"Belajar yang sungguh-sungguh, ya! Kalau Luna dapat peringkat pertama di kelas, nanti Ayah belikan boneka beruang yang besar sekali! Seperti yang Luna inginkan,” begitu kata sang ayah kepada Luna kecil, si bungsu. Tiap kali menjelang hari kenaikan kelas, ayahnya selalu menawarkan berbagai macam barang maupun makanan yang tengah diinginkan oleh Luna. Tanpa sadar, sepenggal kalimat itulah yang membuat gadis bernama lengkap Kaluna Pramudya Maheswari terinspirasi untuk menjadi juara kelas di setiap tahunnya.
Bumi
terus berotasi di orbitnya tanpa henti, Luna kecil mulai tumbuh dengan baik.
Bukan hanya tubuhnya yang berkembang, pola pikirnya pun perlahan mulai
terbentuk. Dari Luna kecil yang selalu berusaha menjadi juara kelas hanya untuk
mendapatkan 'hadiah' dari orang tuanya, berubah menjadi Luna dewasa yang mulai
mempertanyakan tujuannya sendiri.
Benarkah
Luna berjuang sedemikian rupa untuk menjadi juara kelas hanya karena
menginginkan hadiah semata dari ayah dan ibunya? Atau justru... keinginan untuk
menjadi juara kelas itu perlahan muncul dalam hatinya untuk membalas semua
peluh yang telah dikorbankan orang tuanya untuknya? Akankah itu sebuah
keinginan yang suci? Atau memang hanya mengharapkan hadiah dari orang tua?
Memasuki masa aliyah, Luna mulai menyadari tujuan hidupnya sendiri. Belajar dengan tekun bukan semata-mata untuk mendapatkan peringkat di kelasnya, namun juga untuk membanggakan kedua orang tuanya. Bujuk rayu hadiah dari sang ayah kini tak lagi dinanti. Yang teramat dinanti hanyalah senyum kedua orang tuanya yang berhasil ia ciptakan ketika menjadi juara kelas. Dan hal tersebut selalu berhasil diusahakannya. Hingga puncaknya, ketika ia menjadi lulusan terbaik di sekolahnya, yang mampu membuat ayahnya menangis haru saat menghadiri acara tersebut.
Namun di balik itu semua, ada perjuangan yang tak pernah padam. Perjuangannya, orang tuanya, dan keluarganya. Air mata tak henti-hentinya mengalir di tiap sujud, memohon segala kemudahan di saat dahsyatnya badai yang berulang kali datang menghantam.
Saat memasuki era akhir kelas 12, Luna mulai berperang dengan keinginannya sendiri. Sepertinya, semua anak kelas 12 yang ingin melanjutkan pendidikannya mengalami hal serupa ketika jalur pendaftaran ke perguruan tinggi mulai dibuka. Bimbang. Luna dihadapkan dengan keputusannya yang tidak pernah benar-benar yakin. Ada satu nama perguruan tinggi yang begitu didambakannya. Namun... ada sisi pesimis yang perlahan menggerogoti keyakinannya.
"Ibu... Luna ingin melanjutkan kuliah di sini," katanya, sambil menunjukkan gambar sebuah perguruan tinggi di ponselnya. "Tapi ini salah satu TOP PTKIN, Ibu. Luna nggak yakin... banyak banget saingannya. Mereka juga pasti pintar semua. Gimana kalau Luna nggak lolos?" imbuhnya, terdengar sangat putus asa.
Sedangkan sang ibu? Diam sejenak. Tidak menghakimi keresahan yang tengah dirasakan oleh anak gadisnya. "Kenapa tidak mencoba dulu, Nak? Bukankah kita tidak akan pernah tahu bagaimana hasil dari sebuah harapan jika kita tidak berusaha untuk menggapainya?" tutur ibunya, teramat halus dan menenangkan. Namun... tidak cukup untuk mengusir keraguan dalam hati sang anak, Luna.
Perlahan Luna menunduk, penuh pertimbangan. "Ibu, biaya kuliah di sana tidak murah. Sangat banyak. Luna selalu bergantung pada ayah dan ibu. Tapi untuk kali ini... Luna tidak yakin, Ibu. Cukup Luna selalu melihat ayah dan ibu bekerja banting tulang hanya untuk pendidikan Luna. Ayah dan ibu selalu berangkat ke ladang sebelum matahari terbit, pulang saat sudah gelap..." ujarnya pelan. "Luna sudah mencoba untuk mendaftar beasiswa, tapi belum ada yang berhasil," imbuhnya, putus asa.
