Senin, 20 Juli 2026

Usaha Seorang Ibu

 

      

      Perkenalkan dia perempuan yang bernama Aisyah Khumairah, saat ini dia masih duduk dibangku kelas 11 SMA. Umur-nya saat ini menginjak 17 tahun, dia lahir di kota Tulip. Aisyah sekolah di SMA Negeri 1 Kamboja. Sekolah ini merupakan salah satu SMA di kota itu yang lumayan dekat dengan rumah Aisyah. Dan dia juga kebetulan tinggal dipondok pesantren yang bernama pondok pesantren Al-Muk’min, Salah satu pondok Al-Qur’an yang dekat dengan SMA nya. 

      Angin malam yang cukup cerah dan tidak mendung, tadi sekitar pukul 19.47 Ais sedang makan di kamar bersama teman-teman nya. Tiba-tiba Ais mendengar suara diluar samar-samar kaya suara, ibu-nya yang sedang memanggil namanya.

“Mba.....mba.....mba Ais.....”

      Ais kira itu hanya suara halusinasi yang ia rasa, soalnya Ais sudah 1 bulan belum bertemu dengan ibu maupun keluarganya, eh ternyata suara itu bener adanya. Suara yang memanggil Ais tadi itu suara ibu-nya, Ais pun langsung bergegas buru-buru memakai hijabnya dan jalan keluar menuju tangga untuk turun. Ais langsung turun tangga untuk menemui ibunya dan langsung mencium tangan-nya, lalu ia bertanya pada ibunya. 

“Ibu kesini sama siapa?.Bapak ikut tidak?. Nyetir motor sendiri atau diboncengin?.”

Pertanyaan bertubi-tubi dari Ais sambil ngajak ibunya naik, sampai ibunya bingung mau jawab yang mana dulu.

“Ais kebiasaan kalau tanya tu ya satu-satu, ibu bingung jawab yang mana dulu.” Jawab ibu-nya

“Hehehe... ma’af ibu.” Jawab Ais sambil menyengir.

“Ibu kesini sendiri. Bapak tidak ikut karena ada keperluan. Dan ibu kesini bawa sepeda listrik!.”

“Sepeda listriknya siapa Bu, perasaan Dirumah kendaraan nya cuma motor doang?. Apa Bapak yang beli Bu?.”

“Ibu ke sini pakai sepeda listriknya kakek, kakek baru beli kemarin.”

      Tiba-tiba Ais langsung bengong sambil bertanya-tanya di benaknya, Ais bengong karena pikirannya yang mengkhawatirkan ibunya yang kesini sendirian apalagi malam-malam tanpa ngajak bapak-nya, mana kendaraan-nya pake sepeda listrik, dimalam hari yang minim pencahayaan. Masalahnya desa Aisyah ke pondok nya tidak deket-deket banget loh, itu membutuhkan waktu sekitar 15 - 20 menit itu pun kalau naik motor. 

Di tengah-tengah bengongnya Ais, tiba-tiba ibu nya bersuara lagi, 

“Mba ini tadi barang yang ibu bawa toh jatuh terus, ibu dikit-dikit berhenti gara-gara barang bawaan-nya pada jatuh.”

      Ais hanya bisa tersenyum agar bisa buat ibunya tidak curiga kalau di situ air mata Ais hampir keluar, untung ia bisa tahan agar air mata itu tidak keluar. Ais mencoba bertanya kepada ibunya, “Kenapa ibu gak bawa motor sendiri aja, kan dirumah ada motor ibu juga kan bisa naik motor?.”

      Ibunya Ais lalu tersenyum dan berkata, “Motornya sedang ada dibengkel mba, ban-nya lagi bocor.”

      Setelah lama berbincang lama sama Ais, akhirnya ibunya Ais pun pamitan, “Yaudah ibu mau pulang dulu ya mba, nanti adek nyariin ibu soalnya tadi ibu pas mau kesini adek gak ada karena dia udah berangkat ngaji.”

“Iya ibu gak papa, hati-hati di jalan ya bu.” Ais pun langsung mengantar ibunya turun tangga sampai dekat pintu gerbang kompleks putri.


TAMAT!!!!!


Penulis : Siti Atikotul Farikah


Mahasiswi KIP-K angkatan 2025 



Selasa, 14 Juli 2026

Bawa Perubahan Positif, Tim DHARMAKIP UIN Walisongo Sukses Tuntaskan Pengabdian 4 Hari di Kendal



KENDAL, 12 Juli 2026 - Komitmen untuk mengabdi dan membawa dampak nyata bagi masyarakat sukses diwujudkan oleh tim mahasiswa DHARMAKIP (Dharma Aksi FORMAKIP) UIN Walisongo Semarang. Selama empat hari berturut-turut, sejak tanggal 9 hingga 12 Juli 2026, mereka menggelar aksi pengabdian masyarakat yang komprehensif di Dusun Duren, Desa Jatirejo, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Rangkaian kegiatan DHARMAKIP tahun ini dirancang secara terstruktur untuk menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari pendidikan, sosial, hingga keagamaan. Berikut adalah kilas balik perjalanan pengabdian selama empat hari di Kendal:

Hari Pertama (Kamis, 9 Juli 2026). Rangkaian diawali dengan pembukaan resmi bersama perangkat desa dan tokoh masyarakat. Pada hari pertama ini, tim berfokus pada kegiatan Sapa Warga dengan tujuan membangun kepercayaan (trust) antara mahasiswa dengan warga desa sejak awal. Melalui acara ini, mahasiswa tidak hanya datang sebagai tamu yang numpang bikin program, tapi memosisikan diri sebagai bagian dari keluarga mereka.

