan kecil di dalam akuarium yang jernih terlihat jelas, cukup menonjol, bahkan menjadi kebanggaan.

Namun semua itu berubah ketika ia melangkah ke dunia yang lebih luas.

Di antara banyak orang yang lebih unggul dan lebih siap, Arka merasa seperti seekor ikan kecil yang dilepaskan ke lautan luas. Di antara begitu banyak ikan yang lebih besar dan lebih kuat, keberadaannya terasa memudar.

Apa yang dulu ia banggakan kini terasa biasa. Apa yang dulu cukup kini terasa kurang. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa bahwa dirinya belum sehebat yang selama ini ia kira.

Perasaan itu semakin nyata ketika suatu malam, keadaan di rumah kembali pecah.

Ibunya mulai mengoceh tidak jelas dan ayahnya mencoba menahan diri, tetapi suaranya akhirnya meninggi.

Sebuah bentakan terdengar.

"Prang!"  suara pecahan kaca memecah keheningan malam.

Adiknya menangis ketakutan.

Arka tetap berbaring di kamarnya, memejamkan mata dan berpura-pura tidur, meskipun air matanya mengalir tanpa suara. Dadanya terasa sesak, napasnya tidak teratur, dan pikirannya dipenuhi kebingungan.

Ia ingin keluar. Ingin melakukan sesuatu. Namun tubuhnya terasa kaku.

Ia marah pada keadaan. Namun di saat yang sama, ia juga merasa iba. Ia kasihan pada ibunya. Dan ia juga memahami ayahnya.

Di balik suara keras itu, ia tahu—Arka tahu ayahnya bukan sedang membenci. Ia hanya lelah. Lelah menjaga semuanya tetap utuh ketika keadaan tidak pernah benar-benar berpihak.

Di antara dua perasaan itu, Arka terjebak.

Ia tidak tahu harus memihak siapa.

Karena keduanya sama-sama terluka.

Di tengah malam yang gelap, muncul satu keinginan yang tidak bisa terabaikan, ia ingin kembali ke rantau. Ke tempat di mana ia merasa lebih tenang.

Namun di saat yang sama, ia juga ingin tetap tinggal.

Ia terlalu lelah untuk menjelaskan apa pun. Ia bingung memilih untuk diam, meski dadanya terasa sesak dan tanpa ia sadari, air matanya jatuh begitu saja.

Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari bahwa tidak semua hal dalam hidup bisa ia perbaiki.

Waktu terus berjalan.

Arka akhirnya melanjutkan kuliah dengan segala keterbatasan yang ia miliki. Ia sering merasa tertinggal, dengan ekonomi yang pas-pasan, untuk makan saja terkadang Arka sangatlah perhitungan karena jumlah uang yang terbatas untuk memenuhi kebutuhananya, ia merasa tidak bebas bereksplorasi karena yang ia tahu semuanya butuh uang. Tidak ada yang bisa dibanggakan darinya.

Namun ia tetap mencoba.

Ia mulai berani keluar dari zona nyaman, menghadiri seminar, mengikuti kegiatan apapun selagi itu tidak mengeluarkan biaya, dan perlahan membuka diri.

Ia lelah, tetapi tidak berhenti.

Hingga suatu hari, ia mencoba mendaftar beasiswa.

Dengan ragu dan takut.

Namun tetap melangkah.

Dan ketika hasilnya diumumkan, namanya tercantum di beasiswa tersebut.

Arka terdiam cukup lama. Air matanya jatuh, bukan karena ia merasa hebat, tetapi karena untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa usahanya tidak sia-sia.

Malam itu, ia menatap langit dengan perasaan yang berbeda.

Ia memang belum menjadi siapa-siapa, bahkan belum memiliki pencapaian besar.

Namun ia tidak lagi melihat dirinya sekecil dulu.

Ia mulai memahami bahwa hidup bukan tentang menjadi yang paling bersinar, melainkan tentang tetap berjalan meski jalannya gelap.

---

Penutup

Tidak semua orang memulai hidup dari tempat yang mudah.

Tidak semua orang tumbuh dengan luka yang sederhana.

Namun itu tidak pernah menentukan akhir.

Karena pada akhirnya, orang yang paling kuat bukan mereka yang terlihat hebat, yang membuat seseorang berarti bukan seberapa besar ia terlihat, melainkan seberapa kuat ia bertahan, seberapa tulus ia tetap menjaga hatinya, yang tetap memilih lembut di tengah luka, dan seberapa berani ia terus melangkah meski tidak tahu akan sampai mana.

Dan mungkin, menjadi “biasa saja” bukan berarti gagal karena mampu bertahan, tidak menyerah, dan tetap berjalan di tengah hidup yang tidak mudah…itu sendiri sudah luar biasa.



Penulis: Fathin Farah Fitriyah

Mahasiswa KIP-K angkatan 2025

 

 

 

 

Sabtu, 02 Mei 2026

LANGKAH DI KOTA ORANG


    Sebuah kereta, berhenti perlahan di stasiun yang asing bagi Briya. Ia menggenggam kopernya dengan sangat erat, matanya memperhatikan sekeliling yang begitu ramai. Suara orang-orang, pengumuman dari stasiun, serta riuh nya kota terasa sangat berbeda dari kampung halamannya yang begitu tenang. Dan di hari itu, Briya resmi menjadi seorang mahasiswi.

