Kisah ini bermula saat seorang perempuan yang bernama Farihana Aqila Nafida, perempuan itu biasa dipanggil Hana ia lahir sudah 19 tahun yang lalu, ia memiliki hobby menulis diary dan membaca novel fiksi. Hana semasa remaja nya mempunyai teman sebut saja namanya Lida. Dulu Hana sangat baik terhadap Lida, bahkan sudah menganggap Lida itu seperti saudara sendiri. Karena sudah berteman dari kecil sampai jenjang Menengah Pertama, entah kebetulan atau takdir sejak TK. Sampai saat itu, mereka berdua selalu sekolah ditempat yang sama dan anehnya mereka berdua juga selalu satu kelas. Tapi oh tapi, sikap Lida malahan membuat Hana sangat-sangat kecewa. Pada waktu itu Hana hanya bisa ditakdirkan sekolah saja, sedangkan Lida ditakdirkan sekolah sama tinggal di pondok pesantren. Di pesantren Lida, santri-santrinya tidak diperboleh membawa handphone dan kendaraan. Pada waktu itu sekolah mengadakan Class Meeting, dan memperbolehkan para siswanya membawa handphone ke sekolah. Pada saat itu, kebetulan Hana sudah mempunyai handphone, hadiah dari kedua orang tuanya, karena berkat Hana yang selalu belajar dengan sungguh-sungguh tanpa malas-malasan, akhirnya ia bisa masuk peringkat 5 besar di kelasnya.
Dan pada waktu itu Lida tidak membawa handphone, karena di pesantrennya tidak memperbolehkan para santri untuk membawa handphone. Pada saat Class Meeting Lida tidak membawa handphone sendiri, akhirnya Hana mempunyai inisiatif untuk meminjami handphone nya ke Lida, karena Hana merasa kasihan kepada Lida. Sebab teman-teman kelasnya banyak yang main handphone, ada yang mabar, tiktok-kan, fotbar, dll. Mungkin bagi mereka ini kesempatan yang tidak akan datang untuk yang kedua kalinya, bisa membawa handphone ke sekolah. Setiap berangkat atau pulang sekolah Hana hampir sering diantar jemput Lida, ia tanpa meminta imbal balik, itu berlangsung saat Lida tinggal di pesantren.
Suatu hari Hana dan Lida berangkat ke sekolah bareng, dan pada saat itu, kebetulan Lida sedang pulang ke rumah karena ada acara keluarga. Namun, Lida meminta di anterin dulu ke pesantrennya karena mau ambil kaos olah raga-nya yang ketinggalan. Setelah itu, Lida langsung jalan keluar menuju pintu gerbang samping pundok putri untuk menemui Hana lagi, dan langsung berangkat ke sekolah. Sebelum-nya Hana sudah menyalakan motornya, dan langsung tancap gas untuk berangkat menuju ke sekolah.
Sesampainya di parkiran Hana lupa kalau dia belum beli kaos kaki, karena kaos kakinya sudah longgar makanya dia mau ganti kaos kaki. Saat Hana sedang jalan menuju ke sekolah di samping jalan kebetulan ada foto copy yang sudah buka, jadi Hana nyuruh Lida tungguin sebentar ditepi karena ia mau beli kaos kaki. Saat itu Lida juga mau nitip beliin bolpoin, katanya isinya sebentar lagi mau habis, akhirnya dia nitip Hana yang sekalian mau mampir ke foto copy. Hana langsung buru-buru masuk ke toko foto copy-nya, dan ia langsung membeli apa yang diinginkan, setelah dapet Hana langsung antri buat bayar ke kasir, setelah itu ia langsung keluar dari toko.
Tapi apesnya waktu itu, bel sudah menunjukkan pukul 06.54, dan gerbang sebentar lagi akan segera ditutup, Saat itu pada saat mau menyebrang Hana tidak mendenger suara bel sama sekali karena mungkin jarak ia masih jauh. Tapi Lida, dia mungkin mendengar bel tersebut sehingga Lida langsung lari menuju ke sekolah agar dia bisa masuk sebelum gerbang itu akan ditutup. Pas Hana sudah nyebrang ia baru ngeh kalau Lida tidak ada ditempat, Hana menoleh sana-sini mencari keberadaan Lida kemana, di tengah Hana mencari keberadaan nya Lida. Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang lewat di sampingnya Hana sambil bertanya, “Mba nya sedang cari siapa ya?”. Tanya ibu tersebut. “Ibu lihat-lihat dari tadi mba nya kaya sedang mencari seseorang”. Tambanya lagi. Hana pun menjawab, “Hehehe iya bu, aku sedang mencari teman, kalau boleh tahu aku mau tanya, tadi ibu lihat perempuan yang memakai seragam kaya gini gak bu?”. Lalu ibu itu pun menjawab “Ohhh yayaya”, kalau ga salah anak itu sudah masuk ke dalam sekolah sambil lari-lari, mungkin dia takut gerbang sekolahnya keburu di tutup”. Setelah tahu Hana langsung cepet-cepet lari menuju ke sekolah, takut nanti keburu pintu gerbangnya di tutup. Hana tak lupa juga mengucapkan terima kasih kepada ibu-ibu tersebut.
Akhirnya Hana tiba juga di depan pintu gerbang sekolah nya, pada saat ia tiba
di depan pintu gerbang tersebut, sudah dalam keadaan di tutup rapat oleh pak
satpam, mau gka mau Hana harus nunggu di luar sampai pintu gerbang tersebut
akan dibuka oleh pak satpam.
Penulis : Siti Atikotul Farikah
Mahasiswi KIP-K angkatan 2025