Obrolan singkat bersama sang ibu sore hari itu sama sekali tidak menemukan titik terang yang mampu menenangkan hatinya. Hari-harinya dilalui dengan penuh pertimbangan. Semua guru di kelas silih berganti memberikan rekomendasi perguruan tinggi dan program pendidikan yang sekiranya harus dicoba olehnya.
Banyak guru dan teman yang bertanya tentang program pendidikan apa yang ingin diambilnya. "Aku ingin di PAI," jawabnya setiap kali ada yang bertanya. Reaksi dari guru dan temannya juga beragam. Namun, tidak sedikit yang merekomendasikan program pendidikan lainnya. Ya, banyak yang tidak setuju dengan keputusan Luna.
"Kenapa
kamu nggak ambil prodi hukum? Kamu kan biasa debat sama guru PKN."
"Kamu
nggak mau coba di pendidikan Bahasa Arab, Lun? Kamu kan pinter itu."
"Kenapa
nggak di fakultas dakwah? Komunikasi kamu kan bagus."
Setidaknya, itu merupakan sebagian kecil dari beberapa respon teman dan gurunya terhadap jawaban yang selalu Luna berikan, tidak pernah ada yang mendukung selain kedua orang tuanya. Bahkan, para paman dan bibinya tidak ada yang benar-benar mendukung. Semua justru berucap, “Jadi guru itu nggak enak. Naik jadi PNS di zaman sekarang juga susah. Ujung-ujungnya cuma jadi guru honorer? Cari jurusan yang lapangan kerjanya memadai dan gajinya enak. Jangan cuma mikir keinginan kamu aja. Kamu itu hidup di desa, bukan di kota.”
Goyah? Sempat. Hati Luna semakin bimbang. Sibuk berpikir, sedangkan pendaftaran sudah berjalan beberapa hari, membuat pikirannya semakin berkecamuk. Ditambah ia juga harus mempersiapkan diri untuk ujian akhir kelulusan.
Banyak sekali air mata yang mengalir di masa itu. Bahkan, Luna mengeluh setiap harinya. Namun, dukungan dari ayah dan ibunya mampu membuatnya untuk tetap bertahan dan terus mencoba. Hingga keputusan akhirnya, merelakan TOP PTKIN yang menjadi tujuannya sejak awal, beralih pada PTKIN lain. Namun, PTKIN itu juga masih impiannya, hanya saja tidak sampai pada TOP PTKIN.
Sebelum mendapat dukungan penuh... ibunya pun sempat menolaknya. Tidak mengizinkannya karena perguruan tinggi impiannya itu teramat jauh dari rumah. Berkali-kali meyakinkan sang ibu, Luna berhasil. Ibunya mengizinkannya, meski diawali dengan pertentangan yang membuatnya sampai menangis.
Jam dinding terus berdetak tanpa melambat, hari-hari pun berlalu. Tiba di hari pengumuman pendaftaran PTKIN, Luna tak henti-henti memohon pada Sang Kuasa. Hampir putus asa, mengingat banyaknya orang yang juga mendaftar di perguruan tinggi tersebut, terlebih di program pendidikan pilihannya.
Pukul
15.00 WIB. Waktu yang senantiasa dinanti oleh para pejuang perguruan tinggi,
begitu pun dengan Luna pada saat itu. Gemetar. Tangannya tidak mampu menahan
ponsel. Rasanya teramat gugup. Tidak berani untuk melihat hasilnya. Takut
mengecewakan orang tuanya.
Menarik
napas dalam-dalam. Mencoba tenang. Perlahan, telunjuknya bergerak. Menyentuh
layar ponselnya yang senantiasa menyala sejak 30 menit yang lalu. Telunjuknya
berhasil menyentuh layar. Warna hijau memenuhi penglihatannya. Senyumnya
merekah. Sampai menangis. Namun, tertahan sejenak. Bukan pilihan pertama.
Melainkan pilihan kedua. Ada rasa kecewa yang diam-diam merayap. Namun, Luna
kembali berkali-kali meyakinkan bahwa itu merupakan pilihan terbaik menurut
Sang Kuasa.
"Ayah! Ibu! Luna diterima!" teriaknya, berlari menghampiri ayah dan ibunya di kebun belakang rumah. Air matanya tertahan di pelupuk. Masih ada rasa bahagia, meski rasa kecewa sedikit terbesit. "Tapi di prodi pilihan kedua..." lanjutnya, lirih.
Respon ayah dan ibunya? Sama. Menangis. Bahagia. Berkali-kali kening Luna dikecup penuh kasih. "Nggak masalah. Pilihan pertama ataupun kedua, kalau Luna yakin, ayah dan ibu nggak masalah. Yang terpenting, Luna yakin kalau Luna bisa menjalaninya. Ayah dan ibu di sini selalu mendukung dan mengusahakan yang terbaik untuk Luna," tutur ayahnya, menyemangati hati yang sempat goyah sebelumnya.
Ketenangan
kembali menyelimuti hatinya setelah mendengar beberapa nasehat dari ayah dan
ibunya. Senyum tulusnya kembali merekah. "Ayah, Ibu, terima kasih, ya.
Nggak masalah semua orang menentang keinginan Luna. Yang terpenting, ayah dan
ibu selalu mendukung Luna."
Ketika
tiba waktunya untuk merantau ke luar kota demi cita-cita yang teramat
didambakannya, di situlah hal terberat dalam hidup Luna. Selalu bersama kedua
orang tua sejak kecil, diberikan kasih sayang, bahkan dimanja, membuat Luna
merasa tak kuasa untuk berpisah selama berbulan-bulan lamanya.
Riuhnya
stasiun sama sekali tidak mampu mengalihkan perasaan Luna. Dipeluknya ayah dan
ibunya dengan sangat erat. Air matanya tak berhenti mengalir, meski keretanya
sudah tiba. Dengan sangat berat hati, pelukan itu terlepas saat ayahnya menarik
diri dengan perlahan.
"Luna
di kota orang itu niatnya belajar. Jadi, belajar yang serius. Selalu minta sama
Allah, supaya Luna selalu dijaga dan dibimbing sama Allah. Luna di sana nggak
sendirian. Allah selalu ada sama Luna. Ayah dan ibu di sini juga selalu berdoa
yang terbaik untuk Luna. Jaga diri Luna baik-baik, ya. Jangan sampai telat
makan!" ucap ayahnya, membuat Luna semakin tidak bisa berhenti menangis.
Langkahnya terasa amat berat, meninggalkan kedua orang tuanya di belakang, berjalan menuju kereta yang sudah menanti untuk membawanya menjauh dari rumah, ke kota orang yang amat asing untuknya.
Di dalam gerbong kereta yang dipenuhi oleh orang asing, Luna tenggelam dalam lamunannya sendiri. Pikirannya masih tertuju pada orang tuanya. Asing dan tidak nyaman. Itulah yang ia rasakan. Hatinya meraung-raung, teringin kembali pada pelukan kedua orang tuanya di rumah. Namun, ada mimpi yang harus ia kejar.
"Halo,
Dik!" sapaan dari seseorang membuyarkan lamunannya. Luna menoleh. Melihat
seorang perempuan yang terlihat tiga tahun lebih tua darinya, duduk di
sebelahnya. "Halo, Kak," balasnya, menyapa.
Berawal
dari sapaan singkat itu, berujung pada obrolan panjang yang mengisi tiap detik
Luna di dalam kereta. Yang sebelumnya terasa asing, kini perlahan berubah
menjadi rasa nyaman. Ia merasa tidak sendirian, ditemani seorang perempuan yang
senantiasa mengajaknya bercerita, seolah tahu jika ini pertama kalinya ia pergi
jauh dari rumah. Luna merasa hangat. Hingga perpisahan itu harus terjadi di
stasiun terakhir, berbeda arah tujuan.
Kini, Luna kembali sendiri. Jemarinya bergerak cepat di atas ponsel. Memesan ojek online. Satu menit hingga lima menit. Tak kunjung mendapatkan. Hatinya mulai resah. Takut. Di kota besar ini, Luna sendiri. Tidak akan ada yang membantunya. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing, pikirnya.
Hatinya kian resah. Luna hampir menangis. Namun, seorang pria paruh baya dengan jaket hijaunya lebih dulu menghampiri. "Mbak, belum dapat ojek, ya? Boleh saya bantu?" tawar bapak yang berusia kisaran 50 tahun. Santun dan lembut tutur katanya.
Diam. Luna tidak langsung menjawab. Ada rasa takut yang semakin melanda. Takut jika itu hanya penipuan. Takut jika bapak itu berniat buruk padanya. Karena di kota orang ini, Luna sendiri. Tidak ada keluarga yang bisa membantunya. Belum selesai dengan pikiran negatifnya, bapak itu kembali berucap.
