Sabtu, 05 September 2026

ES KRIM, MIE AYAM, DAN HARI JUMAT

 



Suatu hari, Liora merenung sendirian di kamar tidurnya. Ia merasa kesepian dan tidak memiliki teman untuk diajak mengobrol. Dalam keheningan itu, pikirannya melayang ke masa kecil. Ia tersenyum kecil ketika menyadari bahwa dirinya ternyata masih sama seperti dulu, masih menyukai es krim dan mie ayam.

Kenangan itu membawanya pada hari yang selalu ia tunggu setiap minggu, yaitu hari Jumat. Saat masih kecil, Jumat adalah hari yang paling istimewa baginya karena pada hari itulah ia bisa bertemu dengan ayahnya.

Dalam lamunannya, Liora membayangkan kembali percakapan yang sering terjadi antara dirinya dan sang ayah.

"Ayah, nanti ke sini nggak?" tanya Liora kecil melalui telepon.

"Iya, nanti Ayah ke sana. Kamu mau Ayah bawakan jajan apa?" jawab Ayah.

"Hmm, apa ya, Yah? Bingung."

"Mau es krim? Sate? Atau yang lain?"

"Benar banget! Liora mau es krim, Yah!"

"Sudah Ayah duga. Kamu pasti maunya es krim. Mau yang apa? Paddle Pop atau yang lain?"

"Enggak mau Paddle Pop, ah. Liora kurang suka. Mau Magnum yang ada kacangnya, ya, Yah."

"Baiklah. Mau beli apa lagi? Es krim saja?"

"Iya, es krim saja."

Tak lama kemudian, Ayah tiba di rumah kakek dan nenek Liora dengan motor Supra kesayangannya.

"Yeay! Es krim-nya datang! Ayah, mana es krim-nya? Liora mau es krim!" seru Liora dengan wajah penuh kegembiraan.

"Tunggu dulu, Li. Ayah baru sampai. Bukannya tanya kabar Ayah, malah tanya es krim," ujar Ayah sambil tertawa.

"Nah, itu kan sudah Liora tanyakan, Yah. Tanyanya es krim-nya mana," jawab Liora sambil terkekeh.

"Ada-ada saja kamu. Es krim terus yang dipikirkan."

"Biarin, Yah. Soalnya enak. Daripada Paddle Pop, Liora nggak suka."

"Kamu tahu saja mana yang enak. Mau beli mie ayam juga nggak?"

"Mau banget!"

"Kalau begitu, habiskan dulu es krim-nya. Nanti kita jalan-jalan naik motor lalu beli mie ayam."

"Siap, Yah!"

Beberapa saat kemudian, es krim itu pun habis.

"Ayah! Ayo beli mie ayam! Es krim-nya sudah habis!" teriak Liora penuh semangat.

"Ayo!" jawab Ayah sambil menyalakan motor.

Liora segera naik ke motor.

"Gasss, Ayah!"

"Li, mau beli mie ayam dulu atau jalan-jalan dulu?"

"Beli mie ayam dulu, dong!"

"Baiklah, ayo."

Di sepanjang perjalanan menuju warung mie ayam, Liora tidak berhenti berbicara. Ia menceritakan apa saja yang dilihatnya di jalan, mulai dari kendaraan yang lewat, pohon-pohon di pinggir jalan, hingga hal-hal yang terkadang sulit dimengerti. Ayah hanya bisa tersenyum dan sesekali menggelengkan kepala.

Bagi Ayah, jika Liora tiba-tiba diam, itu berarti ia tertidur. Namun, karena jarak menuju warung mie ayam tidak terlalu jauh, hampir mustahil Liora tertidur di perjalanan.

Sesampainya di warung mie ayam, Ayah bertanya, "Mau makan di sini atau dibungkus, Li?"

"Seperti biasa, dibungkus saja, Yah."

"Baik."

Penjual mie ayam menghampiri mereka.

"Mau pesan berapa, Pak?"

"Dua porsi, Pak. Seperti biasa, yang satu tanpa ayam."

Penjual langsung tertawa.

"Pasti yang tanpa ayam buat Liora, ya? Masih belum suka ayam, Li?"

"Belum, Pak," jawab Liora sambil tersenyum malu.

"Aneh memang kamu. Mie ayam kok tanpa ayam," canda penjual.

Liora hanya tertawa kecil.

Beberapa menit kemudian, pesanan mereka selesai.

"Ini, Pak. Dua porsi mie ayam. Yang satu tanpa ayam," kata penjual sambil tersenyum ke arah Liora.

"Terima kasih, Pak. Berapa semuanya?" tanya Ayah.

"Dua puluh ribu rupiah, Pak."

"Ini pas, Pak."

"Baik, terima kasih."

Setelah itu, Liora dan Ayah segera pulang untuk menikmati mie ayam bersama di rumah.

Liora memang anak yang unik sejak kecil. Ia tidak suka ayam meskipun sangat menyukai mie ayam. Ia juga tidak suka makan di tempat dan selalu meminta makanannya dibungkus untuk dibawa pulang. Masih banyak kebiasaan lain yang menurut orang-orang terdengar aneh, tetapi itulah Liora.

Lamunan itu perlahan berakhir. Liora kembali tersadar bahwa semua kenangan tadi hanyalah potongan masa kecil yang tersimpan rapi di dalam ingatannya. Namun, satu hal yang tidak pernah berubah adalah rasa bahagia yang selalu muncul setiap kali ia mengingat hari-hari Jumat bersama sang Ayah.

Kini, Liora sudah tumbuh dewasa. Banyak hal dalam dirinya yang berubah seiring waktu. Jika dulu ia selalu memesan mie ayam tanpa ayam karena tidak menyukainya, sekarang ia sudah menikmati mie ayam lengkap dengan potongan ayamnya. Meski begitu, ada satu hal yang tidak pernah berubah, kecintaannya pada es krim. Setiap kali menikmati es krim atau semangkuk mie ayam, kenangan tentang Ayah selalu hadir di benaknya.

Baginya, hari Jumat bukan sekadar tentang es krim atau mie ayam. Hari Jumat adalah tentang waktu, perhatian, dan kasih sayang seorang ayah yang selalu berusaha membuat putrinya bahagia. Kenangan itu mungkin telah berlalu, tetapi akan selalu hidup di dalam hatinya.

Karena itulah, hingga hari ini, setiap kali hari Jumat datang, Liora selalu tersenyum. Sebab di balik hari itu tersimpan kenangan sederhana yang begitu berharga, perjalanan dengan motor Supra, es krim favorit, semangkuk mie ayam, dan kebersamaan dengan Ayah yang akan selalu ia rindukan. 

 

Penulis : Lutfia Marisatul Ula 

Mahasiswa KIP-K angkatan 2024

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ES KRIM, MIE AYAM, DAN HARI JUMAT

  Suatu hari, Liora merenung sendirian di kamar tidurnya. Ia merasa kesepian dan tidak memiliki teman untuk diajak mengobrol . Dalam kehenin...