Liora Halimera adalah Perempuan yang lahir dan besar di desa kecil, jauh dari keramaian kota. Hidupnya sederhana, tenang, tapi penuh tuntutan untuk menjadi kuat. Sejak kecil, Liora tinggal bareng kakek dan neneknya. Ibunya meninggal saat dia masih bayi, dan dari merekalah Liora belajar disiplin, mandiri, dan punya mimpi yang tinggi.
Suatu hari, Liora memutuskan untuk pergi merantau ke kota demi melanjutkan pendidikannya. Kampus yang dia masuki bukan kampus impian, jurusannya pun bukan yang dia inginkan sejak awal. Tapi Liora selalu percaya, Tuhan tidak mungkin salah memberikan jalan hidup seseorang.
Di semester satu, Liora menjadi anak yang pendiem, tidak banyak berbicara, lebih sering memperhatikan sekitar. Selain itu, dia juga harus memaksakan diri untuk menerima jurusan yang sebenernya tidak dia pilih. Padahal sebenarnya, Liora tipe orang yang tidak bisa diem. Tetapi setiap di lingkungan dan teman baru, dia butuh adaptasi awalnya saja dia diam tapi nanti setelah sudah merasa nyaman dia akan membaur, dia sebenarnya anaknya asik asal harus ada teman aja.
Untungnya, dia bertemu Diandra. Orang pertama yang mengajak berbicara, karena hal itu Liora tidak merasa sendirian. Diandra itu anaknya baik, kalem, dan sama-sama pendiem. Tapi justru dari situ, Liora mulai merasa aman dan nyaman sama Diana.
Pelan-pelan, Liora mulai ikut beberapa organisasi. Di sanalah dia bertemu orang-orang baru, ketawa tanpa beban, dan merasa hidupnya tidak sesepi itu.
Tapi semester satu tetep jadi fase paling berat buat Liora. Di masa itu, neneknya meninggal. Orang yang paling dia sayang. Hari-hari menjadi terasa lebih lama, capek, dan sunyi. Dia merasa jalan sendirian, tanpa ada yang mengarahkan. Yang dia tau cuma satu dia harus jadi orang sukses dan bisa buat keluarganya bangga.
Walaupun hidupnya tidak sesuai sama yang dia impiin, Liora selalu berusaha untuk bersyukur.
Sampai akhirnya dia ketemu Humaira. Temen yang paling dia sayang. Hidup mereka mirip sekali. Bedanya, Liora kehilangan ibu sejak bayi, sedangkan Humaira kehilangan ayahnya sejak SD. Karena nasib yang hampir sama, mereka menjadi dekat tanpa perlu banyak usaha.
Buat Liora, Humaira bukan sekadar temen. Dia sudah anggap seperti kakak sendiri. Tempat cerita tanpa takut dihakimi. Mereka sering mengobrol apa aja mulai dari keluarga, luka masa lalu, sampe soal percintaan yang anehnya selalu mirip.
Umur mereka beda dua tahun, tapi setiap ngobrol sesalu nyambung.
Suatu hari, mereka lagi ngobrol santai.
“Kak Ra, kakak ngerasa nggak sih?” kata Liora. “Kayaknya kita temenan tuh bukan kebetulan.”
“Iya ihh,” jawab Humaira sambil ketawa. “Mirip banget. Pantes nyambung terus. Sama-sama bulol daddy issue pula,” katanya ngakak.
“Gilaa emang lo,” balas Liora.
“Udah ah,” lanjut Liora. “Nggak usah bahas yang sedih-sedih. Bahas yang happy aja.”
Humaira melamun sebentar.
“Gue tuh bingung, Li. Gue kerja tiap hari isinya cewek semua, umur gue udah 20-an. Jodoh gue ketemu di mana, ya?”
“Di lampu merah kali,” jawab Liora cepet. “Tiba-tiba nyapa, ‘Mbak, namanya siapa?’” Liora ketawa.
“Gilaaa, yakali,” kata Humaira. “Gamau ah. Maunya sama mas Halim aja.”
“Halah, orang nggak pernah ketemu juga,” Liora nyeletuk. “Gimana mau deket? Mau gue ceramahin juga lo nggak mau.”
“Lah lo juga sama,” Humaira ngebales. “Disuruh move on kagak move on. Udah tau sekarang orangnya udah punya pacar.”
“ih apaan dah,” Liora ngedumel. “Setidaknya gue pernah diajak jalan sama makan bareng sebelum kita nggak ketemu lagi. Perasaan gue wajar lah. Gue juga udah usaha move on, kali.”
“Boong,” Humaira ngakak. “Kadang aja lo masih nanya, ‘Gimana ya kalo tiba-tiba gue ketemu dia di jalan?’ atau ‘Ih kok mirip dia?’ gila emang lo.”
“STOP. CUKUP,” potong Liora. “Gue emang gila. Udah ah, gue mau move on. Nggak mau ngarep lagi.”
“Halah,” kata Humaira. “Sekarang ngomong gitu, besok juga ‘gimana ya, gimana ya.’ Dasar lo.”
“Awas aja,” kata Liora setengah kesel. “Kalo gue udah move on nanti, gue beneran nggak mau ngarepin dia lagi.”
Humaira cuma ketawa.
Sementara Liora diem, mikir entah soal masa lalu, atau soal dirinya yang pelan-pelan belajar buat melepaskan saja.
Suatu hari, Liora dan Humaira pergi ke pantai. Angin laut berhembus pelan, ombak datang dan pergi dengan tenang. Di tengah suasana itu, Liora tiba-tiba nyeletuk.
“Kak Hum… kira-kira jodohku nanti kayak gimana ya?” gumam Liora sambil menatap laut.
“Yahh gue juga nggak tau kali, Li. Gue aja udah umur segini belum nemu-nemu,” jawab Humaira dengan nada sedikit kesal.
“Lo mah masih bisa ketemu cowok di kampus atau di mana gitu. Lah gue? Keluar rumah aja jarang. Kalo nggak sama lu, gue nggak ke mana-mana. Mending di rumah,” lanjutnya.
“Yaa iya sih… gue emang masih bisa nemu yang cocok nantinya,” kata Liora pelan.
“Cuma takut aja, Kak. Takut kalo udah nemu, tapi dia nggak bisa nerima kurang-lebihnya gue. Gue ngerasa masih banyak kurangnya, belum cukup baik buat seseorang,” ucapnya dengan nada sedih.
Humaira langsung menoleh.
“Halah, udah nggak usah mikir gitu, Li. Lo tau nggak? Kita tuh bakal keliatan sempurna di mata orang yang tepat,” katanya meyakinkan.
“Tuhan tau mana yang baik buat kita dan mana yang enggak. Yang kadang kita pengen banget tapi nggak dapet, bukan berarti kita nggak cukup baik—tapi karena Tuhan lagi nyiapin yang jauh lebih baik dari yang kita pikirin.”
“Yaa… gimana ya, Kak. Gue overthinking aja,” jawab Liora.
“Takut banget kalo milih pasangan terus salah pilih. Gilaa, seumur hidup itu lama banget. Semoga aja gue ketemu orang yang baik, yang sayang sama gue, nerima kekurangan dan kelebihan gue. Lo juga ya, Kak. Yang baik segalanya,” tambahnya.
Humaira tersenyum kecil.
“Lo udah move on beneran kan, Li, dari Farhan?”
“Udah ah, nggak mau bahas dia lagi, Kak,” jawab Liora cepat.
“Mau move on beneran. Gue nggak mau mikirin dia lagi. Lagian dia udah punya pacar, ngapain juga gue ngarep. Gila kali,” katanya sambil mengibaskan tangan.
Humaira terkekeh.
“Tumben pinter lu. Biasanya agak tolol,” godanya.
“Biasanya jawab lo tuh: ‘ya gas aja sebelum janur kuning melengkung, gue nggak ganggu dia, masih bisa ditikung jalur langit.’ Tapi gue seneng, Li. Lu udah bisa move on.”
“Ya gimana ya… kayaknya emang udah nggak ada perasaan sih, Kak,” kata Liora santai.
“Biasa aja sekarang. Biarin aja dia sama pacarnya. IG Gue di-unfollow sama dia..kayaknya di-unfollow pacarnya deh. Padahal gue nggak ganggu mereka sama sekali. Apa pacarnya cemburu ya karena gue pernah deket?”
“Kayaknya iya kali,” jawab Humaira sambil ketawa.
“Udahlah, keren berarti. Lu bisa bikin pacarnya aja sampe cemburu.”
Liora ikut tertawa.
“Udahlah, Kak. Gue udah move on juga kok. Tapi emang dulu gue segila itu ya? Nggak ada hubungan apa-apa aja move on-nya sampe tiga tahun. gilee emang,” katanya sambil tertawa terbahak-bahak.
“Sekarang gue lega banget, Kak. Rasanya plong. Nggak ada beban hidup.”
Mereka lanjut mengobrol sampai tidak tau sekarang jam berapa, karena terlalu asik. Setelah bertemu dengan Humaira, Liora menjalani hidupnya seperti biasa dan menjali kuliah dengan lapang dada walaupun masih ada sedikit rasa belum ihklas tapi dia tetap menjalaninya.
Penulis: Lutfia Marisatul Ula
Mahasiswa KIP-K angkatan 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar