Cinta tidak selalu berupa pernyataan yang heboh atau pelukan yang menuntut kepemilikan. Sering kali, ia justru hadir dalam diam dan menjadi dialog panjang yang terus tersimpan di kepala tanpa pernah terucap. Cinta tidak butuh pengakuan dari dunia luar. Ia justru hidup dan menghidupi dirinya sendiri, merawat debar jantungnya dalam diam. Sendirian, tanpa pernah meminta balasan.
Bagi Kinara, diam bukan berarti ketiadaan suara, melainkan sebuah bahasa baru yang ia pelajari secara otodidak selama beberapa waktu terakhir yang ia sendiri tidak tahu kapan pastinya. Entah baru beberapa hari terakhir, atau justru hatinya telah lebih dulu melakukannya jauh sebelum ia sempat menyadari?
Seperti biasa, suasana kelas begitu hening. Para santri sibuk memahami isi sebuah kitab sebelum menghadapi ujian beberapa menit lagi. Namun, satu kejadian kecil mampu mengacaukan fokus Kinara. Tanpa sengaja, matanya bertemu dengan sepasang mata milik lelaki yang tengah berdiri di depan kelas dan mengawasi para santri. Seorang santri senior yang dipercaya oleh para ustaz untuk membantu mengajar, menggantikan salah seorang ustaz ketika sedang berhalangan.
Kinara buru-buru menunduk, kembali melihat kitabnya. Ia membaca satu baris yang sama hingga beberapa kali, namun tidak ada satu kata pun yang dapat ia pahami, membuatnya menghela napas gusar.
"Allah... kenapa jantungku berisik banget, ya? Ya Allah, rasanya kayak lagi dikejar-kejar anjing. Padahal tadi cuma nggak sengaja saling natap, kan? Hal yang biasa," batin Kinara bergemuruh.
Satu tangannya terkepal lemah, Kinara memukul pelan kepalanya. Fokusnya masih terbelah. Bayangan temu tatap yang tidak disengaja tadi masih menguasai seluruh isi pikirannya. Untuk sesaat, Kinara hanya diam sambil memandangi sebuah kitab yang terbuka di hadapannya. Kini, ia memilih untuk menenangkan pikirannya lebih dulu.
Setelah dirasa lebih tenang, Kinara mengambil napas dalam. "Ayo fokus belajar dulu, Kinara. Bentar lagi ujiannya dimulai. Bismillah..." Kinara kembali menata pikirannya.
Ujian kali ini terasa sedikit lebih berat bagi Kinara. Bukan karena tidak memahami isi kitab yang diujikan, tetapi karena fokusnya terbagi, membuatnya beberapa kali keliru saat menjawab soal, meskipun pada akhirnya ia bisa kembali menemukan jawaban yang benar ketika membaca ulang soal.
Kinara keluar dari ruang kelas dengan pikiran yang masih berkecamuk. Langkahnya membawanya sampai pada teras masjid. Ia duduk termenung, pandangannya lurus menatap beberapa santri yang berlalu-lalang di halaman pesantren. Namun, pikirannya kembali mengingat hal kecil yang sempat mengacaukan konsentrasinya di dalam kelas.
"Ah, nggak usah mikirin hal yang nggak jelas, Kinara. Tadi cuma nggak sengaja saling tatap, kok. Nggak ada yang aneh. Itu wajar. Dia kan mengawasi semua santri di dalam kelas tadi. Pokoknya kamu harus fokus di ujian kali ini, biar besok bisa kuliah di kampus impian kamu!" Kinara tersenyum simpul, mengalihkan pikirannya.
Pembelaan diri yang dibangun oleh Kinara sore itu sempat bertahan cukup kokoh. Setidaknya sampai keesokan harinya, ketika semesta kembali mengujinya lewat sebuah kebetulan yang sangat tidak tahu diri.
Siang itu, koridor menuju perpustakaan santri putra yang batasnya hanya dipisahkan oleh sekat taman yang cukup sepi. Kinara berjalan setengah berlari sambil memeluk tiga kitab tebal yang harus segera ia kembalikan.
Konsentrasi Kinara sepenuhnya tertuju pada jalanan berbatu di bawahnya, sampai sebuah bayangan tinggi melangkah berlawanan arah dengannya di seberang pembatas taman.
Itu... Hasbi, pemilik sepasang mata yang mampu mengalihkan seluruh fokusnya di dalam kelas kemarin sore.
Langkah Kinara mendadak melambat tanpa disadari. Jantungnya, yang kemarin sore sudah ia tenangkan dengan susah payah, kini kembali berdegup kencang.