    Bukan di halaman tempat ia lahir dan dibesarkan, namun di kota orang yang penuh dengan mimpi, tantangan, dan harapan.

    “Jaga diri baik-baik ya, mba” pesan ibu Briya tadi pagi saat mengantarkan Briya ke stasiun.

    “Iya ibu, bapak, ibu, adek-adek juga sehat-sehat ya,” jawab Briya dengan ukiran senyum di bibirnya, meskipun dalam hatinya banyak rasa takut yang ia rasakan.

***

        Hari pertama di kos, Briya duduk sendirian di kamar kecil dan sunyi itu. Dindingnya putih polos, hanya ada tempat tidur dan lemari sederhana. Tidak ada suara panggilan dari Ayah, candaan kecil dari adik-adiknya, dan yang paling dirindukan aroma masakan rumah oleh Ibu.

    Sangat sunyi..

        Malam itu, untuk pertama kalinya Briya menangis diam-diam. “Aku kangen rumah…” celetuknya pelan di tengah suara lirihan tangisnya.

***

        Di hari pertama kuliah terasa berat. Briya harus beradaptasi dengan lingkungan baru, teman-teman baru, dan cara belajar yang jauh berbeda. Dosen mengajar dengan sangat cepat, tugas datang bertubi-tubi tiada henti, dan semuanya terasa menuntut.

      Di kelas, Briya lebih sering memilih diam. Ia belum berani berbicara banyak. Sedangkan teman-temannya tampak lebih percaya diri, lebih pintar, dan lebih siap.

       Ia mulai merasa kecil dengan dirinya. Ia menatap sekeliling kelas lama. Perasaan kecewa, lelah, dan rindu rumah bercampur menjadi satu, “Mungkin aku kurang cocok di jurusan ini…” batinnya.

     Di malam harinya, Briya menelpon ibunya, “Ibu…” lirihnya dengan suara bergetar. “Dalem, mba… Gimana kuliahnya? Lancar?.” mendengar pertanyaan dari Ibunya, Briya terdiam sejenak, lalu akhirnya berkata, “Aku cape, bu…” mendengar jawaban dari Briya, Ibunya tidak langsung menjawab, Ia menghela nafas pelan, “Mbak inget tujuan mba datang kesana?” tanya ibunya lembut. “Iya, ibu… buat belajar, masa depan,” jawab Briya pelan, “Nggeh itu, semua yang Mbak rasakan adalah bagian dari proses nya Mbak di sana, boleh capek Mbak, tapi jangan pernah nyerah ya, gapai mimpi mba, doa bapak ibu selalu menyertai mba disana nggeh.” jelas ibu Briya berusaha menenangkan.

    Lila mengusap air matanya, kalimat yang dilontarkan ibunya cukup sederhana, tapi sangat cukup untuk membuatnya selalu bertahan dan berjuang.

     Sejak malam itu, Briya mulai mencoba lagi. Ia memberanikan diri untuk bertanya di kelas, meskipun suaranya masih pelan dan ragu. Ia mulai belajar bersama teman-temannya. Ia juga mulai berani mengambil langkah baru dan mencoba hal baru. Ia mengatur waktunya lebih baik, antara belajar, kegiatan, istirahat dan dirinya sendiri.

    Baginya tidak mudah, ada hari dimana ia merasa kuat, ada juga hari dimana ia ingin sekali menyerah. Namun perlahan, Briya mulai menemukan ritmenya. Ia mulai terbiasa sendiri, terbiasa makan sendiri di kos, mulai menikmati perjalanannya ke kampus. Bahkan mulai tertawa bersama teman-teman barunya di perantauan.

    Kota yang awalnya terasa asing baginya, perlahan menjadi tempat yang mulai nyaman.

***

    Suatu hari, saat Briya duduk di taman kampus, ia tersenyum sendiri. Ia teringat malam pertama di kost, sering merasa kesepian, lelah, dan selalu ingin pulang. Sekarang, ia masih sangat rindu rumah, rindu suasana rumahnya yang selalu ramai dan hangat.

    Tapi ia tidak lagi merasa sendirian. Karena ia tahu, setiap langkah kecil yang ia ambil adalah bagian dari perjuangan menuju masa depannya. Perjuangan untuk menjadi lebih kuat, lebih mandiri, dan terpenting lebih dewasa. Briya mendongak keatas, menatap langit sore yang perlahan berubah jingga, “Terima kasih udah bertahan, dan tidak menyerah.” bisiknya pada diri sendiri.

    Di kota orang ini, Briya belajar satu hal sangat penting, bahwa jauh dari rumah bukan berarti kita akan kehilangan arah. Terkadang, justru di tempat yang baru, seseorang akan menemukan siapa dirinya yang sebenarnya. 


Penulis: Marselina Dwi Febriyanti 

Mahasiswi penerima KIP-K angkatan 2025

Yang Tidak Pernah Ia Katakan

  https://pixabay.com/photos/female-headscarf-back-person-human Bagian 1 Namanya Arka. Nama yang sederhana, tidak banyak orang meng en...