Hari Kedua (Jumat, 10 Juli 2026). Mengusung semangat edukasi, tim menggelar proker Cek Kesehatan Gratis, Sosialisasi di MI NU 46 Winong, serta belajar bersama di Posko. Melalui program Cek Kesehatan, tim DHARMAKIP berkomitmen meningkatkan kualitas hidup warga melalui deteksi dini penyakit. Sementara itu, lewat Sosialisasi di MI juga Belajar Bersama, tim hadir untuk menyalakan api semangat belajar dan memberikan edukasi dasar bagi generasi penerus di Desa Jatirejo. Antusiasme warga mulai terlihat dari banyaknya peserta yang hadir dan aktif berpartisipasi.

Hari Ketiga (Sabtu, 11 Juli 2026). Menjadi puncak kegiatan sosial, di mana tim melaksanakan Aksi Bersih Masjid dan Posko. Selain fokus pada kebersihan lingkungan melalui Aksi Bersih Masjid dan Posko, tim DHARMAKIP juga memberdayakan masyarakat melalui Sosialisasi Limbah Jagung untuk menjaga ekologi desa, yang kemudian dilanjutkan dengan Pelatihan Kerajinan Tangan. Melalui Pelatihan Kerajinan Tangan, anak-anak diajak untuk mengasah keterampilan motorik halus dan membebaskan imajinasi mereka ke dalam karya seni yang kreatif, sekaligus melatih fokus dan kesabaran sejak dini. Sebagai penutup rangkaian kegiatan, Pengajian Umum digelar untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus menjadi sarana siraman rohani yang membawa keberkahan dan rasa syukur bagi seluruh warga desa serta tim DHARMAKIP.

Hari Keempat (Minggu, 12 Juli 2026). Kemeriahan memuncak saat warga diajak menjaga kebugaran lewat Senam Pagi, yang kemudian dilanjutkan dengan Lomba Warga dan Doorprize penuh keseruan untuk memupuk solidaritas. Seluruh rangkaian kegiatan ini akhirnya ditutup secara resmi melalui Acara Penutupan sebagai momen pamitan sekaligus ungkapan terima kasih tulus dari tim DHARMAKIP kepada seluruh masyarakat desa. Sebagai wujud apresiasi yang mendalam, momen penutupan juga diwarnai dengan penyerahan kenang-kenangan kepada pihak perangkat desa. Seluruh rangkaian agenda pengabdian ini kemudian disempurnakan dengan evaluasi keseluruhan kerja tim guna mengukur keberhasilan program sekaligus menjadi catatan pembelajaran berharga bagi performa tim ke depan.

Ketua Pelaksana DHARMAKIP, Yumela Sukmawati menyatakan bahwa durasi empat hari ini memberikan pelajaran berharga tentang arti ketulusan yang sesungguhnya. “Kami datang sebagai mahasiswa, namun pulang sebagai bagian dari keluarga warga Kendal. Penerimaan yang begitu hangat dari para sesepuh, ibu-ibu, hingga anak-anak di sini adalah hadiah terbesar bagi kerja keras tim kami,” ujarnya.

Kepala Dusun Duren, Romli Mubbarak juga menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi para mahasiswa. Kehadiran tim DHARMAKIP dinilai memberikan warna baru dan motivasi positif bagi kemajuan serta kerukunan warga setempat.

Melalui rilis ini, seluruh tim DHARMAKIP mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh pihak yang telah membantu kelancaran acara dari hari pertama hingga akhir. Harapannya, sinergi dan manfaat yang telah tertanam selama empat hari ini dapat terus berlanjut bagi kesejahteraan warga Kendal.




Penulis
Farisa Alifatun Nasywa

Sabtu, 04 Juli 2026

TERLAMBAT KARENA KETULUSAN

 


 

Kisah ini bermula saat seorang perempuan yang bernama Farihana Aqila Nafida, perempuan itu biasa dipanggil Hana ia lahir sudah 19 tahun yang lalu, ia memiliki hobby menulis diary dan membaca novel fiksi. Hana semasa remaja nya mempunyai teman sebut saja namanya Lida. Dulu Hana sangat baik terhadap Lida, bahkan sudah menganggap Lida itu seperti saudara sendiri. Karena sudah berteman dari kecil sampai jenjang Menengah Pertama, entah kebetulan atau takdir sejak TK.  Sampai saat itu, mereka berdua selalu sekolah ditempat yang sama dan anehnya mereka berdua juga selalu satu kelas. Tapi oh tapi, sikap Lida malahan membuat Hana sangat-sangat kecewa. Pada waktu itu Hana hanya bisa ditakdirkan sekolah saja, sedangkan Lida ditakdirkan sekolah sama tinggal di pondok pesantren. Di pesantren Lida, santri-santrinya tidak diperboleh membawa handphone dan kendaraan. Pada waktu itu sekolah mengadakan Class Meeting, dan memperbolehkan para siswanya membawa handphone ke sekolah. Pada saat itu, kebetulan Hana sudah mempunyai handphone, hadiah dari kedua orang tuanya, karena berkat Hana yang selalu belajar dengan sungguh-sungguh tanpa malas-malasan, akhirnya ia bisa masuk peringkat 5 besar di kelasnya. 