Ketika jarak mereka hanya tersisa beberapa langkah, Hasbi menoleh sedikit. Berbeda dengan tatapan tegas saat mengawasi ujian kemarin, kali ini raut wajah santri senior itu tampak lebih santai, lebih teduh. Hasbi mengangguk kecil sebagai isyarat sopan yang biasa dilakukan sesama santri saat berpapasan.
"Mari, Mbak Kinara," sapa Hasbi singkat.
Kinara tertegun sedetik sebelum buru-buru menundukkan pandangannya ke arah sandal jepit yang ia pakai. "Ngg-gih, Mas," jawabnya lirih, suaranya sedikit gemetar.
Interaksi itu tidak sampai tiga detik. Hasbi terus melangkah lurus tanpa menoleh lagi. Namun bagi Kinara, tiga detik itu sudah cukup untuk membuat tembok penyangkalan yang ia bangun semalaman perlahan mulai retak.
Langkah Kinara terhenti sejenak setelah Hasbi menjauh beberapa meter. Ia mengeratkan pelukannya pada kitab-kitab di dadanya, mencoba menyembunyikan debar yang perlahan muncul.
Kinara diam sejenak, menarik napas tanpa sadar. "Wangi kasturi..." gumamnya lirih, namun buru-buru menggeleng. "Eh! Astaghfirullah... sadar, Kinara!" gerutunya, memukul kepalanya pelan. Ia kembali berjalan tergopoh-gopoh menuju perpustakaan.
Dan begitulah Kinara menghabiskan hari-hari berikutnya yang terjebak dalam siklus melelahkan antara menyangkal sebuah rasa dan merutuki dirinya sendiri. Namun, penyangkalan itu perlahan terus terkikis ketika kebetulan-kebetulan yang lain selalu datang tanpa diduga.
Kebetulan berikutnya datang seminggu setelahnya, di bawah atap aula pesantren yang riuh oleh persiapan acara khataman. Kinara tengah sibuk menyusun teks pembawa acara ketika ia mendengar suara bariton yang sayangnya kini mulai familier di telinganya. Hasbi tengah berdiri beberapa meter dari tiang aula, memberikan instruksi kepada santri-santri junior dengan pembawaannya yang tenang.
Kali ini, tidak ada temu tatap. Kinara hanya diam di tempatnya dan membiarkan matanya mencuri pandang, terlindung oleh beberapa santri yang sibuk menata kursi. Ia mulai memperhatikan bagaimana cara Hasbi tersenyum tipis saat menghargai kerja keras adik kelasnya. Hatinya tanpa sadar menghangat.
Namun, rasa hangat itu perlahan surut, digantikan oleh kegelisahan yang tiba-tiba menguasainya.
Kinara terdiam cukup lama. "Gimana kalau dia udah punya someone special di hidupnya...?"
Pikiran itu datang tanpa permisi. Jemarinya tanpa sadar meremas pulpen yang dipegangnya. Hasbi adalah santri senior yang cerdas, berwibawa, dan dihormati. Kinara tahu, ada banyak sekali santriwati yang mengagumi bahkan menyukai Hasbi. Rasanya tidak mungkin jika belum ada seseorang yang mengisi hatinya. Atau bahkan mungkin... sebuah nama yang sudah disiapkan oleh kyai untuk bersanding dengannya di masa depan.
Kenyataan itu menampar Kinara cukup keras. Mendadak dadanya terasa sesak oleh sebuah rasa kehilangan yang aneh. Padahal ia tahu, ia bahkan belum pernah memiliki apa pun.
“Kenapa rasanya jadi kayak ketindihan batu segede gaban begini, sih? Sesak banget,” monolognya dalam hati.
Di tengah riuhnya aula, Kinara tenggelam dalam dunianya sendiri. Ia akhirnya menyadari sesuatu. Ketika ia telah memilih untuk diam, maka ia harus siap dengan kemungkinan bahwa Hasbi mungkin telah lebih dulu menyukai orang lain.
Rasa takut itu akhirnya menemukan titik damai pada malam Senin, saat gerimis membasahi tanah sekitar pesantren. Kinara yang baru saja selesai menyetorkan hafalan surah Al-Mulk, berjalan di koridor terbuka yang langsung menghadap ke halaman masjid.
Di seberang sana, di bawah temaramnya lampu teras, ia melihat Hasbi berjalan menembus gerimis, melindungi sebuah kitab suci dalam pelukannya agar tidak basah terkena air.