"Insyaallah tidak ada apa-apa, Mbak. Malam-malam begini memang sulit mendapatkan ojek di stasiun. Saya antarkan saja, ya? Bayar seikhlasnya saja nggak masalah. Saya bantu bawa barang-barangnya, ya." Bapak itu mengambil satu per satu tas yang Luna bawa. Sedangkan Luna? Mengikuti. Meski masih ada sedikit rasa ragu, kini Luna mulai berusaha untuk percaya.
Sepanjang perjalanan menuju kos, tidak ada keheningan. Bapak baik hati itu terus mengajaknya berbicara, bercerita, hingga Luna melupakan segala kekhawatirannya. Luna mulai percaya. Kebaikan hati bapak itu teramat membantunya di saat ia baru pertama kali menginjakkan kakinya di kota orang.
"Terima
kasih banyak, Pak. Terima kasih..." berulang kali Luna ucapkan rasa terima
kasihnya ketika sampai di depan kos. Ia amat bersyukur karena selalu
dipertemukan dengan orang-orang baik. Mulai dari seorang perempuan yang
mengajaknya berbincang di dalam kereta, hingga pria paruh baya yang membantu
mengantarnya dari stasiun sampai di kos.
Langkah
pertama memasuki kamar kos... air matanya kembali luruh, teringat rumah. Hunian
itu terasa sangat asing untuknya. Tidak ada ayah dan ibunya di dalamnya. Hanya
Luna. Sendirian. Berjam-jam Luna menghabiskan waktu untuk menangis. Ditambah,
rasa kecewanya masih tersisa. Luna teramat ingin masuk di jurusan pertama yang
ia pilih. Namun takdir berkata lain. Pilihan kedua.
Menarik
napas dalam-dalam, Luna mencoba untuk ikhlas sepenuhnya. "Allah... aku
yakin, ini yang terbaik menurutmu. Maka, bantulah aku untuk menerima semua
takdir dari-Mu dengan hati yang luas, Allah..." gumamnya, teramat lirih,
dengan bibir yang bergetar karena tangisan.
Teringat
segala motivasi yang diberikan oleh ayah dan ibunya, perlahan Luna mencoba
untuk tetap bangkit, tetap kuat di atas pilihannya sendiri. Tak ingin
berlarut-larut dalam perasaan kecewa. Ia selalu mengusahakan untuk ikhlas.
Hari-hari
pertama memasuki dunia kampus... Luna kembali merasa sendiri. Tidak ada teman
yang benar-benar dekat. Semua terasa asing. Namun, Luna kembali mencoba, tak
ingin tenggelam dalam rasa sepi dan sendiri. Mencoba bersosialisasi, keluar
dari zona nyamannya sebagai seorang yang introvert. Berkenalan dengan
temannya. Beberapa kali berinteraksi, Luna mulai nyaman. Begitu-pun yang lain,
merasa nyaman dengan interaksinya.
Di
malam yang senyap, Luna terdiam di kamarnya, menatap langit-langit kamar. Pikirannya
kembali berkembang. Rasa ikhlas itu perlahan muncul di sela padatnya jadwal
kuliah yang dijalani.
"Mungkin
kalau aku nggak di sini, jalan takdirku nggak akan seperti ini. Bisa saja di
tempat lain tidak jauh lebih baik daripada di kota ini," gumamnya dengan
senyum, ketika ikhlas itu mulai mengisi hati yang sebelumnya dipenuhi kecewa
akan takdir.
Kota, perguruan tinggi, fakultas, dan jurusan yang dijalaninya memang bukan sepenuhnya yang Luna impikan. Namun, di takdir inilah Luna dipertemukan dengan berbagai hal baik yang mampu mengubah sudut pandangnya terhadap takdir Tuhan. Karena bisa jadi, ia tidak menemukan ketenangan seperti ini di tempat lain.
Sejatinya, Tuhan tidak akan menempatkan hamba-Nya dalam keadaan yang terlampau sulit untuk dijalani. Semua tergantung pada cara pandang masing-masing saat menghadapi berbagai jalan takdir yang diberikan oleh Tuhan. Rasa kecewa membuat semuanya terasa amat berat. Namun saat ikhlas itu sudah datang, semuanya akan terbuka perlahan, tentang apa yang sudah Tuhan siapkan di balik takdir itu.