Dan pada waktu itu Lida tidak membawa handphone, karena di pesantrennya tidak memperbolehkan para santri untuk membawa handphone. Pada saat Class Meeting Lida tidak membawa handphone sendiri, akhirnya Hana mempunyai inisiatif untuk meminjami handphone nya ke Lida, karena Hana merasa kasihan kepada Lida. Sebab teman-teman kelasnya banyak yang main handphone, ada yang mabar, tiktok-kan, fotbar, dll. Mungkin bagi mereka ini kesempatan yang tidak akan datang untuk yang kedua kalinya, bisa membawa handphone ke sekolah. Setiap berangkat atau pulang sekolah Hana hampir sering diantar jemput Lida, ia tanpa meminta imbal balik, itu berlangsung saat Lida tinggal di pesantren.

Suatu hari Hana dan Lida berangkat ke sekolah bareng, dan pada saat itu, kebetulan Lida sedang pulang ke rumah karena ada acara keluarga. Namun, Lida meminta di anterin dulu ke pesantrennya karena mau ambil kaos olah raga-nya yang ketinggalan. Setelah itu, Lida langsung jalan keluar menuju pintu gerbang samping pundok putri untuk menemui Hana lagi, dan langsung berangkat ke sekolah. Sebelum-nya Hana sudah menyalakan motornya, dan langsung tancap gas untuk berangkat menuju ke sekolah. 

Sesampainya di parkiran Hana lupa kalau dia belum beli kaos kaki, karena kaos kakinya sudah longgar makanya dia mau ganti kaos kaki. Saat Hana sedang jalan menuju ke sekolah di samping jalan kebetulan ada foto copy yang sudah buka, jadi Hana nyuruh Lida tungguin sebentar ditepi karena ia mau beli kaos kaki. Saat itu Lida juga mau nitip beliin bolpoin, katanya isinya sebentar lagi mau habis, akhirnya dia nitip Hana yang sekalian mau mampir ke foto copy. Hana langsung buru-buru masuk ke toko foto copy-nya, dan ia langsung membeli apa yang diinginkan, setelah dapet Hana langsung antri buat bayar ke kasir, setelah itu ia langsung keluar dari toko.

Tapi apesnya waktu itu, bel sudah menunjukkan pukul 06.54, dan gerbang sebentar lagi akan segera ditutup, Saat itu pada saat mau menyebrang Hana tidak mendenger suara bel sama sekali karena mungkin jarak ia masih jauh. Tapi Lida, dia mungkin mendengar bel tersebut sehingga Lida langsung lari menuju ke sekolah agar dia bisa masuk sebelum gerbang itu akan ditutup. Pas Hana sudah nyebrang ia baru ngeh kalau Lida tidak ada ditempat, Hana menoleh sana-sini  mencari keberadaan Lida kemana, di tengah Hana mencari keberadaan nya Lida. Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang lewat di sampingnya Hana sambil bertanya, “Mba nya sedang cari siapa ya?”. Tanya ibu tersebut. “Ibu lihat-lihat dari tadi mba nya kaya sedang mencari seseorang”. Tambanya lagi. Hana pun menjawab, “Hehehe iya bu, aku sedang mencari teman, kalau boleh tahu aku mau tanya, tadi ibu lihat perempuan yang memakai seragam kaya gini gak bu?”. Lalu ibu itu pun menjawab “Ohhh yayaya”, kalau ga salah anak itu sudah masuk ke dalam sekolah sambil lari-lari, mungkin dia takut gerbang sekolahnya keburu di tutup”. Setelah tahu Hana langsung cepet-cepet lari menuju ke sekolah, takut nanti keburu pintu gerbangnya di tutup. Hana tak lupa juga mengucapkan terima kasih kepada ibu-ibu tersebut.

    Akhirnya Hana tiba juga di depan pintu gerbang sekolah nya, pada saat ia tiba di depan pintu gerbang tersebut, sudah dalam keadaan di tutup rapat oleh pak satpam, mau gka mau Hana harus nunggu di luar sampai pintu gerbang tersebut akan dibuka oleh pak satpam. 


Penulis : Siti Atikotul Farikah

Mahasiswi KIP-K angkatan 2025


TAKDIR YANG TERPILIH

               "Belajar yang sungguh-sungguh, ya! Kalau Luna dapat peringkat pertama di kelas, nanti Ayah belikan boneka beruang yang b...