Sejenak, Kinara menghentikan langkahnya. Memandangi punggung Hasbi yang perlahan menghilang di balik pintu utama aula. Rasa takut yang menyiksanya selama beberapa hari terakhir ini perlahan mulai berganti menjadi sebuah rasa ikhlas.
Udara malam terasa dingin. Namun, Kinara justru kembali merasakan ketenangan yang sempat menghilang dari hatinya selama beberapa hari terakhir. Ia akhirnya berhenti melawan dirinya sendiri.
"Nggak apa-apa, Kinara," bisiknya dalam hati. "Sedih itu wajar. Tapi kamu tetap nggak punya kuasa tentang dia. Dia punya hak untuk nentuin pilihannya sendiri. Dan... harusnya nggak masalah kalau sampai kapan pun posisi kita cuma seperti ini—sebatas santri senior yang mengawasi, dan santri biasa yang diawasi. Rasa ini tumbuh di hatiku. Jadi, biar aku saja yang bertanggung jawab untuk menjaganya tetap suci."
Kinara menengadah, menatap langit malam yang masih menurunkan rintiknya. "Dari awal, aku menyangkal terus. Tapi setiap aku menyangkal... aku malah makin kepikiran," gumamnya, hampir tersenyum. "Mungkin... seperti ini rasanya menyukai seseorang?" Ia terkekeh sesaat sebelum kembali menatap ke depan.
Kinara mengambil napas perlahan, "Allah... jaga aku dan perasaan ini supaya tetap suci. Jangan sampai aku kelepasan. Tuntun aku untuk merawat perasaan ini tanpa menyalahi aturan-Mu. Dan... ingatkan aku selalu supaya aku nggak mencintai seseorang melebihi cintaku pada-Mu."
Kinara menunduk, memandangi jemarinya yang saling bertaut di balik mukena. Perlahan ia membiarkan senyum yang paling tulus terbit di bibirnya. Ia sadar, membiarkan nama Hasbi untuk menetap di hatinya adalah keputusan yang hening. Namun, ia tidak peduli bagaimana akhir kisahnya nanti. Baginya, rasa yang terlanjur ada ini tidak perlu dihapus. Cukup disimpan rapat dalam hati, menjadi satu rahasia kecil yang tidak perlu diketahui oleh siapa pun.
Tanpa pernah Kinara ketahui, di seberang tembok pembatas asrama, ada hati lain yang juga menjaga rahasia dengan cara yang sama. Keesokan paginya, saat aroma khas tanah basah sisa hujan semalam masih tertinggal, Hasbi berdiri di koridor kantor asaatidz setelah mengembalikan sebuah kitab yang sempat ia pinjam pada seorang ustaz.
Pembawaannya tetap seperti biasa yang selalu diam dan tenang. Matanya menatap lurus ke arah halaman, menyaksikan para santri yang berjalan beriringan menuju aula. Namun, di antara kerumunan itu, pandangannya tanpa sadar terhenti pada Kinara yang berjalan paling belakang sambil menunduk.
Untuk beberapa saat, Hasbi sempat mengamati dalam diam. "Mataku selalu menemukannya tanpa perlu mencari."
Hasbi sudah menyadari perubahan itu sejak awal. Ia bukan sekadar mengagumi ketekunan seorang santriwati. Hasbi sadar, belakangan ini ada satu nama yang hampir setiap saat muncul di pikirannya. Kinara.
Hasbi tahu rasa itu ada. Ia tidak menyangkal. Tapi, sebagai seorang santri, Hasbi paham betul ada batas yang harus dijaga. Ia tidak ingin perasaannya membuatnya kehilangan kendali dan bersikap yang tidak semestinya kepada Kinara.
Hasbi mengalihkan pandangannya dari halaman, lalu berjalan menuju masjid untuk menunaikan salat duha.
"Jika memang takdirnya untukku, jagalah dia. Jika bukan, matikan rasa ini sebelum menjadi fitnah," bisik Hasbi dalam hati, singkat dan tenang. "Biar sisanya menjadi urusan-Mu."
Helaan napas pendeknya menyertai langkah itu, sarat akan kepasrahan. Hasbi kembali menyerahkan segala debar dan ketidakpastian itu kepada Pemilik Hati. Ia tidak butuh jawaban dari Kinara, tidak juga butuh ruang untuk mengungkapkan. Baginya, membiarkan perasaan itu layu atau tumbuh adalah urusan Allah. Tugasnya hanya memastikan bahwa diamnya ini tidak menodai kehormatan gadis itu sedikit pun.
Oleh: Imaniatul Faizah
Mahasiswa penerima KIP-K angkatan 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar